Sabtu, 28 Desember 2013

Bahaya Invasi Pemikiran

brainwash 660x330 Bahaya Invasi Pemikiran

(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: “Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah. Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya ruh (ciptaan)-Ku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya” (Shaad, 38 : 71-72)

Ayat di atas menggambarkan kepada kita bahwa pemikiran Islam tentang manusia adalah pemikiran yang seimbang dan adil, yang memandang manusia sebagai makhluk yang dimuliakan yang memiliki ‘tabiat ganda’. Ia adalah “tubuh” dan “ruh”, atau ia adalah “ruh” yang bertempat tinggal di dalam suatu tempat yang berupa tubuh. Dan untuk itu, sudah semestinyalah “ruh” diberikan haknya dan tubuh diberi haknya pula menurut syariat Islam.

Namun demikian, seiring dengan proses perjalanan waktu ada sebagian “invasi/serbuan pemikiran asing” yang merambah negeri-negeri Islam yang “obsesi” terbesarnya adalah mengubah pemikiran kaum Muslimin ke arah yang menyimpang jauh dari syariat Islam. Melalui berbagai media, “invasi pemikiran” asing ini tanpa terasa sudah mulai menyusup ke dalam seluruh aspek kehidupan kaum Muslimin baik dalam tataran kehidupan individu maupun bermasyarakat.

Keburukan pemahaman Barat terhadap manusia adalah sikap Barat yang tidak melihat manusia melalui kacamata karakter manusia yang memiliki tabiat ganda, yaitu “ruh” dan “jasad”. Namun, Barat hanya memandang manusia melalui kacamata esensi materiil manusia dan jasad tubuh manusia yang dapat terlihat. Sedangkan, tiupan ilahiah yang biasa kita sebut dengan “jiwa” (ruh), tidak mendapat tempat dalam visi pandang Barat.

Memang, manusia tanpa bisa dipungkiri, dari sisi bentuknya merupakan makhluk yang kecil sekali. Seberapa besar volume manusia bila dibandingkan dengan ukuran bumi ? Seberapa besar bumi bila dibandingkan dengan gugusan planet yang kini kita hidup di dalamnya ? Dan, seberapa besar gugusan planet-planet ini bila dibandingkan dengan gugusan planet-planet yang lainnya ?

Namun, nilai manusia tidak diukur dengan materiil dan tanah liatnya. Tetapi, nilai  manusia  terdapat  dalam  substansi Rabbaniyyah yang telah diberikan Allah dalam tanah liat dan tanah lumpur yang berbau busuk. Kandungan inilah yang dengannya manusia pantas mendapat penghormatan dan sujud dari malaikat dalam arti hormat (Shaad, 38 : 72).

Keistimewaan manusia adalah bahwa ia ‘tidak’ diciptakan untuk kehidupan yang serba cepat dan singkat ini. Namun, ia diciptakan untuk ‘keabadian’, dan ia dipersiapkan dalam dunia ini untuk kemudian kekal di alam akhirat. Kematian bukan semata-mata kefanaan dan ketiadaan saja. Kalaulah kematian merupakan ketiadaan yang mutlak, maka kematian tidak akan dapat diciptakan, sedangkan Allah SWT telah berfirman: “…yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya”(Al Mulk, 67 : 2)

Maka, tidak ada tempat bagi “makna sia-sia” dalam pandangan seorang manusia muslim. Allah SWT berfirman: “Apakah kalian mengira bahwa sesungguhnya Kami menjadikan kalian sia-sia dan kalian tidak akan dikembalikan kepada Kami lagi” (Al Mu’minuun, 23 : 115). Juga dalam firman-Nya: “Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang di antara keduanya itu sia-sia. Itulah persangkaan orang-orang kafir, maka celakalah orang-orang kafir di neraka. Ataukah (mereka sangka) Kami jadikan orang-orang yang beriman dan beramal saleh itu seperti orang-orang yang berbuat kerusakan di bumi, ataukah (mereka sangka) Kami jadikan orang-orang taqwa itu seperti orang berbuat durhaka?”( Shaad, 38 : 27-28).

Sesungguhnya, jerih payah manusia dalam rumah yang fana ini tidak akan sia-sia. Karena jerih payahnya merupakan tanaman yang ia akan memetik buahnya pada hari bertemunya manusia dengan Rabb-nya, dan manusia pasti akan menemui-Nya, Allah akan memberinya ganjaran yang setimpal. Allah SWT berfirman: “Bahwa tidaklah seseorang yang berdosa akan menanggung dosa orang lain, dan bahwa bagi manusia hanyalah apa yang diusahakannya, dan sesungguhnya usahanya itu kelak akan diperlihatkan. Kemudian Dia akan memberi balasan dengan balasan yang sempurna, dan sesungguhnya kepada Tuhanmulah segala kesudahan” (An Najm, 53 : 38-42).

Alangkah indahnya panggilan Rabbani yang langsung ditujukan kepada manusia. Allah SWT berfirman : “Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Tuhanmu, maka pasti kamu akan menemui-Nya” (Al Insyiqaaq, 84 : 6). Manusia akan menemui Tuhannya dan menerima balasan-Nya berupa pahala/siksa dari perbuatannya yang baik maupun yang buruk

Dalam perjalanan hidupnya, disadari atau tidak, ada sebagian manusia mengalami pasang-surut keimanannya. Di tengah-tengah surutnya keimanannya inilah pada umunya manusia mudah diserbu oleh pemahaman-pemahaman yang sesat dan menyesatkan. Di antara pemahaman paling berbahaya yang didoktrinkan oleh‘invasi intelektual’ adalah pemahaman tentang agama sebagaimana yang telah dipahami oleh orang-orang Barat. Agama menurut mereka hanya sekadar hubungan batin manusia dengan Tuhannya, tidak ada kaitannya dengan urusan negara dan sistem sosial.

Padahal, Islam menurut pandangan ummatnya adalah suatu konsep yang menyeluruh yang mengatur seluruh aspek kehidupan. Mulai dari urusan yang terkecil hingga terbesar, dari urusan buang hajat kecil sampai berdirinya negara; dari etika masuk-keluar kamar kecil, makan, minum dan  tidur sampai sistem ekonomi dan politik pemerintahan, dari shalat dan puasa sampai urusan perang, perdamaian dan hubungan antar negara. Karena, syariat Islam itu sendiri merupakan layanan paling sempurna dalam memberikan solusi secara tuntas terhadap semua kejadian dan peristiwa yang dialami manusia sesuai dengan prinsip, kaidah dan nash (dalil) syariah.

Allah SWT berfirman: “…Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri” (An Nahl, 16 : 89). “Invasi pemikiran” yang menggulirkan pemahaman sesat dan menyesatkan menyerang kehidupan masyarakat kita bersama-sama imperialisme (penjajahan) dengan masuk melalui pintu-pintu penjajahan, dari penjahan politik, budaya, ekonomi, dan lain sebagainya yang berjalan dalam rombongannya masing-masing, serta berlindung dalam suaka politiknya dan menjadikan “Barat” sebagai kiblatnya tanpa seleksi yang ketat.

“Invasi pemikiran” tentang pemahaman yang berkaitan dengan agama dan urusan dunia, tentang perempuan dan lelaki, keutamaan dan kenistaan, kebebasan dan kejumudan, kemajuan dan kemunduran, serta masalah halal dan haram. Pemahaman yang berkaitan dengan ‘batasan’ yang memisahkan antara kebebasan pemikiran dan kebebasan ‘sekulerisme’ dan yang membedakan antara negara beragama dengan negara Islam.

Ia adalah invasi pemikiran atas pemahaman yang menganggap iman kepada hal yang ghaib adalah dianggap sebagai suatu ‘kemunduran’, komitmen moral terhadap agama dianggap sebagai suatu ‘ekstrimitas’, amar ma’ruf dan nahi mungkar dianggap sebagai suatu ‘intervensi’ atau ikut campur dalam urusan orang lain, bercampurbaurnya lelaki dan perempuan tanpa ikatan / batas malah dianggap sebagai ‘kebebasan’, kembalinya wanita Muslimah kepada hijab syar’i (pakaian Islami) dianggap sebagai suatu ‘keterbelakangan’.

Demikian pula, pemahaman tentang memanfaatkan warisan kultur Islam dianggap sebagai suatu ‘fanatisme’, tuduhan yang lebih keji lagi terhadap para ulama adalah sebagai ‘para pelindung kemunduran’, tapi penilaian terhadap para penyeru ‘westernisasi’ (pembaratan) malah dianggap sebagai tokoh-tokoh ‘pencerahan’ atau ‘pembaharuan’.

Padahal, pemikiran Islam tentang kehidupan adalah pemikiran yang tawazun (seimbang) dan adil yang menjadikan dunia sebagai ladang akhirat dan jalan menuju negeri keabadian. Sementara jalan itu seharusnya tidak melalaikan dari tujuan yang ditempuh oleh perjalanan, tetapi jalan itu juga seharusnya teduh penuh dengan pepohonan dan banyak tempat bernaung sehingga dapat meringankan beban bagi para musafir dalam menempuh perjalanannya.

Ia bukanlah pemikiran skeptis atheis yang mana inti ajarannya adalah: “..Kehidupan ini tidak lain hanyalah keh-dupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa..” (Al Jaatsiyah, 45 : 24), rahim ibulah yang mendorong manusia keluar ke dunia dan bumilah yang menelannya, tidak ada di balik itu semua peristiwa kebangkitan, perhitungan dan pembalasan.

Kewajiban masyarakat Islam adalah menghilangkan setiap pemikiran yang tidak bersumberkan dari Islam yang benar (autentik), baik yang berasal dari sisa-sisa peninggalan masa ‘kemunduran’ dan penyimpangan dari Islam atau pun yang berasal dari pemikiran yang menyerang dan merusak dari kaum penjajah Barat.

Kini, tiba saatnya pula para da’i, ulama dan pemikir Islam untuk memberikan pemahaman syariat Islam yang benar dan murni (autentik) untuk menggantikan pemikiran dan pemahaman Barat yang disusupkan, baik yang disusupkan masa lalu maupun sekarang, karena keduanya itu tidak mewakili Islam yang benar, yaitu pemikiran  usang  yang membusuk dan pemikiran import yang menyerang / merusak.

Menurut Islam, kebebasan adalah sesuatu yang paling berharga dalam kehidupan, apabila pemahamannya disandarkan kepada aturan yang datang dari-Nya dan ditepati penerapannya. Seruan kebebasan mempunyai tujuan, bahwa manusia harus bebas dari pengultusan kepada sesama makhluk terlebih lagi kepada penguasa yang zalim, bebas dari belenggu yang mengikat akal serba mitos, dan bebas dari rasa takut

Kebebasan yang sebenarnya adalah kebebasan yang diikatkan kepada aturan dan hukum-Nya, sehingga kehendak manusia akan berjalan paralel dengan Kehendak-Nya. Dengan kata lain, kebebasan adalah perjalanan hidup manusia di atas hukum kausalitas Ilahi, karena Dia-lah yang menciptakan segala sesuatu dengan aturan dan ukuran tertentu. Hukum atau aturan yang dibuat oleh manusia harus merupakan subordinat dari hukum Allah. Kalau manusia keluar dari ketentuan itu, maka bahaya demi bahaya akan menghantui kehidupan sepanjang masa, dan manusia akan selalu dikejar oleh kecemasan dan kekacauan yang silih berganti. Allah SWT berfirman: “Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”  (Thaahaa, 20 : 124).

Wallahu a’lam bish-shawab.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar