Selasa, 17 Desember 2013

Membongkar Rekayasa Sinterklas

Sinterklas

Setiap perayaan Natal, bocah Kristiani-dan juga anak-anak umat Muslim- kerap didoktrin pada kemunculan seorang tokoh tambun berpakaian serba merah serta bertopi jambul yang bernama Sinterklas atau Santa Claus.

Manusia berjenggot tebal dan dipandu oleh segerombolan rusa ini pun digambarkan memiliki sifat yang ramah. Ia datang ke tiap rumah untuk memberi hadiah menarik bagi anak-anak.

Doktrin ini pun ikut menjalar kepada anak-anak muslim. Tayangan televisi seperti kartun dan drama kerap dihadirkan untuk mendekatkan anak-anak kita pada ajaran Kristiani. Maka tak heran dalam film ? yang sarat dengan kontroversi itu, seorang muslim pun didaulat menjadi Santa Claus demi menyenangkan seorang bocah Kristen.

Bahkan suatu ketika pernah seorang muslim memiliki pengalaman saat menjadi therapis anak-anak, dia pernah dikejutkan ucapan seorang anak muslim yang bercita-cita menjadi sang Santa. Ya hanya karena Santa Claus sudah seperti Tuhan yang bisa menghadirkan apapun yang diminta. Naudzubillah min dzalik. Tak sadar ada upaya pemurtadan halus dibalik misi melambungkan tokoh Kristen ini lewat tayangan-tayangan televisi.

Tentunya hal ini menjadi marak saat perayaan Natal. Banyak kita saksikan bahwa di sudut-sudut hotel, gerai-gerai food court, mal-mal, hingga pusat-pusat bisnis memasang ‘pohon terang’ yang dihiasi atribut-atribut khas natal seperti patung dan gambar Santa Claus. Bahkan ada sebagian department store yang mewajibkan pramuniaganya meski dia seorang muslim untuk mengenakan atribut-atribut Santa Claus. Astaghfirullah al adzim.

Padahal jika kita teliti lebih jauh, Tokoh Santa Claus tidak lain adalah sebuah mitos yang sepenuhnya rekayasa. Ada beberapa mitos berhubungan dengan asal-usul Santa Claus.

Siapakah Sinterklas?

Santa Claus atau juga dikenal sebagai Sinterklas, Santo Nikolas, Santo Nick, Bapak Natal, Kris Kringle, Santy, atau Santa adalah tokoh dalam berbagai budaya Kristen yang menceritakan tentang seorang Kardinal yang hidup di Kota Patara pada abad tiga masehi.

Nama aselinya adalah Nikolas yang merupakan anak tunggal dari keluarga Kristen yang berkecukupan bernama Epiphanius (Ἐπιφάνιος) dan Johanna (Ἰωάννα) atau Theophanes (Θεοφάνης) dan Nonna (Νόννα) menurut versi lain.

Untuk menjaring orang-orang kepada ajaran Kritsen, Nikolas pun digambarkan sebagai figur yang suka membagi-bagikan hadiah untuk anak-anak yang baik, serta menghukum anak-anak jahat dengan kekuatan sihir. Santa Nikolas gemar mengendarai kereta yang ditarik oleh rusa-rusa kutub. Jadilah penggambaran ini marak di  berbagai belahan dunia ketika momen Hari Natal tiba. Lagi-lagi, mereka memiliki misi agar ajaran Kristen bisa hadir menembus sekat-sekat masyarakat.

Di Jerman, gambaran tentang Santa Claus juga hadir dalam cerita rakyat. Dimana ada kisah tentang Dewa Odin (Wodan), yang setiap tahun (pada perayaan Yule) melakukan pesta perburuan yang dibimbing oleh dewa-dewa dan para prajurit yang mati dalam medan tempur. Anak-anak lalu menaruh sepatunya dengan wortel, jerami atau gula, di dekat cerobong asap sebagai santapan kuda Dewa Odin. Sebagai tanda terimakasih, Odin akan memberi hadiah bagi anak-anak berupa manisan atau permen.

Praktek ini sendiri hingga kini masih berlangsung di Jerman, Belgia dan Belanda. Kisah ini diadopsi rakyat Eropa Barat itu setelah menyerapnya dari ajaran Kristen. Tidak hanya berlangsung saat perayaan natal, bahkan anak-anak Kristen itu masih menaruh jerami mengisi sepatu di cerobong asap setiap malam musim dingin, dan berharap Santo Nikolas memberi mereka hadiah permen dan hadiah-hadiah.

Selain di Eropa, kisah ini juga muncul di benua Amerika. Di Amerika Serikat, praktek ini muncul melalui koloni Belanda di New Asterdam yang datang ke negeri Paman Sam setelah menyerang Inggris pada abad 17.

Tidak jauh berbeda dengan dataran Eropa, anak-anak Amerika juga menggantung kaus kaki atau kaus kaki natalnya di dekat cerobong asap. Mereka berharap Sinterklas datang menghampiri kaus kaki mereka dan menaruh mainan dan makanan kesukaan anak-anak.

Cerita lainnya muncul dari suku Indo-Jerman dimana terdapat cerita pertarungan antara orang suci bernama Santo Nikolas dan setan yang berwujud Krampus atau Troll Hal ini dapat dibuktikan dalam perayaan Santo Nikolas di Austria Selatan dan Italia Timur. Dalam perayaan tersebut, para laki-laki muda hadir menyemarakkan acara dengan memakai seragam Krampus dan Santo Nikolas.

Kisah kepahlawanan Kristen Santo Nikolas dan Troll ini bermula dari cerita rakyat dimana sebuah daratan diserang oleh seorang monster. Pada malam hari, monster melata itu masuk ke cerobong asap dan membunuh anak-anak. Anak-anak tersebut dibunuh dengan cara mengeluarkan isi perut mereka atau menyimpan mereka sebagai bahan santapan. Orang suci (Santo Nikolas) lalu berusaha menaklukan sang setan. Dia mencari sang setan dan menipunya dengan borgol yang diberkati. Menariknya, dalam beberapa versi borgol yan dipakai Santa adalah borgol yang sama untuk memenjarakan Yesus.

Setan tersebut kemudian terperangkap dan terpaksa mengikuti perintah orang suci. Orang Suci itu menyuruhnya untuk pergi ke setiap rumah dan membuat perubahan, dengan memberikan hadiah kepada anak-anak. Orang suci itu juga meminta untuk melakukan hal ini setiap tahun, atau sang setan boleh memilih  untuk dikembalikan ke Neraka.

Cerita tentang Santa yang baik hati pun makin melegenda. Ada pula yang meyakini bahwa Santa Claus selalu ditemani seorang budak negro bernama Swarte Piet (Piet hitam). Mereka hadir setiap perayaan natal dengan mengendarai kuda terbang yang akan mendarat di atap-atap rumah anak yang baik guna membagi-bagi hadiah lewat cerobong asap.

Berbeda dengan Santa yang digambarkan penuh kebaikan, Swarte Piet justru digambarkan sebagai individu menyeramkan. Swarte Piet kerap memukul anak nakal dengan tongkat atau memasukan mereka ke dalam karung dan membawa mereka ke Spanyol.

Sejatinya, ilustrasi tersebut menggambarkan diskriminasi rasial, ketika Santa Claus dilukiskan sebagai seorang kulit putih yang baik budi, sedang Swarte Piet dicerminkan sebagai seorang negro kejam yang suka menyiksa anak-anak nakal. Pemahaman orang awam coba digiring bahwa bangsa berkulit hitam adalah kelompok jahat, kejam, dan penuh kebencian. Sedangkan bangsa berkulit putih penuh dengan kelembutan, rasa kemanusiaan, dan jauh dari perilaku jahat. Padahal faktanya, hal itu masih bisa diperdebatkan.

Pada tahun 1969, Gereja Roma Katholik yang dipimpin Paus Paulus VI menanggalkan perayaan Santa Nicholas dari kalender resmi gereja. Banyak pendeta dan aktivis Katholik Kristen yang mengkritik esensi perayaan natal yang telah tercemari oleh unsur komersial yang dilakukan oleh para pelaku bisnis yang berkuasa. Dari produk makanan, minuman, hingga pakaian banyak mengusung tema Santa Claus. Perayaan natal akhirnya lebih mengkultuskan mitos Santa Claus dibanding sosok Yesus itu sendiri. Namun, alih-alih Santa Claus adalah mitos, sejatinya perayaan natal tanggal 25 Desember pun juga sarat pengaruh legenda pagan dan kisah mitos. Pihak Kristen sendiri tidak benar-benar serius melarang Santa Claus, karena pada realitanya mereka sendiri banyak diuntungkan dengan kehadiran mitos ini.

Paganisme Yunani-Romawi telah diadopsi oleh kaisar Constantine dalam menyebarkan agama Kristen. Salah satunya dengan mengukuhkan 25 Desember sebagai hari kelahiran Yesus Kristus sang penebus dosa. Sesungguhnya tanggal tersebut merupakan peringatan terhadap Dewa Matahari Sol Invictus. Ketetapan ini dilegalkan kaisar Constantine pada 313 M dalam sebuah dekrit Edict Of Milan.

Selanjutnya, Constantine menetapkan hari matahari (sun day) sebagai hari libur kerajaan. Tak beda dengan kaum Yahudi, umat Kristiani sebenarnya menetapkan hari Sabtu (Sabath) sebagai hari suci. Kalangan Kristen Ortodoks sampai saat ini masih memperingati hari kelahiran Al Masih pada tanggal 6 januari. Namun sebagai penghormatan kepada Sol Invictus, maka perayaan natal sang juru selamat, diubah pada tanggal 25 Desember.

Pada gilirannya, Natal telah didominasi oleh tradisi kaum kafir pagan. Terlebih muncul tokoh fiktif Santa Claus yang sejatinya adalah rekayasa Barat Kristen Liberal dengan tujuan membumikan ajaran kristiani. Tidak hanya politik, ekonomi, sosial budaya, bahkan ranah pemikiran sampai pada cara beriman serta beribadah kepada Tuhan telah menggurita.

Encyclopedia Britannica, volume 19 halaman 648-649, edisi kesebelas, mengatakan:

“St. Nicholas, bishop of Myra, a saint honored by the Greeks and Latins on the 6th of December… A legend of his surreptitious bestowal of dowries on the three daughters of an impoverished citizen…is said to have originated the old custom of giving presents in secret on the Eve of St. Nicholas [Dec. 6], subsequently transferred to Christmas day. Hence the association of Christmas with Santa Claus…”

St. Nicholas, adalah seorang pastur di Myra yang amat diagung-agungkan oleh orang-orang Yunani dan Latin setiap tanggal 6 Desember… Legenda ini berawal dari kebiasaannya yang suka memberikan hadiah secara sembunyi-sembunyi kepada tiga anak wanita miskin… untuk melestarikan kebiasaan lama dengan memberikan hadiah secara tersembunyi itu digabungkan ke dalam malam Natal. Akhirnya terciptalah kaitan antara hari Natal dan Santa Claus.

Herbert W Armstrong (1892-1986), Pastur Worldwide Church of God dan pendiri Ambassador College membongkar kebohongan tentang Natal dalam buku The Plain Truth About Christmas. Tulisan tentang Sinterklas ditulis secara khusus dalam sub bab Yes, And Even Santa Clause. Dia menulis,

“And so when we examine the facts, we are astonished to learn that the practices of observing Christmas is not, after all, a true Christian practice, but a pagan custom – one of the ways of Babylon our people have fallen into.”

Dari bukti-bukti nyata yang telah kita ungkap tadi dapatlah diambil kesimpulan, bahwa perayaan Natal atau Christmas itu bukanlah ajaran Kristen yang sebenarnya, melainkan kebiasaan para penyembah berhala (Paganis). Ia warisan dari kepercayaan kuno Babilonia ribuan tahun yang lampau.

Kristen Liberal ingin membentuk opini lewat penciptaan tokoh Santa Calaus bahwa Barat identik dengan kedermawanan, suka membagi-bagi hadiah dan menolong kaum tertindas.

Lantaran bangunan akidah Kristen telah lapuk, tak heran bila Kristen masih mempercayai mitologi. Jauh berbeda dengan pandangan Islam bahwa lewat dakwah Islam, mausia akan dibebaskan dari unsur magis, animisme, mitologi serta tradisi yang melenceng dari aqidah. Ajaran Islam juga membebaskan akal dari keraguan, dugaan, argumen kosong menuju keyakinan akan kebenaran mengenai realitas spiritual, akal dan materi. Islam tidak menyembah patung, berhala, arca yang bisa dihancurkan kapanpun sesuai kehendak manusia.

Pada perkembangannya, momentum Santa Claus pun juga dijadikan alat ampuh oleh para misionaris untuk menarik minat seorang anak non Nasrani pada doktrin Santa. Bahwa mereka mengkritik hegemoni Santa Claus dalan teologi, memang iya, namun tidak dapat dipungkiri gereja pun ketiban untung lewat mitologi Santa Claus. Sebab Tokoh Santa yang ‘ramah’ memang sejalan dengan misi penyebaran ajaran Kristen yang kerap memuluskan tujuannya lewat aksi amal.

Paus sendiri tidak yakin akan kebenaran Santa Claus karena pada kenyataannya lebih banyak dongeng atau khayalan yang dibuat mengenai tokoh ini. Akhirnya, pada 1970 Vatikan menghapus dan mencoret nama Sinterklas dari daftar orang-orang suci, tetapi karena banyaknya protes yang berdatangan, akhirnya Vatikan memberikan kelonggaran dan kebebasan untuk memilih apakah Santa Claus termasuk orang suci atau bukan diserahkan kepada diri masing-masing, tetapi secara resmi Santa Claus bukan termasuk orang yang dianggap suci lagi. Jadi jika orang Kristen saja ragu dengan Santa Claus, kenapa umat Islam berbondong-bondong menghiasai diri dengans seragam tokoh palus ini? Sungguh sebuah bentuk toleransi kebablasan dan salah arah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar