Rabu, 18 September 2013

Skema, Langkah dan Modus Operasi AS Sebagai Superpower


Theodore Herzl (1860-1904) adalah Godfather dari gerakan ini. Tetapi siapa yang tidak paham klan Rothchilds dinasti Yahudi terkaya penyumbang zionisme tanpa reserve; adakah keturunannya telah putus dan punah di jagad ini? Retorika ini tidak untuk dijawab agar tulisan ini dilanjutkan.

Yang jelas, di era kontemporer abad 20, derivasi atau rincian dari jaringan siluman ini bisa ditelusur kembali melalui asal muasal dari Skull and Bones, para mahasiswa Universitas Yale yang direkrut untuk bergabung menjadi anggota komunitas rahasia yang jejak kesejarahannya akan berujung di Iluminati dan Freemason.



Untuk menjelaskan kaitan jaringan Skull and Bones dengan para pemain kunci di balik politik luar negeri Amerika Serikat, kita bisa menelusur dengan memperhatikan sumbu dari mata-rantai ini, yakni Prescott Bush, yang juga merupakan alumni yang tergabung dalam Skull and Bones.

Ketika di Yale, Prescott Bush menjalin persahabatan akrab dengan beberapa tokoh kunci seperti Samuel Pryor, pemilik Remington Arms Company serta Avril Harriman, putra dari EH Harriman, pemilik dan bos kereta api. Melalui ayahnya, Avril kemudian memperoleh firma investasi bernama Harriman and Company.

EH Harriman inilah yang kemudian mengangkat George Herbert Walker, yang belakangan menjadi ayah tiri Prescot, setelah ayahnya, George Bush Sr, meninggal untuk menjalankan firmanya.

Inilah mata rantai yang tidak pernah putus hingga dekade-1990-an. Setidaknya, Avril Harriman selalu menjadi tokoh sentral dalam setiap proses pembuatan kebijakan luar negeri AS.


Pada perkembangannya kemudian, jaringan siluman yang dirintis oleh Prescot Bush dan Herbert Walker Bush, merupakan derivasi atau rincian di level Manpower yang berada di bawah kendali Dinasti Rockefeller, Rotchild dan JP Morgan.

Skema kerjasama strategis yang dirancang dua konglomerat Amerika-Inggris Rockefeller dan Rothschild itu bermula sejak berabad lalu dalam kerangka persekutuan strategis di bawah skema White Anglo Saxon Protestant (WASP) yang pada dasarnya merajut persekutuan tradisional antara Amerika Serikat dan Inggris.

Melalui konglomerasi mereka berdua, praktis mereka mengusai beberapa perusahaan besar bidang Migas seperti Exxon Mobil, Texaco, BP Amoco dan Royal Dutch/Shell.
Tak heran jika mereka berdua sangat mempengaruhi dan menyetir haluan politik luar negeri Amerika Serikat untuk menguasai dan mengamankan negara-negara kawasan Teluk, Timur Tengah, Afrika dan Asia, yang memiliki kandungan sumberdaya alam bidang minyak dan gas.

Salah satu contoh ekstrim betapa besar pengaruh kedua konglomerat ini, terbukti ketika berhasil mendesak Inggris menghadiahkan Yahudi sebuah negara bangsa bernama Israel.

Melalui campur tangan pengusaha Inggris Rothschild inilah yang kemudian mendorong pemerintah Inggris mengeluarkan Deklarasi Balfour yang mendukung berdirinya tanah air bagi Yahudi di tanah Palestina.

Bagi Rothschild, tujuan utamanya bukan mendukung Yahudi, melainkan penguasaannya atas kawasan minyak di Timur Tengah. Menyusul kekalahan Imperium Ottoman Turki, beberapa negara arab kemudian jatuh ke tangan Inggris seperti Irak, Jordan dan Arab Saudi lewat dinasti Ibnu Saud.

Skema Kapitalisme Global Superior

Tak bisa dipungkiri. Produk unggulan yang dijajakan ialah kapitalisme dengan berbagai format dan model. Melalui reformasi, demokratisasi, HAM, transparansi, sekulerisasi dan berapa “sasi-sasi” lagi bakal lahir dari perut sang kapitalis. Ia menyemai nilai-nlai “keamerikaan” (Barat) via budaya, seni, gaya hidup, iklim politik dan sebagainya melalui media-media serta berbagai cara.

Kekayaannya hasil jarahan. Terutama rampasan Perang Dunia ll (kedua). Maka AS seringkali dijuluki “negara perampok”. Sedangkan kekayaan lainnya bersumber dari berbagai bisnis properti (hotel, hyper/super market dsb), usaha jenis makanan dan minuman khas Amerika, tambang emas, minyak dan gas bumi di negeri boneka dan jajahan baik di Asia termasuk di Timur Tengah dan di Afrika.

Tak kalah penting ialah money laundry yaitu penggandaan seri-seri dollar yang ditebarkan pada berbagai belahan bumi dengan kualitas “bodong”. Asli tetapi palsu. Ia memiliki aset materi dan non materi. Aset non materi seperti pola pemikiran yang mendewakan logika. Westernisasi merasuk pada life style komunitas negara lain di berbagai dimensi berlabel “American Minded”.

Adapun aset materi berupa antek-antek atau agennya yang direkrut dari beragam warna kulit, etnis dan golongan. Penetrasinya lewat jalur seni budaya, sejarah, sosial politik, pendidikan, ekonomi bahkan agama, termasuk fungsi-fungsi pemerintahan di suatu negara. Sejatinya antek itu “anjing”-nya Amerika. Budak kapitalis. Pelacur politik level transnasional.


Pabrik senjata dan teknologi perang adalah mesin andalan penambah pundi-pundinya. Maka berbagai cara ditempuh guna membuat konflik terjadi dimana-mana. Agar teknologi dan mesin perang dagangannya laris terjual habis.

Mesin pundi-pundi berikutnya adalah jaringan berbagai media cetak, elektronik, atau industri layar lebar dikuasai. Disamping sebagai alat promosi teknologi perang, juga sarana membuat stigma “keheroikan Amerika”. Makanya film-film sekelas Rocky, Rambo dst dibuat berseri guna membakar jiwa warganya yang merasa sebagai bangsa champions di muka bumi, tetapi sekaligus menutupi kegagalan invasi militernya di beberapa negara.


(1) Stigma dan Penyesatan Opini

Awal “masuk” ke wilayah target yang dianggapnya potensial melalui propaganda. Membentuk stigma buruk di daerah yang akan diinvasi. Propaganda terbaru adalah terorisme, melawan pimpinan otoriter, senjata pemusnah massal, program nuklir, penjahat perang karena melakukan genosida dst.

Sedangkan propaganda sebelumnya soal demokratisasi, supremasi hukum, keterbukaan, liberalisasi atau kebebasan, HAM dsb dimana hingga kini isue tersebut masih efektif menggoyang tatanan sosial dan etika negara-negara. Ia menyediakan space pengkhianatan putra-putri suatu bangsa terhadap toempah darahnya sendiri.

(2) Taktik Belah Bambu dan Adu Domba

Pola ini diterapkan AS guna mengobrak-abrik negara target dimanapun. Catatan untuk Asia lewat federasi dan konflik horizontal (etnis, agama dst). Meskipun secara konsep dikatakan berhasil tetapi untuk Indonesia dinyatakan kurang maksimal, entah sebab apa.

(3) Cuci otak

Mendidik anak (baca: anteknya) bangsa untuk meraih jenjang S-1, S-2 dan S-3 Obyek penelitian diarahkan agar bagaimana “melemahkan” negaranya sendiri dari sisi internal.

Ia merajut jaringan bidang apa saja. Baik jalur politik, agama, sejarah, pendidikan, fungsi polisi maupun tentara dimasukinya. Tidak sedikit para anteknya diorbit menjadi pakar nasional atau tokoh internasional, diberikan award berkelas dunia. Betapa lucu. Ada sosok penghianat digelari pendekar HAM di negara yang dikhianatinya, padahal matinya dibunuh aparat karena hendak menjual rahasia negara kepada pihak asing. Memilukan.

Ada juga anteknya yang menjadi pejabat negara, atau tokoh agama, bapak bangsa dst. Hal itu mudah baginya, sebab ia menguasai media serta kaya raya.


(4) Membentuk Koloni dan Federasi

Contoh di Indonesia via otonomi daerah sebagai penghalusan Negara Federal yang doeloe ditolak banyak kalangan. Negara dilemahkan dari sisi dalam. Para politikus diberi mainan dalam negeri berupa demokrasi dan multi partai. Seolah-olah ada gegap dinamika namun sebenarnya hampa makna. Rakyat sibuk berhura-hura di jalan raya, sementara eksekutif dan legestatif asyik bersama “mengutil” uang negara.

(5) Politik Proteksi

Setiap kegiatan bisnis, terutama untuk skala global dengan komoditi unggulan selalu di-back up militer guna keberhasilan tujuan. Makanya Freeport di Papua seakan-akan ada “negara dalam negara”. Dijaga ketat oleh pasukan entah dari mana. Masyarakat di sekitar cuma penyaksi. Ketika warga mengais sisa-sisa rezeki di pinggiran sungai, justru ditangkapi polisi.

(6) Perang di Luar Kawasan (Proxy War)

Ia memperbanyak pangkalan militer di lain negara dan juga kapal induk. Harus diakui AS adalah raja kapal induk dunia. Mempunyai 13 buah (info terbaru 20 buah). Amphibius Ship/kapal induk kecil 7 buah. Sedangkan Jet Carrier diantaranya 11 bertenaga nuklir dan 2 konvensional. Bandingkan dengan Inggris yang cuma mempunyai 3 buah, Perancis 2 buah, sedangkan Rusia 1 buah. Bila diibaratkan orang, maka kedua kaki AS ialah puluhan kapal induk serta ratusan kapal selam canggih siap laga.

(7) Doktrin Pre-emtive Strike

Artinya serangan dini. Suatu negara boleh diserang/diinvasi militer cukup dengan sebuah asumsi. Doktrin ini lahir karena phobia (rasa takut berlebihan tanpa dasar) terhadap Islam. Bahkan doktrin ini pernah disosialisasi kepada dunia dengan menumpang ratifikasi doktrin PBB setiap dua tahun sekali. Tapi syukurlah konsep itu ditolak banyak negara.

(8) Invasi Militer (Hard Power)

Inilah methode unggulan. Sejalan karakter hawkish para man power (tenaga ahli)-nya yang menempatkan kekerasan sebagai sikap utama dalam mencapai tujuan. Misalnya, pada suatu daerah target yang kaya sumber daya alam (emas, minyak dan gas bumi), maka langkah awal ditimbulkan stigma. Entah dicap membiayai teroris, sarang teroris, memproduksi senjata pemusnah massal dst. Kemudian dikeroyok beramai-ramai dengan sekutunya (NATO dan ISAF). Setelah dikuasai dibuat pemerintahan boneka, dirampok segala sumber daya alam di daerah melalui bargaining dengan sekutu dan kaum entrepreneur. Kemudian dipeta-peta dibuat “kapling-kapling”. Jika invasi militer berjalan sukses maka seperti lebaran, mereka bagi-bagi jajanan.

(9) Perang Candu

Strategi ini merupakan alternatif. Artinya antara invasi militer dan perang candu bisa berjalan serentak. Boleh duluan atau belakangan. Tergantung analisa intelijen. Yakni membuat marak candu, minuman keras dan narkoba di daerah sasaran sebagai alat termurah merusak bangsa. Tujuanmya membuat lumpuh generasi muda di negara target agar tidak timbul gejolak politik. Contoh perang boxer di China doeloe, para pemuda diracuni candu oleh imperalis sehingga tidak punya daya lawan terhadap penjajahan negerinya.

Hal yang wajar ketika AS amat antusias menguasai ladang-ladang opium dan mafia jaringannya di Afghanistan, oleh karena selain itu bagian strategi dan metodenya, juga disebabkan invasi militernya ke Iraq belum menghasilkan apa-apa. Belum sebarel pun minyak terangkut dari bumi 1001 malam, justru kebangkrutan kini di depan mata.

(10) Provincial Recontruction Team (PRT)

Sebenarnya ini metode tua era 1970-an. Istilahnya barang baru stock lama. Dahulu kala pola ini ditinggalkan karena dianggap lambat dalam penguasaan wilayah. AS yang dikuasai unsur berkarakter hawkish lebih menyukai invasi militer daripada metode ini. Invasi dinilai lebih cepat meraih hasil daripada PRT, meskipun resiko yang ditimbulkan adalah budget besar dan dukungan (legitimasi) internasional. Metode lama ini dibangkitkan kembali, oleh karena invasi militer tidak menjamin keberhasilan misi dan “modal usaha” belum tentu kembali.

Catatan penting dari Iraq: kendati invasi militernya dianggap illegal oleh PBB namun ia tak perduli. Jalan terus. Dan PBB pun cuma bisa termangu-mangu.

PRT bergerak lewat provinsi-provinsi dalam berbagai bidang. Tujuan utamanya adalah menjerat masyarakat agar tergantung kepada suatu kaum, golongan atau sekelompok orang. Masyarakat dibentuk menjadi “parasit”. Hidup menumpang tidak punya pijakan. Tidak ada jiwa juang apalagi daya lawan. Menjadi mainan segelintir orang.

sumber: http://votreesprit.wordpress.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar