Senin, 05 Agustus 2013

Two in One

islampos_petasan

Anak-anak kecil itu berlari mengejar mobil bak terbuka. Seorang telah berhasil menggapainya dan langsung naik ke mobil. Sementara yang lain masih berlari mengejarnya. Mereka terkadang berlari di tengah-tengah lalu lintas yang padat. Sebenarnya mengejar-ngejar mobil bak seperti itu, baik di jalan raya yang sedang simpang siur maupun di jalan yang sepi, tetap saja berbahaya.

Walau berbahaya, anak-anak nampak senang. Lain dengan orang dewasa yang penuh pertimbangan. Bersenang-senang boleh, tapi tidak yang membahayakan.

Setiap melihat pemandangan seperti ini, ingin rasanya menegur atau mencegah kaki-kaki kecil yang gembira mengejar mobil bak terbuka. Tapi setiap ingin mencegah, ingatan ini selalu melayang ke masa kecil. Ke masa dimana saya pun pernah melakukan hal itu.

Tepatnya di masa SMP. Waktu itu saya dan teman-teman sering naik turun mobil bak terbuka. Karena ingatan inilah, saya menjadi maklum dengan tingkah anak-anak yang membahayakan itu.

Saya juga maklum dan ‘memaafkan’ anak-anak yang riang gembira menyulut petasan di saat orang-orang sedang istirahat. Kesal memang ketika mendengar ledakan petasan yang mengagetkan itu. Ingin keluar rumah dan memarahi mereka semua.

Tapi ketika melihat wajah riang dan ceria mereka bermain petasan, saya jadi teringat masa kecil. Pada saat itu, saya menyalakan petasan di kawasan padat penduduk di siang hari.

Begitu petasan meledak, seorang ibu berteriak, “Hay!! Pasang petasannya jangan di sini!! Ada orang sakit!!”

Keesokkan harinya, terdengar kabar orang yang sakit itu meninggal dunia. Kabarnya orang yang sakit itu, sedang menderita penyakit jantung. Walau tahu wafat seseorang itu karena ajal, tetap saja saya merasa bersalah karena telah meledakkan petasan di dekat rumah penderita jantung itu.

Walhasil, jika ada anak-anak yang bermain petasan, petasan dengan daya ledak sebesar apapun, saya menjadi sosok yang maklum dan memaafkan.

Ulah anak-anak bukan hanya terkait dengan mengejar-ngejar mobil bak terbuka dan menyalakan petasan. Ulah mereka yang lain adalah ribut dan rusuh ketika orang-orang dewasa menunaikan shalat berjamaah.

Melihat tingkah mereka ini, saya juga maklum. Pasalnya saya dan teman-teman pernah membuat ribut jamaah shalat masjid Sunda Kelapa. Hingga pada saat itu, saya ditegur oleh Bung Tomo, pahlawan 10 November itu. Bung Tomo ketika itu, aktif berceramah di masjid Sunda Kelapa dan tentunya merasa terganggu dengan ulah saya dan teman-teman.

Sehingga, saya pun menjadi maklum pada anak-anak yang membuat keributan di tengah-tengah jamaah shalat.

Kita menjadi lemah untuk menegur perbuatan menyimpang orang lain, jika kita sendiri melakukan penyimpangan itu.

Kita malu hati menegur orang yang melanggar lampu merah, ketika kita sendiri melakukan pelanggaran lampu merah. Kita jadi tidak enak hati menegur teman yang tidak melakukan tugas kantornya, jika kita sendiri lalai pada tugas kantor.

Inilah hikmah satu antara ucapan dan perbuatan. Jika kita melarang suatu perbuatan haram, berarti kita juga harus menjauhinya. Bila kita memerintahkan suatu perbuatan wajib atau sunnah, berarti kita harus pula menunaikannya.

Sebaliknya, jika kita melakukan pelanggaran, maka kita jadi sungkan menegur orang lain yang melakukan pelanggaran. Bila kita lalai dari suatu tugas, maka kita enggan menegur orang lain yang lalai melakukan tugas. Bahkan bisa jadi kita menjadi orang-orang yang maklum pada berbagai pelanggaran, naudzubillah min dzalik.

Mungkin inilah yang menyebabkan Allah murka kepada orang yang berkata namun tidak mempraktekkannya.

Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan.” (QS Ash-Shaf (61):2-3).

Karena orang yang berkata namun tidak berbuat sama saja dengan orang yang munafik. Sementara orang yang maklum melihat pelanggaran, karena dirinya juga melakukan pelanggaran, juga merupakan sikap yang tidak terpuji. Bukankah Rasul memerintahkan kita untuk merubah pelanggaran yang terjadi, dengan tangan, lisan dan dengan hati. Merubah pelanggaran dengan hati merupakan ciri iman yang terlemah. Bagaimana jika hati saja tidak menolak pelanggaran, namun malah bersikap maklum.

Islam sendiri mengajarkan satu antara ucapan dan perbuatan. Islam melarang perbuatan mencuri, Islam juga memberi sanksi atas perbuatan mencuri. Islam melarang mengonsumsi minuman keras, Islam juga memberi sanksi bagi mereka yang mengonsumsi minuman keras. Islam melarang perbuatan membunuh, Islam juga memberi sanksi bagi orang yang melakukan perbuatan pembunuhan.

Ya Allah, kami memohon dengan sangat, di bulan yang mulia ini, jadikanlah kami orang-orang yang selalu satu antara ucapan dan perbuatan baik. Aamiin.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar