Sabtu, 17 Agustus 2013

Alat - Alat Bedah Yng Paling Sering Ketinggalan Di Tubuh Pasien

Profesi dokter membutuhkan ketelitian dan ketahanan tubuh yang prima, apalagi dokter bedah.Saat mengoperasi pasien, dokter bedah harus menggunakan peralatan secermat mungkin.


Tak jarang operasi yang dilakukan berhasil, namun alat yang dipakai malah tertinggal di tubuh pasien.Apabila hal tersebut terjadi, pasien harus menjalani operasi bedah lagi untuk mengambil alat yang tertinggal. 

Diperkirakan, 1 dari 3.000 operasi di AS akan mengalami insiden ketinggalan alat bedah di tubuh pasien. Jadi sudah ada banyak kisah mengenai kejadian seperti ini, Berikut ini adalah Alat Bedah Paling Sering Ketinggalan Di Tubuh Pasien:

1. Jarum jahit bedah


 
Seorang narapidana bernama Antonio Garcia di Texas menjalani menjalani operasi darurat ketika masih menjalani hukuman di lembaga permasyarakatan. Tapi 6 tahun kemudian, dia baru menyadari bahwa ada jarum bedah yang masih tertinggal di dalam tubuhnya lewat pemeriksaan sinar-X. Dia pun menggugat dokter bedah yang menanganinya dulu dan rumah sakit tempat operasinya berlangsung.

2. Gunting bedah


 
Seorang pasien di South Carolina baru menyadari bahwa sebuah gunting bedah ketinggalan di dalam tubuhnya setelah menjalani histerektomi. Pasien wanita berusia 38 tahun itu merasa ganjil karena sering merasa nyeri. Setelah mengunjungi UGD dan diperksa menggunakan USG, barulah kelihatan jelas ada gunting di tubuhnya. Pasien tersebut lalu menjalani operasi untuk mengambil gunting yang tertinggal.

3. Kain kasa

 
Seorang pengemudi forklift bernama Robert Maxwell menjalani operasi usus di Skyline Medical Center. Namun pria berusia 41 tahun ini terus menerus mengalami sakit parah dan mual selama 3 minggu setelah operasi. Tak kuat menahan nyeri, dia pun mengunjungi unit gawat darurat. Dokter lantas menemukan ada sepotong kain kasa yang tertinggal setelah operasi.

4. Penjepit bedah


 
Seorang wanita di Wisconsin menjalani operasi perut untuk mengobati usus buntu.Anehnya, rasa tak nyaman yang parah masih saja muncul berminggu-minggu sesudahnya. 

Rasa sakitnya sering muncul dan hilang selama beberapa bulan berikutnya.Gangguannya baru diketahui setelah ia melewati detektor logam dan pemeriksaan di bandara. Ternyata ditemukan ada sebuah penjepit bedah yang cukup besar tertinggal di dadanya.

5. Retraktor baja 25 cm


 
Seorang pria bernama Daryoush Mazarei menjalani operasi perut bagian bawah namun tidak sembuh dengan baik sesudahnya. Dia mengeluh kepada dokter sering mengalami nyeri yang amat parah. Dokter menduga keluhannya karena masalah mental lalu merujuknya ke psikiater. Hasil pemeriksaan CAT scan menemukan ada retraktor baja sepanjang 10 inchi atau 25,4 cm bersarang di perutnya.

6. Plastik dan spons


 
Rumah sakit Sinai Hospital di Maryland, AS pernah digugat oleh pasiennya karena teledor meninggalkan beberapa benda di tubuh pasien setelah operasi. Wanita itu awalnya menjalani operasi untuk mengangkat tumor jinak, namun ahli bedah lupa tidak mengambil potongan plastik, spons dan kain kasa di tubuhnya. Uniknya, benda-benda ini baru ditemukan 6 tahun kemudian. 


7. Bantalan laparotomi

 
Seorang wanita berusia 30-an tahun menjalani operasi caesar di Jacobi Hospital, New York. Celakanya, dokter bedah lupa meninggalkan bantalan laparotomi di dalam perutnya. 

Kesalahan ini baru ditemukan 2 tahun kemudian ketika wanita tersebut memeriksa kehamilannya lewat USG.Akhirnya wanita tersebut harus menjalani operasi diperlukan untuk mengambil bantalan tersebut. Operasi kedua ini menyebabkan rasa sakit dan jaringan parut yang lebih parah di perutnya. 


8. Adept Med Fish

 
Seorang pria bernama Alex Mitchell dari Massachusetts menggugat dokter bedahnya karena sebuah alat bernama Adept Med Fish ditemukan masih tertinggal di dalam tubuhnya setelah menjalani operasi hernia. 

Perangkat ini digunakan untuk melindungi organ-organ internal selama penjahitan.Mitchell menderita sakit parah, mual, muntah dan harus menjalani operasi kedua untuk mengambil peralatan medis tersebut. Sebagai kompensasi, pengadilan memberikan Alex ganti rugi sebesar 280.000 US$ atau sekitar Rp 2,7 miliar.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar