Sabtu, 28 Desember 2013

Sumpah Pemuda Belum Selesai

 
Sumpah Pemuda 1928. Dalam rentang waktu 85 tahun ini bangsa Indonesia tiada henti berusaha me­maknai deklarasi anak-anak muda yang ketika itu begitu menggetarkan. Menggetarkan bagi masyarakat Indonesia yang sebagian besar belum terpikirkan sama sekali tentang identitas sebuah nation. Perlawanan yang menggetarkan bagi kolonialisme. Masihkah Sumpah Pemuda menggetarkan bagi anak-anak bangsa se­karang ini?
Deklarasi sebagai sebuah komunitas multietnis yang bertumpah darah satu, berbangsa satu, dan menjunjung bahasa persatuan, Indonesia, adalah sebuah terobosan luar biasa pada zamannya. Politik identitas Indonesia itu berhasil me­nembus pertarungan ideologi-ideologi yang meminggirkan pemikiran yang menempatkan spirit komunitas kebangsaan multietnis sebagai sentral elan vital meski tidak dalam satu rumusan ideologis.

Indonesia yang multietnis sudah ditegaskan dalam peristiwa dekla­rasi di Jalan Kramat Raya nomor 106 Ja­karta Pusat (sekarang menjadi Mu­seum Sumpah Pemuda), yang pada waktu itu adalah milik seorang Tiong­hoa bernama Sie Kong Liong. Menye­diakan tempat untuk gerakan perla­wanan butuh keberanian, dan itu dila­kukan seorang warga Tionghoa. Satu Indonesia benar-benar diperjuangkan dalam kebersamaan dan keragaman sejak dari rahim awalnya.

Konteks Sumpah Pemuda yang sedemikian kaya dengan makna manusia universal dalam identitas kebangsaan itu melingkupi teks Sumpah Pemuda melampaui zamannya. Kita memang perlu terus menyegarkan pemahaman tentang konteks Sumpah Pemuda, agar inti pesan yang visioner itu tidak tertelan derasnya problematika yang menerpa bangsa. Situasi saat ini jauh lebih sulit karena yang dilawan adalah kolonialisme oleh bangsa sendiri.

Korupsi, penyelewengan hukum, penindasan struktural, dan sederet masalah besar dapat menggerogoti pemahaman generasi saat ini tentang makna keindonesiaan. Tanyakan ke­pada para anak muda, apa arti Sum­pah Pemuda bagi mereka, jawaban yang muncul sebagian besar akan bersumber dari teks hafalan, yang mungkin juga tidak semuanya benar secara tekstual. Kalimat “bertumpah darah” bagi Indonesia serasa sangat jauh dari diri sendiri.

Di sinilah letak urgensi kontekstu­alisasi Sumpah Pemuda, yakni bangga menjadi Indonesia dalam arti sedalam-dalamnya. Persoalan-persoalan bangsa telah menumbuhkan sinisme pada sebagian besar ma­syarakat, terutama kalangan muda. Sumpah Pemuda bisa menjadi jawaban bagi sinisme itu. Mengutip puisi Chairil Anwar, “Kami sudah coba apa yang kami bisa. Tapi kerja belum selesai, belum apa-apa.” Itulah semangat Sumpah Pemuda untuk masa kini dan masa depan.

sumber: suaramerdeka.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar