Kamis, 22 Agustus 2013

Inilah Astronot yang Hampir Mati Tenggelam di Luar Angkasa?

Luca Parmitano mungkin adalah satu-satunya orang yang pernah tenggelam meskipun tubuhnya berada di luar angkasa. Hal ini diungkapkannya dalam sebuah blog pribadi.

Seperti yang dilansir oleh CBS News (21/8), Parmitano, 36 tahun, astronot asal Italia, menyebutkan bahwa dirinya pernah hampir mati tenggelam di luar angkasa. Hal ini setelah helm pelindungnya terisi air saat melakukan ekspedisi di tanggal 16 Juli kemarin.



"Saya tak lelah, malah sebaliknya! Saya sedang bersemangat, seperti tersetrum dan darah yang hangat sedang mengalir di dalam nadi. Saya yakin mengalaminya dan mengingat semuanya," tulis Parmitano.

Setelah membuka pintu dan menyingkirkan kabel keamanan, Parmitano dan seorang astronot NASA, Chris Cassidy, sedang dalam sebuah perjalanan menuju ISS. Parmitano mengambil jalan lain yang lebih lurus dan cepat, namun ini malah berbuah petaka.

"Tepat pada saat itu, saya berpikir bagaimana caranya menyignkirkan kabel yang membelit secara rapi...Saya merasa ada yang salah. Ada sensasi serangan air yang kuat dari belakang leher saya yang kemudian mengejutkan -- pasahal saat itu seorang astronot sama sekali tak boleh bingung dan terkejut," lanjutnya.

Memang ada sesuatu kesalahan besar terjadi. Ada kesalahan dalam baju antariksa Parmitano yang menyebabkan air yang fungsinya sebagai pendingin tubuh ini sehingga bocor.

Parmitano pun kemudian mengumumkan kondisi bahayanya. Segera saja rekannya Cassidy menolong dan mencari tahu dari mana air ini berasal.

Air tersebut terasa dingin sehingga tak mungkin disamakan dengan air keringat. juga tak ditemukan adanya tanda kebocoran dari katup air minum.

Dengan air yang menghalangi pandangannya, markas ISS pun meminta misi yang dilakukannya segera dibatalkan. Parmitano diminta untuk menyelamatkan dirinya.

Padahal, dengan air yang menghalangi pandangan dan pernafasan tentu sangat sulit baginya untuk menyelamatkan diri. Jangankan bergerak, untuk bernapas saja dirinya merasa kesulitan.

Dirinya sempat terpikir untuk membuka helm di luar angkasa. Namun, hal ini tentu bisa membunuhnya.

Untungnya, tim dari NASA segera menolong. Parmitano dibawa ke dalam dan helmnya kemudian dilepas.

Hal ini pun memberinya pelajaran yang sangat berharga. Di dalam blognya, Parmitano menuliskan, "Luar angkasa tak ubahnya sebuah daerah perbatasan yang keras dan tak ramah. Ingat, kita penjelajah, bukan penjajah. Ketrampilan dan teknologi kita (yang terbatas) kadang membuat sebuah hal yang seharusnya tak muncul terjadi. Kadang kita lupa akan hal ini, padahal seharusnya tidak".

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar