Rabu, 06 November 2013

Bisnis Perang Made In Amerika


Ada lelucon yang beredar selama invasi AS ke Iraq: “Iraq memiliki senjata pemusnah masal!” teriak Menteri Pertahanan Amerika Serikat ketika itu, Donald Rumsfeld, kepada siapa saja yang mau mendengar.

“Tahu darimana?” tanya seorang pengamat yang skeptis.
“Karena saya punya kuitansinya!”

Ihwal kuitansi itu bukanlah isapan jempol. Adalah Andreas Zumach, seorang koresponden PBB yang bertugas di Jenewa, di harian Jerman, Die Tageszeitung. Zumach memperoleh beberapa bagian laporan Iraq untuk PBB yang merinci program persenjataannya. Dokumen yang dimiliki Zumach patut dikoleksi: ba- gian-bagian dari laporan tentang Iraq setebal 12.000 halaman yang telah diubah oleh Amerika.

Bagian dari laporan PBB yang disensor Amerika mengidentifikasi setidaknya 24 perusahaan AS yang membantu Iraq membangun program persenjataan dan roket sebelum Perang Teluk. Daftar tersebut mencakup: Bechtel (non-nuklir), DuPont (nuklir), Eastman Kodak (roket), Hewlett-Packard (nuklir, roket, non- nuklir), Honeywell (roket, non-nuklir), International Computer System (nuklir, roket, non-nuklir), Rockwell (non-nuklir), Sperry Corp.(roket, konvensional), Tektronix (roket, nuklir), Unisys (nuklir, non-nuklir).

Die Tageszeitung juga melaporkan bahwa Departemen Energi AS mengirim bagian nonfissile (atom yang tidak dapat dibelah) yang penting untuk program nuklir Baghdad di tahun 1980-an. Pemerintahan Reagan dan Bush Senior juga menyetujui penjualan bahan kimia dan biologi mematikan untuk Iraq, termasuk anthraks dan wabah pes.

Lalu, bagaimana itu bisa hilang? Di bulan Desember 2002 posisi ketua Dewan Keamanan PBB dipegang oleh Kolombia. Pada tanggal 6 De- sember, dua belas anggota Dewan Keamanan PBB setuju untuk menyediakan salinan laporan lengkap bagi semua anggota Dewan Keamanan, kecuali bagian informasi cara merakit bom nuklir.

Tapi, (mantan) Menteri Luar Negeri AS Colin Powell diam-diam membujuk duta besar Kolombia untuk PBB untuk menyediakan laporan asli tentang Iraq khusus untuk Amerika. Laporan tentang Iraq tersebut tiba di PBB tanggal 8 Desember. Duta Besar Kolombia, dalam kapasitasnya sebagai presiden Dewan Keamanan, dengan patuh memerintahkan agar laporan itu diserahkan segera dan eksklusif untuk diplomat AS. Pejabat AS kemudian membawa laporan itu ke Washington DC dan menyimpannya selama 26 jam. Alasan resmi untuk tindakan ini: Mesin fotokopi di Washington DC lebih baik.

Saat anggota Dewan Keamanan menerima salinan untuk mereka, laporan yang amat tebal itu telah menyusut menjadi 3500 halaman. Ada apa dalam 8500 halaman yang hilang itu? Informasi yang bisa mempermalukan perusahaan-perusahaan AS dan pemerintahan George W. Bush. Walhasil, anggota-anggota tidak tetap Dewan Keamanan dan masyarakat hanya menerima laporan program senjata Iraq yang sudah disterilkan pemerintahan Bush. Dokumen yang sudah disensor itu tidak menyebut-nyebut keterlibatan AS dalam mempersenjatai Saddam Hussein.

Colin Powel menepis laporan tentang Iraq sebagai “katalog berisi daur ulang dan penghilangan memalukan.” Anehnya, ia begitu gigih mencegah semua orang, termasuk pengawas persenjataan PBB, menemukan kebenaran dengan mata kepala sendiri. Sekretaris Jendral PBB saat itu Kofi Annan “menyayangkan” bahwa AS membajak laporan ini. Hans von Sponeck, mantan asisten Sekjen PBB dan koordinator kemanusiaan PBB di Iraq hingga tahun 2000, menyatakan, “Usaha penyesatan dari Amerika ini sungguh menggusarkan.”

Saddam: Didukung dan Dihancurkan

Tahun 2002, menteri Pertahanan Donald Rumsfeld menyatakan, “Rezim Saddam Hussein begitu bengis, membunuh begitu banyak rakyatnya sendiri, dan menggunakan senjata kimia terhadap rakyatnya sendiri…ini adalah salah satu rezim terbengis di muka bumi.” Namun sepertinya hal itu bukan masalah beberapa tahun sebelumnya, saat Saddam menjadi diktator di Timur Tengah favorit Rumsfeld.

Pamor Saddam Hussein naik menyusul kudeta Partai Baath tahun 1968 di Iraq dan kemudian menjadi presiden pada tahun 1979. Hubungan Washington dengan Baghdad tegang sejak Perang Arab-Israel tahun 1967. Tapi di pertengahan 1980-an, sikap AS berubah.

Koresponden Democracy Now!, Jeremy Scahill, melaporkan bagaimana Amerika menyokong Saddam Hussein pada saat ia aktif menggunakan senjata kimia. “Lima tahun sebelum 1988, saat Saddam melakukan pembantaian terkenal terhadap suku Kurdi dengan gas, berlangsung sebuah pertemuan kunci di Baghdad yang akan berperan penting dalam mengokohkan ikatan erat antara saddam Hussein dan Washington,” Scahill melaporkan.

tentara amerika perang iraq 490x326 Bisnis Perang a la Amerika (2)

Adalah utusan Ronald Reagan untuk Timur Tengah, Donald Rumsfeld, yang pergi ke Baghdad “membawa surat tulisan tangan untuk Presiden Irak Saddam Hussein. Ia juga membawa pesan bahwa kapan pun Washington bersedia melanjutkan hubungan diplomatik. “Hanya dua belas hari setelah pertemuan itu, tanggal 1 Januari 1984, The Washington Pos melaporkan: “Sehubungan dengan pengubahan kebijakan, Amerika memberitahu negara-negara sahabat di Teluk Persia bahwa kekalahan Irak dalam perang tiga tahun melawan Iran ‘bertentangan dengan kepentingan AS.’ Amerika telah mengambil beberapa langkah unutk mencegah hal tersebut.”

Di tahun 2003, Rumsfeld mengutip penggunaan gas beracun oleh Irak sebagai alasan AS menyerang Irak. Tapi, di tahun 1984, ia tutup mulut mengenai serangan gas tersebut. Menurut laporan New York Times dari Baghdad tanggal 29 Maret 1984, “Diplomat Amerika menyatakan puas dengan hubungan Irak dan Amerika. Mereka menyarankan pemulihan ikatan diplomatik menyusul pemulihan wewenang.” Di bulan November 1984, hubungan diplomatik antara Irak dan Amerika pulih sepenuhnya.

Rumsfeld membantu memfasilitasi belanja Irak di perusahaan-perusahaan Amerika. Seperti diberitakan Los Angeles Times, antara tahun 1985 dan 1990, pemerintah AS menyetujui penjualan teknologi tinggi “senilai 1,5 miliar dolar” untuk Irak. Banyak bukti menunjukkan bahwa itu adalah senjata militer berfungsi ganda.
Tahun 1984, tak lama setelah pertemuan Rumsfeld dan Saddam, Departemen Luar Negeri AS menggolkan penjualan 45 helikopter Bell 214ST ke Irak. Tindakan itu dilakukan atas nama “peningkatan penetrasi Amerika ke dalam pasar pesawat sipil yang sangat kompetitif.” Helikopter senilai kurang lebih 200 juta dolar tersebut awalnya dirancang untuk keperluan militer. The New York Times kemudian memberitakan bahwa Saddam ‘mengalihkan keba- nyakan, kalau bukan semua (helikopter itu), ke dalam militernya.”

Hasil dari belanja maut ini tidak mengejutkan. Pada 1988, pasukan Saddam dituduh menghujani warga sipil
Kurdi di utara Halabja dengan gas beracun dari helikopter dan pesawat Irak. Los Angeles Times melaporkan bahwa narasumber intelijen AS “percaya bahwa ada helikopter buatan Amerika ikut menjatuhkan bom maut tersebut.” Secara keseluruhan sekitar lima ribu orang tewas dalam serangan tersebut.

Sebagai respon serangan gas ini, Senat AS mengesahkan sanksi luas yang semestinya akan mencegah akses Irak terhadap sejumlah besar teknologi AS. Peraturan ini dibatalkan oleh pemerintah Reagan-Bush. Alasannya? Irak bisa menghasilkan uang.

Desember 1988, sementara makam-makam di Halabja masih basah, Dow Chemical menjual pestisida seharga 1,5 juta dolar pada Irak, meski beberapa pejabat pemerintah AS khawatir pestisida itu digunakan sebagai agen dalam perang kimia. Menurut The Washington Post, “Seorang pejabat Export-Import Bank, dalam sebuah memorandum, menyatakan, ia tidak menemukan ‘alasan’ untuk menghentikan penjualan ini. Meskipun telah ada bukti bahwa pestisida ‘sangat beracun’ bagi manusia dan dapat menyebabkan ‘mati lemas.’”

Mantan Senator Bob Dole sangat bersemangat untuk bekerjasama dengan sang diktator. The Washington Monthly menggambarkan sebagai “duta besar dengan niat baik” dari Presiden George Bush I untuk Saddam Hussein. Dole bertugas untuk membatalkan sanksi terhadap Irak tahun 1989, kurang dari setahun setelah serangan gas di Halabja. Dole pergi ke Irak untuk bertemu Saddam Hussein. Dole menyatakan sang diktator “seorang yang cerdas” dan berkeras ada “potensi untuk mempererat hubungan kita.” Ia tidak mengatakan tentang jaminan pinjaman AS, yang disetujui Presiden Bush, yang menjadikan Irak salah satu importir terbesar beras, jagung, dan gandum Amerika. Sebagian besar hasil bumi itu berasal dari kampung halaman Dole, Kansas.

iraq war3 490x326 Bisnis Perang a la Amerika (3)

Eksploitasi Tragedi 9/11

Rezim Bush tanpa malu-malu mengekploitasi peristiwa 9/11. Cetak biru untuk semua peristiwa setelah 9/ 11 telah digambarkan bertahun-tahun silam oleh Project for the New Ame- rican Century (PNAC). Kelompok pakar ini dibentuk tahun 1997 “untuk mendorong kepemimpinan globar Amerika.” Para pendirinya merupakan tokoh-tokoh penting gerakan neo-konsevatif (Neo-Cons) yang melebur dengan mulus menjadi petinggi pemerintah Bush Junior.

Di antaranya Menteri Pertahanan Donald Rumsfeld, Wakil Presiden Dick Cheney, kepala staf Cheney L.
Scooter Libby, Deputi Menteri Pertahanan Paul Wolfowitz, anggota Dewan Kebijakan Pertahanan Richard Perle, dan anggota staf Dewan Keamanan Nasional Elliot Abrams. Bukan hal kebetulan semuanya berdarah Yahudi.

Anggota PNAC telah memiliki reputasi di Washington, menurut penjelasan Ray McGovern, pensiunan analis CIA dengan pengalaman selama 27 tahun. Ia juga pernah menjadi pemasok keterangan intelijen unutk Wakil Presiden George Bush. Menurut McGovern, “Saat melihat orang-orang itu kembali, kami semua berkata…’Ya Tuhan, orang- orang gila itu sudah kembali.” McGovern berkata bahwa skema geopolitik mereka yang tak masuk akal, seperti yang sudah-sudah, akan “langsung masuk ke keranjang sampah.”

iraq war1 490x326 Bisnis Perang a la Amerika (3)

Bulan September 2000, PNAC mengeluarkan laporan yang mengusulkan agar Amerika mendominasi sumber daya global dan dunia. Kunci dalam mewujudkan hal ini adalah “peristiwa yang mengandung bencana dan berdampak besar, seperti Pearl Harbor modern.”

Menurut tulisan reporter investigasi, John Pilger, “(PNAC) merekomendasikan peningkatan belanja senjata sebanyak 48 miliar dolar. Jadi Washington akan dapat ‘berperang dan dan memenangkan banyak pe- perangan besar secara berkelanjutan.’ Ini sudah terjadi. Laporan itu menyarankan agar Amerika mem bangun senjata nuklir ‘yang dapat menghancurkan bunker’ dan menjadikan ‘perang bintang’ sebagai prioritas nasional. Ini sedang terjadi. Laporan ini berkata, bila Bush memegang kekuasaan, Irak harus menjadi target. Dan itulah yang terjadi.”

Senjata pemusnah massal dan Irak hanyalah dalih unutk rencana yang lebih besar. Menurut PNAC: “Konflik yang belum tuntas di Irak menjadi pembenaran langsung. Tetapi kebutuhan akan kehadiran kekuatan besar-besaran Amerika di Teluk melebihi masalah rezim Saddam Hussein.”

Maka di pada tanggal 12 September 2001, Donald Rumsfeld bereaksi atas serangan terhadap WTC dan Pentagon dengan menyatakan di hadapan kabinet Bush bahwa Amerika harus segera menyerang Irak. Tak masalah jika saat itu atau nantinya bahwa Irak tidak terkait dengan Al-Qaidah atau serangan 9/11. Golongan neo-konservatif, yang kesal karena kita hanya memiliki pompa dan bukan minyak, gatal ingin menguasai dunia. Fakta-fakta dapat dibentuk bela- kangan sesuai rencana.

Sementara itu tim Bush melihat 9/11 sebagai berkah potensial bagi para kroninya. Sekarang tinggal menyusun rencana, dan cetak biru PNAC sudah siap di tangan. Penasihat Keamanan Nasional, Con- doleeza Rice, memberitahu staf senior Dewan Keamanan Nasional, “untuk memikirkan ‘cara memaksimalkan kesempatan ini?” ia mem- bandingkan situasi ini dengan “1945 hingga 1947,” yakni permulaan perang dingin (cold war).

iraq war5 490x326 Bisnis Perang a la Amerika (4   Habis)

Kelompok Bush bersemangat ingin merespon seruan ini. “Sejak 11 September,” Pilger melaporkan, “Amerika telah mendirikan basis gerbang di semua sumber bahan bakar fosil utama, terutama di Asia Tengah. Perusahaan minyak Unocal berencana membangun pipa minyak melintasi Afghanistan. Bush telah mengabaikan Protokol Kyoto tentang emisi gas rumah kaca, kriteria kejahatan perang dari Pengadilan Kejahatan Internasional, traktat rudal anti-balistik.” Dan itu baru permulaan. “Rezim Bush membangun senjata- senjata pemusnah massal baru yang melanggar perjanjian internasional mengenai peperangan biologi dan kimia.”

Serangan teroris begitu berguna bagi kepentingan agenda neo-konservatif hingga para pecinta perang ingin menyulut lebih banyak serangan. Seperti yang ditulis William Arkin di Los Angeles Times, Dewan Ilmu Per- tahanan Rumsfeld pada tahun 2002 mengusulkan pendirian diam-diam “Grupm Operasi Pre-emptif dan Proaktif (P2OG). Grup ini akan menyatukan CIA, aksi rahasia militer, perang informasi, intelijen, dan pe- nyamaran dan penipuan.

Di antaranya, grup ini akan melancarkan operasi rahasia yang bertujuan ‘memicu reaksi’ para teroris dan negara yang memiliki senjata pemusnah massal. Misalnya mendorong ke-lompok teroris agar beraksi dan menjadikan mereka sasaran serangan ‘respon cepat’ dari militer AS. Taktik ini akan…’memberi isyarat pada negara yang melindungi teroris bahwa kedaulatan mereka terancam bahaya.”

Sekitar empat ribu warga sipil Afghan tewas, dan sekitar 9600 warga sipil Irak terbunuh dalam usaha meraih impian kosong hegemoni militer global. Tetapi rencana perang dunia jauh lebih ambisius. Seperti dinyatakan Jenderal Wesley Clark dalam Winning Modern Wars: Iraq, Terrorism, and the American Empire, ia mendapat informasi secara pribadi dari dari seorang rekan di jajaran atas Pentagon.

Perang melawan terorisme adalah bagian dari “rencana jangka lima tahun, dan secara keseluruhan akan melibatkan tujuh negara. Mulai dari Irak, kemudian Suriah, Libanon, Libya, Iran, Somalia dan Sudan.” Clark, seorang mantan Komandan Tinggi Sekutu NATO, berkata, “Saya meninggalkan Pentagon siang itu perasaan cemas.”

Di seberang Atlantik ada Michael Meacher, Menteri Lingkungan dalam kabinet Tony Blair sejak Mei 1997 hingga Juni 2003. a menulis di suratkabar Inggris, The Guardian, bahwa laporan PNAC merupakan “cetak biru untuk dominasi dunia oleh AS.” Peristiwa 11 September adalah alasan tepat untuk mewujudkan cetak biru tersebut, kata Meacher. Tapi, apa tujuannya?

iraq war7 490x326 Bisnis Perang a la Amerika (4   Habis)

“Motivasi utama…adalah AS dan Inggris mulai kekurangan pasokan energi hidrokarbon. Di tahun 2010, Muslim akan mengendalikan sekitar 60% produksi minyak dunia. Yang lebih penting lagi, mereka akan mengendalikan 95% kapasitas ekspor minyak global yang tersisa. Karena permintaan meningkat, pasokan pun menurun, sejak tahun ’60- an.”

“Perang global melawan terorisme,” Meacher menyimpulkan, “memiliki ciri-ciri mitos politik yang disebarkan untuk memuluskan jalan menuju agenda yang sama sekali berbeda. Tujuan AS adalah hegemoni dunia, yang dibangun dengan pengamanan secara paksa terhadap pasokan minyak yang dibutuhkan untuk mendorong keseluruhan proyek ini.”

Perang adalah Bisnis Amerika
Belum lama ini saya menonton film JFK yang dibuat tahun 1991 karya Sutradara Oliver Stone yang mengisahkan Jim Garrison seorang Pengacara Wilayah yang mencoba menguak misteri kematian Presiden Amerika Serikat John F. Kennedy. Dalam Film tersebut diceritakan bahwa dalang pembunuhan John F. Kennedy justru dari pihak pemerintahan Amerika sendiri yaitu CIA, FBI, dan wakil presidennya L.B. Johnson yang bekerja sama dengan agen mata-mata Rusia dan Mafia dari Kuba. Alasan di bunuhnya John F. Kennedy adalah karena kebijakan-kebijakannya tak sepaham dengan misi Amerika terhadap dunia, salah satunya adalah kebijakan yang ingin memulangkan pasukan Amerika dari Vietnam dan juga tidak menyetujui untuk membantu orang-orang buangan Kuba untuk menggulingkan Fiedel Castro.
JFK sendiri dikenal sebagai salah satu tokoh perdamaian dunia oleh karena itu CIA melakukan konspirasi dengan membuat rencana pembunuhan yang di atur sedemikian rupa dan sangat gamblang dijelaskan dalam film bagaimana terjadinya proses penembakan tersebut. Dalam film tersebut terkuaklah rahasia bahwa Amerika melalui CIA akan membunuh siapa saja pihak yang tidak sepaham dengan cara apapun karena kepentingan Amerika (CIA) disini adalah menciptakan perang di dunia karena melalui perang mereka mendapatkan uang dan juga terealisaikan tujuan politiknya. Ya , Perang adalah Bisnis Amerika.
Apa itu CIA ? 
CIA atau Central Intelligence Agency merupakan agen rahasia pemerintah Amerika Serikat (BIN-nya Indonesia).
Didirikan pada 18 September 1947 sesuai penandatanganan NSA 1947 (National Security Act) oleh Presiden Harry S. Truman
CIA merupakan kamuflase dari OSS (Office of Strategic Services) yang menjadi agen spionase Amerika untuk pemenangan Perang Dunia II (PD II).
Pada saat PD II berkecamuk, Amerika secara diam-diam mengambil kesempatan dengan membangun kekuatan baru secara rahasia di Eropa demi membendung pengaruh komunis.
Kerja keras agen rahasia Amerika semakin bertambah, ketika fasis Hitler mengalami kekalahan dan diikuti kemenangan dan kemunculan kekuatan sosialis dan komunis di Eropa, Asia dan Amerika Latin.
Menghadapi ‘bahaya’ pertumbuhan pesat pengaruh komunis di berbagai negeri tersebut, dan demi mempengaruhi hasil pemilu di Italia [saat itu Italia akan melakukan pemilu, dan dari perhitungan survei, pemilu akan dimenangi Partai Komunis Italia] agar menguntungkan politik Amerika Serikat, diadakannya kampanye di kalangan orang kaya Wallstreet untuk menyumbangkan dana buat melakukan operasi-operasi rahasia.
Dalam hubungan ini, Allen Dulles dengan keras mendesak Pemerintah Amerika Serikat untuk segera mendirikan organisasi-organisasi rahasia demi melakukan berbagai operasi khusus-opsus. Maka pemerintah [AS] menyetujui dan menetapkan dua ketentuan penting mengenai operasi-operasi khusus ini :
1. Harus rahasia
2. Harus masuk akal untuk dapat dibantah adanya keterlibatan Pemerintah [AS], seandainya operasi tersebut terbongkar.
(Sumber : Bung Karno Korban Perang Dingin, hal:103)
Salah satu badan operasi khusus yang didirikan adalah CIA pada tahun 1947.
Fungsi CIA
Seperti dijelaskan di depan, CIA muncul sebagai reaksi perang dingin yakni antara Amerika Serikat (liberal kapitalis) dengan Uni Soviet (komunis-sosialis). Diawal-awal pembentukan, aksi-aksi CIA cukup memuaskan bagi pemerintah AS. CIA berhasil menenggelamkan paham komunis dan sosialis melalui berbagai konspirasi, sehingga perang ideologi cukup sukses dimenangkan Amerika. Dengan berkurangnya pengaruh Soviet serta hancurnya negara-negara sosialis melalui kudeta dan pemberontakkan, CIA mulai memasuki isu keamanan energi.
Operasi-operasi yang awalnya merupakan perang melawan ideologi (komunis, sosialis dan nasionalis), kini mereka bertugas menguasai negara-negara yang kaya dengan sumber daya alam dan minyak dibawah kendali AS. Mereka terus memburu negeri-negeri yang kaya sumber daya alam, dari Timur Tengah, Amerika Latin, Afrika hingga Indonesia (Buku : Confession Economic Hitman dan A Game as Old As Empire).
Untuk memuluskan rencana-rencana kotornya, selalu ada EHM yang mendahului jalan CIA. Indonesia yang kaya raya akhirnya dimiskinkan sejak 1967 hingga saat ini (penjajahan ekonomi). Dengan bantuan-bantuan ahli ekonomi AS, EHM, CIA, Word Bank, IMF, ADB, negara-negara seperti Indonesia, Panama, Paraguay terjerat utang dan terjajah secara ekonomi. Begitu juga negara-negara Afrika yang kaya dengan emas, alumunium, dan minyak, rakyatnya mati kelaparan.
Yang paling tragis, aksi-aksi lembaga dan organisasi AS ini didukung oleh sejumlah oknum di pemerintahan sejak Orde Baru. Emas dan Tembaga di Tembagapura disedot habis-habisan oleh Freeport ditengah kemiskinan dan rendahnya pendidikan masyarakat Papua. Kontrak migas pun dilelang seperti barang tidak berharga, dan mengakibat Indonesia terkatung-katung tatkala harga minyak naik (Juli 2008 ) dan konsumsi meningkat di atas 1 juta barel per hari.
Berbagai tindakan kejam perusahaan dan kepentingan Amerika mendapat legitisami hukum lewat beberapa UU (yang jelas melanggar UUD 1945). Kita tidak perlu bingung atas terbitnya beberapa UU (Migas, Pendidikan, Ekonomi), karena  produk hukum Indonesia merupakan titipan pemerintah Amerika.
Selain kedua hal tersebut [ideologi, keamanan energi dan ekonomi], CIA saat ini sedang bingung mengalahkan sejumlah kelompok Islam Radikal yang disebut sebagai teroris seperti Al-Qaeda, Taliban, Hamas, dan Hizbullah.
Beberpa Pemimpin Dunia yang Dibunuh oleh CIA ?
1. Hugo Chavez - Presiden Venezuela
Nicolas Maduro mengumumkan kematian Presiden Hugo Chavez dalam siaran televisi nasional pada tanggal 5 Maret 2013 lalu, dia mengatakan bahwa penyakit kanker yang diidap oleh presiden Venezuela Hugo Chavez adalah perbuatan musuh.
Stasiun televisi ABC melaporkan, Rabu (6/3/13), dalam pidato sepanjang 30 menit itu Maduro kerap menyerang pihak oposisi dan menyebut pada titik tertentu musuh lama Venezuela telah berhasil membuat kondisi kesehatan Chavez memburuk.
Seorang pengamat sekaligus kolumnis surat kabar the New York Times, Kevin Barnett, dalam situs stasiun televisi Press TV di hari yang sama menulis, “Chavez suatu kali pernah mempertanyakan kematian sejumlah pemimpin negara Amerika Latin oleh penyakit kanker.”
“Setahun lalu, Chavez pernah berbicara di radio nasional Venezuela. Dia mengatakan, sangat sulit dijelaskan bagaimana mungkin beberapa pemimpin Amerika Latin meninggal karena penyakit yang sama, yaitu kanker?”
2. Fiedel Castro - Presiden Kuba

Castro tampil sebagai sekretaris pertama Partai Komunis Kuba (Communist Party of Cuba) pada tahun 1965 dan mentransformasikan Kuba ke dalam republik sosialis satu-partai. Setelah tampil sebagai presiden, ia tampil sebagai komandan Militer Kuba. Pada 31 Juli 2006, Castro menyerahkan jabatan kepresidenannya kepada adiknya, Raúl untuk beberapa waktu.
Pada tahun 1947, ia ikut dalam upaya kudeta diktator Republik Dominika Rafael Trujillo dan lari ke New York (Amerika Serikat) karena adanya ancaman akan dihabisi lawan politiknya. Setelah meraih doktor di bidang hukum pada 1950, ia memprotes dan memimpin gerakan bawah tanah anti-pemerintah atas pengambil-alihan kekuasaan lewat kudeta oleh Fulgencio Batista pada 1952. Tahun 1953, ia memimpin serangan ke barak militer Moncada Santiago de Cuba, namun gagal. Sebanyak 69 orang dari 111 orang yang ambil bagian dalam serbuan itu tewas dan ia dipenjara selama 15 tahun.
Setelah mendapatkan pengampunan dan dibebaskan pada 15 Mei 1955, Fidel Castro langsung memimpin upaya penggulingan diktator Batista. Perlawanan ini kemudian dikenal dengan Gerakan 26 Juli. Pada 7 Juli 1955, ia lari ke Meksiko dan bertemu dengan pejuang revolusioner Che Guevara. Bersama 81 orang lainnya, ia kembali ke Kuba pada 2 Desember 1956 dan melakukan perlawanan gerilya selama 25 bulan di Pegunungan Sierra Maestra.
Di luar Kuba, Castro mulai menggalang kekuatan untuk melawan dominasi Amerika Serikat dan bekas negara Uni Soviet. Setelah runtuhnya Uni Soviet pada tahun 1991, cita-cita dan impiannya mulai diwujudkan dengan bertemu Hugo Chávez di Venezuela dan Evo Morales dari Bolivia.
Menjelang hari ulang tahunnya ke-80 yang jatuh pada 13 Agustus 2006, Fidel Castro menyerahkan tampuk kepemimpinannya untuk sementara waktu kepada adiknya. Praktis, Raúl merangkap jabatan, yakni sebagai Presiden Kuba dan Menteri Pertahanan Kuba. Sebelum menyerahkan kepemimpinan, masa jabatan Fidel Castro dari 2 Desember 1976 hingga 24 Februari 2008, namun de facto hingga 31 Juli 2006.
Pengamat dan kolumnis The New York Times Kevin Barnet, juga mengatakan pengawal Castro, Fabian Escalante, pernah menyebutkan Badan Intelijen Amerika (CIA) sudah 638 kali mencoba membunuh Castro. Metode CIA, kata dia, meliputi meledakkan cerutu, senjata biologi, pil mematikan, bakteri beracun dalam kopi, ledakan pengeras suara di mimbar pidato, penembak jitu, dan ledakan granat bawah air hingga menggunakan radioaktif yang berbahaya, polonium misalnya. Selain bahan radioaktif, ada pula bahan kimia yang tak terdeteksi yaitu Thallium, bahan mematikan ini diambil dari rumput laut dan dibuat menjadi cairan yang tidak berwarna, berasa dan berbau. Thallium merupakan bahan yang sangat sulit dideteksi. Salah satu karakteristik racun ini adalah ketika dicampurkan dengan makanan dan minuman, maka tidak akan merubah rasa, warna maupun baunya. Racun ini juga dapat langsung disuntikkan ke pembuluh darah.
Selain intelijen AS, beberapa intelijen dari negara-negara sekutunya juga berbuat operasi rahasia yang sama, namun tetap harus disetujui terlebih dahulu oleh intelijen AS dan Mossad Israel, Perancis misalnya.
3. Muammar Khadafi - Presiden Libya
 
Motif pembunuhan, menurut sumber-sumber Libya, adalah untuk menghentikan Qadhafi agar tak buka mulut soal hubungannya dengan Nicolas Sarkozy, yang disebut-sebut sangat dekat. Sarkozy adalah Presiden Prancis pada saat itu. Qadhafi tewas pada tanggal 20 Oktober 2012 dalam serangan di kota kelahirannya, Sirte, oleh para pejuang dari rezim baru. Sumber-sumber diplomatik di Tripoli, ibu kota Libya, menyatakan untuk surat kabar Corriere della Serra Italia bahwa sang pembunuh kemungkinan besar adalah utusan Sarkozy.
“Sejak awal dukungan NATO untuk revolusi, sangat didukung oleh pemerintah Nicolas Sarkozy, Qadhafi terang-terangan mengancam akan mengungkapkan perincian hubungannya dengan mantan Presiden Prancis, termasuk jutaan dolar yang dibayarkan untuk membiayai pencalonannya pada pemilu tahun 2007,” tulis media ini. Salah satu sumber Tripoli mengatakan, “Sarkozy memiliki setiap alasan untuk mencoba membungkam Kolonel secepat mungkin.” 
Para mantan pemimpin Barat, termasuk Sarkozy dan mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair, diam-diam menjalin hubungan personal dengan Qadhafi. Mereka mengunjungi dia secara teratur dan membantu untuk memfasilitasi bisnis bernilai miliaran dolar Amerika dengan negara itu. Bahkan sebelum adanya penjara Guantanamo, AS pernah meminta izin kepada Khadaffi untuk membuat sebuah penjara persis seperti Guantanamo di tengah gurun Libya.
Awalnya Khadaffi tak setuju dengan permohonan AS yang ingin membuat penjara mirip Guantanamo tersebut. Namun akhirnya penjara tersembunyi khusus untuk orang-orang yang dianggap menentang AS itu sempat terlaksana. Hal ini adalah sebagian kecil dari banyak rahasia tingkat tinggi yang tak diketahui dunia luar. 
Sarkozy, yang pernah menyambut Qadhafi sebagai “pemimpin saudara” selama kunjungan kenegaraan ke Paris, dikatakan telah menerima jutaan uang dari Libya untuk mendanai kampanye pemilihannya tahun 2007.
Teori konspirasi akan menjadi perhatian besar bagi Inggris yang mengirim jet untuk mengebom Libya tahun 2012 dengan alasan tujuan ‘menyelamatkan nyawa sipil’. Sebuah mandat PBB menyatakan bahwa sekutu Barat tidak bisa ikut campur dalam politik internal negara. Namun pengeboman hampir setiap hari terjadi dengan ‘penasihat’ militer Prancis dan Inggris membantu di lapangan. Soal siapa pembunuh Qadhafi secara tersirat pernah disampaikan Mahmoud Jibril, yang menjabat sebagai Perdana Menteri interim, menyusul penggulingan Qadhafi. Ia mengatakan kepada televisi Mesir, “Itu adalah agen asing yang berbaur dengan brigade revolusioner untuk membunuh Qadhafi.”
4. Yasser Arafat - Pemimpin Palestina
Misteri kematian mantan pemimpin Palestian Yasser Arafat kembali menjadi bahan pemberitaan sejak kematiannya yang mencurigakan banyak pihak. Pasalnya, temuan terbaru pakar radiofisika dari Univeritas Lausanne, Swiss, Francois Bachud menunjukkan, pemimpin legendaris itu dibunuh menggunakan racun kimia jenis Polonium yang mengandung radioaktif. Sebelumnya, salah satu teka-teki penyebab kematian Yasser Arafat disebut-sebut karena diracun zat kimia langka, jenis Thallium. Bachud melakukan penelitian di laboratorium di Swiss berdasarkan sampel biologis yang diambil dari benda-benda peninggalan Arafat.

“Kesimpulannya yakni kami menemukan kandungan besar polonium dalam sampel-sampel tersebut,” jelas Bochud yang merupakan Kepala Institut Radiofisika di Universitas Lausanne kepada Al-Jazeera dan dilansir oleh AFP, Rabu (4/7/2012). Sampel itu diperoleh setelah Suha, istri Arafat menyerahkan beberapa benda peninggalan suaminya kepada rumah sakit militer Percy di Paris, Prancis. Di antaranya, pakaian terakhir yang dikenakan, sikat gigi, dan kafiyeh yang sering digunakan Arafat.
Kandungan polonium yang ditemukan, kata Bochud sangat tidak wajar karena selain sangat tinggi, juga ditemukan dalam pakaian dan benda-benda yang digunakan sehari-hari. Namun, menurut dia, analisis lebih lengkap akan membantu bila jasad Arafat bisa diperiksa kembali. “Jika Suha ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada suaminya, kami memerlukan sampel — maksud saya, melalui penggalian makam dan memeriksa jasadnya untuk memberikan kami sampel yang mengandung polonium dalam jumlah tinggi guna mengetahui apakah memang dia diracun,” jelas dia.
Sedangkan Yaseer Arafat sendiri meninggal di rumah sakit militer Percy di Paris pada usia 75 tahun. Saat itu, kematian penerima hadiah Nobel Perdamaian itu dikabarkan meninggal karena penyakit misterius. Agen rahasia Mossad dari Israel pun dituding berada dibalik kematian itu meski sampai saat ini tidak ada pembuktian mengenai hal itu.
5. John F. Kennedy - Presiden Amerika
 
Pada 1960, ia menjadi termuda yang dipilih menjadi Presiden Amerika Serikat dan termuda kedua setelah Theodore Roosevelt untuk jabatan presiden. Kennedy menjadi presiden setelah dilantik pada 20 Januari 1961. Jabatan kepresidenan John F. Kennedy terhenti setelah terjadi pembunuhan terhadap dirinya pada 1963. Ia tewas oleh terjangan peluru saat melakukan kunjungan ke Dallas (Texas) pada 22 November 1963.
Kennedy roboh saat mobil terbuka yang membawanya melintas di kerumunan orang yang menyambut kunjungannya. Pada 25 November 1963, jenasahnya dimakamkan di Arlington, Washington, DC. Sebanyak 800.000 orang ikut berkabung di jalanan Washington. Pembunuhan Presiden John F Kennedy adalah pembunuhan tak terungkap secara pasti, hingga kini.
Dalam beberapa tahun terakhir malah disebutkan bahwa pembunuhan presiden John F Kennedy memang direncanakan oleh CIA. Badan intelijen negara CIA, kata Barnett, juga sudah melakukan percobaan pembunuhan terhadap sejumlah pemimpin Amerika Latin yang menolak keinginan Amerika.
Amerika selalu mendefinisikan teroris adalah seseorang, kelompok atau sejenisnya yang tak sefaham dengan aturan dan tak mau di dikte oleh negara Paman Sam itu, maka disebutlah sebagai teroris!
6. Soekarno - Presiden Indonesia
Dulu di Indonesia, saat dipimpin oleh sang proklamator presiden Sukarno, juga sempat akan dibunuh berkali-kali. Sukarno ingin dibunuh mulai dari pihak Belanda hingga pihak CIA Amerika, bahkan antek-antek CIA berkulit pribumi juga ikut didanai. Rencana pembunuhan Presiden Sukarno melalui beberapa kali usaha kudeta dan pemisahan diri suatu wilayah, hingga keinginan merubah faham politik dan sejenisnya.
Indonesia diusahakan agar menjadi faham demokrasi, kebebasan, kapitalisme dan banyak faham lainnya, agar Indonesia tak utuh, alias terpisah dan tercerai-berai. Mirip banyak negara di dunia yang berhasil dipisahkan seperti Korea Utara & Korea Selatan, Jerman Barat dan Jerman Timur, Vietnam Utara dan Vietnam Selatan, Yaman Utara dan Yaman Selatan, Israel dan Palestina, India dan Pakistan serta Bangladesh dan masih banyak lainnya, semua perpecahan itu akibat pihak AS, dunia barat dan sekutunya yang menghasut rakyat negara-negara tersebut.
7. Munir Sahid Thalib
 
Secara pandangan netral, Munir membahayakan pihak Indonesia yang dianggap banyak melanggar HAM, walaupun itu digunakan untuk menjaga dan mempertahankan keutuhan, kedaulatan serta kestabilan negaranya. Tapi dari konspirasi tingkat bawah, Munir tewas diracun dari pihak intelijen Indonesia saat di pesawat, ia meninggal di Jakarta jurusan ke Amsterdam pada 7 September 2004 pada umur 38 tahun. Pihak Indonesia dituduh membunuhnya agar isyu HAM tak lagi ada.
Namun dari konspirasi tingkat tinggi, justru Munir diracun oleh pihak AS melalui orang suruhan atau antek AS dan dunia barat. Walaupun benar, namun akibat media dan cuci otak rakyat disuatu negara, maka isyu tingklat bawahlah yang lebih dipercaya, diracun oleh pihak Indonesia. Mereka para awam, tak lagi dapat melihat segalanya dalam pandangan netral, pandangan yang “siapa yang mengendalikan HAM dan dunia”, sedangkan isyu tingkat atas ini, akan dicemoohkan.
Masih banyak tokoh - tokoh dunia yang dibunuh di mulai dari Abraham Lincoln, Martin Luther King Jr. Saddam Husein, Osama Bin Laden dan lain-lain.   Pembunuhan terhadap para pemimpin “negara-negara penentang” aturan ala koboi Amerika tidak selalu sebagai acuan pihak AS dan sekutunya. Mereka banyak memiliki program, misi dan operasi untuk menghancurkan yang dianggap melawan.
Tak sedikit justru teman-teman dan pendukung Amerika dan sekutunya sendiri juga justru dibunuhnya. Selain membunuh Muamar Khadaffi yang justru sempat setuju dengan penjara politik sebelum ada penjara Guantanamo didirikan di gurun Libya, Saadam Hussein juga sempat menjadi “anak buah” Amerika dalam perang Iran – Irak. Dalam peperangan tersebut, AS justru membantu Irak dalam perang antar negara tetangga ini. Namun akhirnya Saddam Hussein justru digulingkan dengan alasan penggunaan “senjata pembunuh massal” yang hingga detik ini tak terbukti!
Begitu pula saat perang dingin antara AS dan (dulu) Komunis Soviet. Amerika menggunakan para pejuang Taliban di Afghanistan untuk menggempur Soviet, AS menggunakan “orang dan pihak lain” agar berlumuran darah, sedangkan AS duduk manis dibelakang meja, menonton. Namun saat perang dingin usai, Taliban justru “diburu dan dihajar” habis oleh negara koboi ini. Semua pihak yang bersebrangan namun bisa tunduk, tetap akan dihajar oleh AS disaat negara itu kembali tenang, kecuali para sekutu-sekutu lamanya.
Dalam “menyerang” musuh-musuhnya yang tak mau di dikte, pihak AS dan sekutunya selalu menggunakan cara yang efektif. Mulai dengan cara membunuh dengan cara membom, menembak, meracuni musuhnya, isyu untuk menggoyangkan pemerintahan melalui “antek-antek” pribumi atau oposisi dinegara tersebut, hingga isyu tentang hak azazi manusia. Padahal AS adalah justru negara yang termasuk buruk dalam masalah hak azazi manusia.
Jika cara tersebut tak mempan, maka AS akan menyusupi agen dan antek-anteknya lebih dalam lagi. Karena disetiap negara pasti ada kelompok yang menginginkan kekayaan semata, juga ada kelompok yang sakit hati terhadap pemerintahnya, rasa selalu tak puas dan sejenisnya, maka anggota intelijen AS akan mulai membuat negara tersebut untuk berselisih, membuat kerusuhan, hingga berperang di dalam negerinya sendiri alias sesama bangsa yang sama.
Jika bangsa dan warganya sendiri tak mempu membunuh pemimpinnya sendiri, maka AS akan menggunakan media dan propagandanya. Dengan memegang setiap media, AS akan dapat menghasut rakyat disuatu negara terhadap isyu-isyu politik yang berkembang. Setelah rakyat disuatu negara berhasil di cuci otak dan diubah pola pikirnya, maka AS akan menggunakan apa yang dinamakan Operation false flag. Dan operasi tersebut dalam banyak track record dan sejarah, dinilai sangat mujarab.
Operation False Flag, atau bahasa Indonesianya kira-kira “Operasi Bendera Palsu”, merupakan sebuah operasi rahasia yang dibuat sedemikian rupa untuk menipu publik sehingga publik mengira operasi tersebut dilakukan oleh kelompok lain. Tujuan dari operasi ini adalah justifikasi oleh pelaku operasi rahasia tersebut untuk menyerang negara lain yang telah direncanakan, yang selama ini menjadi musuh atau oposisinya. 
Namun, masing-masing negara yang menjalankan operasi ini tentunya memiliki kepentingan-kepentingan yang lain meskipun tujuan umum dari operasi ini adalah SAMA. “Jadi, jika Anda berpikir bahwa Presiden Venezuela, Hugo Chavez dan beberapa pemimpin dunia yang bersebrangan dengan AS, dan juga tokoh-tokoh yang berpihak kepada AS, serta tokoh-tokoh HAM dunia meninggal secara wajar bahkan oleh “musuh barat” dengan begitu saja, maka sepertinya Anda naif,” kata pengamat sekaligus kolumnis surat kabar the New York Times, Kevin Barnett. Demikianlah, semoga tulisan admin bermanfaat untuk pengetahuan saudara-saudara.
 
[Suhud Alynudin/Sumber: Majalah SAKSI/ Sumber: “Perang Demi Uang: Kebusukan Media, Politikus dan Pebisnis Perang” karya Amy Goodman dan David Goodman/islampos]

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar