Selasa, 06 Agustus 2013

Inilah Wanita yang Doanya Langsung Didengar oleh Allah SWT


Wanita Mukmin Yang Do’a Pengaduannya Dijawab Langsung Oleh Allah
Seorang wanita yang memiliki kecerdasan yang luar biasa, memiliki perangai yang baik, santun dalam bergaul serta fasih dalam berbicara Beliau adalah Khaulah binti Tsalabah bin Ashram bin Fahar bin Tsalabah Ghanam bin Auf. Suatu hari beliau mendapati suaminya Aus bin Shamit dalam masalah dan marah-marah, sampai dia berkata, Bagiku engkau ini seperti punggung ibuku!

Kemudian Khaulah keluar menemui Rasulullah, lalu dia menceritakan peristiwa yang menimpa dirinya dengan suaminya. Maksud kedatangannya adalah untuk meminta fatwa dan berdialog dengan Nabi dalam urusan tersebut. Rasulullah bersabda, Kami belum pernah mendapatkan perintah berkenaan urusanmu tersebut…aku tidak melihat melainkan engkau sudah haram baginya.

Sesudah itu wanita mukminah ini senantiasa dan tidak henti-hentinya mengangkat kedua tangannya ke langit sedangakan dihatinya tersimpan kesedihan dan kesusahan. Pada kedua matanya nampak meneteskan air mata dan semacam ada penyesalan, maka beliau menghadap Yang tiada akan rugi siapapun yang berdoa kepada-Nya. Beliau berdoa, Ya Allah sesungguhnya aku mengadu kepada-Mu tentang peristiwa yang menimpa diriku.

Sehingga suatu ketika Rasulullah pingsan sebagaimana beliau pingsan manakala menerima wahyu. Kemudian setelah Rasulullah sadar kembali, beliau bersabda, Wahai Khaulah, sungguh Alloh telah menurunkan Al Quran tentang dirimu dan suamimu, kemudian Rasulullah membaca firman-Nya,

Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan wanita yang mengajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya, dan mengadukan (halnya) kepada Allah. Dan Allah mendengar soal jawab antara kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat,…sampai firman Allah: dan bagi orang-orang kafir ada siksaan yang pedih. (Al-Mujadillah: 1-4)

Alangkah bagusnya seorang wanita mukminah semacam Khaulah, beliau berdiri dihadapan Rasulullah dan berdialog untuk meminta fatwa, adapun istighotsah dan mengadu tidak ditujukan melainkan untuk Allah Taala. Ini menandakan kejernihan iman dan tauhid yang telah dipelajarinya dari Rasulullah.

Kemudian Rasulullah menjelaskan kepada Khaulah tentang kafarat (tebusan) Zhihar:
Nabi: Perintahkan kepadanya (suami Khasa) untuk memperdekakan seorang budak!
Khaulah: Ya Rosululloh dia tidak memiliki seorang budak yang bisa dia merdekakan.
Nabi: Jika demikian perintahkan padanya untuk shaum dua bulan berturut-turut.
Khaulah: Demi Allah dia adalah laki-laki yang tidak kuat melakukan shaum.
Nabi: Perintahkan kepadanya memberi makan dari kurma sebanyak 60 orang miskin.
Khaulah: Demi Allah ya Rasulullah dia tidak memilikinya.
Nabi: Aku bantu dengan separuhnya.
Khaulah: Aku bantu separuhnya yang lain wahai Rasulullah.
Nabi: Engkau benar dan baik maka pergilah dan sedekahkanlah kurma itu sebagai kafarat baginya, kemudian bergaullah dengan anak pamanmu itu secara baik.

Inilah wanita mukminah yang menghentikan Khalifah Umar bin Khatab pada saat perjalanan untuk memberikan wejangan dan nasehat kepadanya. Beliau berkata, Wahai Umar aku telah mengenalmu sejak namamu dahulu masih Umair (Umar kecil) tatkala engkau berada di Pasar Ukazh engkau mengembala kambing dengan tongkatmu, maka berlalulah hari demi hari sehingga Engkau memiliki nama Amirul Mukminin, maka bertakwalah kepada Allah perihal rakyatmu, ketauhilah barangsiapa yang takut akan siksa Allah maka yang jauh akan menjadi dekat dengannya dan barang siapa yang takut mati maka dia akan takut kehilangan dan barang siapa yang yakin akan adanya hisab maka dia takut terhadap adzab Allah. Beliau katakan hal itu sementara Umar Amirul Mukminin berdiri sambil menundukkan kepalanya dan mendengar perkataannya. Al-Jarud al-Abdi yang menyertai Umar bin Khatab tidak tahan dan mengatakan kepada Khaulah, Engkau telah berbicara banyak kepada Amirul Mukminin wahai wanita! Umar kemudian menegurnya, Biarkan dia… tahukah kamu siapakah dia? Beliau adalah Khaulah yang Allah mendengar perkataannya dari langit ketujuh, maka Umar berhak untuk mendengarkan perkataannya.
Dalam riwayat lain Umar bin Khathab berkata, Demi Alloh sendainya beliau tidak menyudahi nasehatnya kepadaku hingga malam hari maka aku tidak akan menyudahinya sehingga beliau menyelesaikan hal yang dikehendakinya, kecuali jika telah datang waktu shalat maka aku akan mengerjakan shalat kemudian kembali mendengarkan sehingga selesai keperluannya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar