Minggu, 27 Januari 2013

Sifat-sifat Orang Munafik

 
 
Dalam setiap generasi sepanjang zaman, di dalamnya tidak akan terlepas dari adanya orang-orang munafik dengan model yang berbeda-beda di setiap zamannya. Walaupun orang munafik zaman dahulu dengan munafik zaman sekarang dipisahkan oleh rentang waktu yang jauh, namun pada hakekatnya sangatlah dekat kesamaan mereka. Mereka berbeda zaman tetapi sama dan serupa sifat kemunafikan mereka, yaitu menampakkan sesuatu yang berlawanan dengan hatinya. Pada hati mereka terpendam sisi gelap berupa kekufuran, keraguan dan kerusakan terhadap Islam, tetapi badan mereka berada di sisi lain, yaitu kepura-puraan. Mereka membagus-baguskan perbuatan dan berlagak baik di hadapan lawan mereka yang sedang berkuasa dan mempunyai kekuatan. Di balik kepura-puraan ini mereka bernafsu untuk mendapatkan harta dunia walaupun tidak seberapa. Mereka rela menjual agama mereka dengan imbalan dunia, mereka mengaku beriman padahal dalam hatinya tersembunyi sebuah kekufuran. Allah ta'ala berfirman,

"Katakanlah: "Amat jahat perbuatan yang telah diperintahkan imanmu kepadamu jika betul kamu beriman (kepada Taurat)." (al-Baqarah: 93)"Katakanlah: "Amat jahat perbuatan yang telah diperintahkan imanmu kepadamu jika betul kamu beriman (kepada Taurat)." (al-Baqarah: 93)


Orang munafik mungkin ada di sekitar kita, dengan berbagai baju kebohongannya. Ada orang munafik tetapi bicaranya sangat sopan dan santun, ada juga yang perkataannya berisi keburukan, atau bahkan ada yang menjadi tokoh di masyarakat kita yang jika dia dimintai jawaban dari suatu masalah dia akan menjawab dengan jawaban yang sesat lagi menyesatkan.

Maka, pada tulisan ini kita akan sedikit membahas tentang sifat-sifat orang munafik yang memang dari pendahulunya mereka sudah menghalangi dakwah para Nabi dan menggerogoti keimanan para pengikutnya.

Di antara sifat-sifat orang munafik yaitu:



1. Tidak mau menerima hukum Allah padahal mereka mengaku beriman.

Kepatuhan terhadap hukum Allah mengharuskan adanya kebersihan dan kesucian hati dalam berserah diri untuk menerima hikmah Allah, sekaligus membersihkan hati dari hawa nafsu yang akan mudah dirasuki kemunafikan. Oleh karena itulah mengapa orang-orang munafik sangat sulit untuk berserah diri kepada Allah untuk menerima hukum-hukum yang ditetapkan, bahkan mereka dengan berani mengaku beriman dan ta'at.

Allah ta'ala berfirman mensifati orang-orang munafik,

"Dan mereka berkata: "Kami telah beriman kepada Allah dan rasul, dan kami mentaati (keduanya)." Kemudian sebagian dari mereka berpaling sesudah itu, sekali-kali mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman. Dan apabila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya, agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka, tiba-tiba sebagian dari mereka menolak untuk datang." (an-Nuur: 47,48)

Allah juga menggambarkan kerusakan hati mereka sehingga tidak mau melaksanakan hukum Allah kecuali jika hal itu mendatangkan kemaslahatan dan keuntungan duniawi bagi mereka,

"Tetapi jika keputusan itu untuk (kemaslahatan) mereka, mereka datang kepada rasul dengan patuh. Apakah (ketidak datangan mereka itu karena) dalam hati mereka ada penyakit, atau (karena) mereka ragu-ragu ataukah (karena) takut kalau-kalau Allah dan rasul-Nya berlaku zalim kepada mereka? Sebenarnya, mereka itulah orang-orang yang zalim." (an-Nuur: 49-50)

Sebaliknya Allah juga menggambarkan sifat orang beriman yang jauh berbeda dengan orang munafik, Allah berfirman,

"Sesungguhnya jawaban oran-orang mu'min, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan. "Kami mendengar, dan kami patuh". Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dan barang siapa yang taat kepada Allah dan rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan ." (an-Nuur: 51, 52)

Orang-orang munafik seperti ini disamping tidak mau menerima hukum Allah, sebaliknya mereka justru menerima dan menjalankan hukum-hukum wadh'i hasil buatan manusia. Mereka lebih menyukai dan mengutamakan hukum wadh'i dari pada hukum Allah ta'ala, padahal mereka mengaku sebagai orang Islam yang beriman secara dhohirnya. Allah ta'ala berfirman,

"Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu ? Mereka hendak berhakim kepada thaghut , padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya. Apabila dikatakan kepada mereka : "Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul", niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu." (an-Nisa': 60, 61)

Orang munafik melakukan semua ini karena pada hakekatnya tidak ada keimanan yang sesungguhnya di hati mereka, sebagaimana firman Allah ta'ala,

"Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya." (an-Nisa': 65)

Seandainya saja pada hati mereka sudah ada keimanan yang sesungguhnya, niscaya mereka tidak akan berhukum dengan hukum-hukum jahiliyah tersebut. Allah berfirman,

"Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin ?" (al-Ma'idah: 50)




2. Menyerukan pemisahan agama dari kehidupan dunia (sekulerisme)

Di antara sifat orang munafik, selain tidak mau menerima hukum Allah mereka juga mengabaikan penerapan syari'at dalam kehidupan sehari-hari. Padahal, syari'at Islam mengandung segala aturan kehidupan yang berfungsi menegakkan kebenaran dan keadilan yang bersumber langsung dari wahyu ilahi, sehingga tujuan utama dari syari'at Islam adalah untuk menjaga kemaslahatan manusia dengan mengatur kehidupan dunia berdasarkan aturan agama. Justru dengan syari'at Islam maka kehidupan seluruh makhluk di dunia ini akan menjadi baik, kecuali jika hati orang-orang munafik telah tertutupi dengan cinta dunia sehingga enggan menerapkan syari'at yang mulia ini.

Lihatlah bagai mana Nabi Syu'aib yang ingin memperbaiki kehidupan kaumnya dengan menunjukkan jalan kebenaran kepada mereka,

"Dan Syu'aib berkata: "Hai kaumku, cukupkanlah takaran dan timbangan dengan adil, dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka dan janganlah kamu membuat kejahatan di muka bumi dengan membuat kerusakan. Sisa (keuntungan) dari Allah adalah lebih baik bagimu jika kamu orang-orang yang beriman. Dan aku bukanlah seorang penjaga atas dirimu" (Huud: 85, 86)

Orang-orang munafik sangat gencar menyerukan sekularisasi, yaitu memisahkan urusan agama, aqidah atau sholat dengan kehidupan dan pekerjaan. Allah ta'ala berfirman,

"Mereka berkata: "Hai Syu'aib, apakah sembahyangmu menyuruh kamu agar kami meninggalkan apa yang disembah oleh bapak-bapak kami atau melarang kami memperbuat apa yang kami kehendaki tentang harta kami. Sesungguhnya kamu adalah orang yang sangat penyantun lagi berakal ." (Huud: 87)

Seakan-akan mereka (kaum Nabi Syu'aib) menganggap dakwah Nabi Syu'aib yang mengajak untuk memperbaiki kehidupan dunia dengan agama dan hukum-hukum Allah bukanlah petunjuk yang baik sehingga mereka mendustakannya. Padahal kehidupan dunia ini tidak akan lurus tanpa cahaya Allah dan harapan terhadap ridho-Nya. Allah ta'ala berfirman,

"Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya." (al-A'raf: 96)

Bahkan mereka menjadi hamba dunia yang selalu tamak terhadap harta-harta semu di dunia ini.



3. Berpaling dari dzikrullah (mengingat Allah)

Alangkah sempitnya dada orang munafik untuk segala hal yang bisa mengingatkan mereka kepada Allah, kepada kebaikan dan kepada dakwah. Allah ta'ala berfirman,

"Ingatlah, sesungguhnya (orang munafik itu) memalingkan dada mereka untuk menyembunyikan diri daripadanya (Muhammad) . Ingatlah, di waktu mereka menyelimuti dirinya dengan kain, Allah mengetahui apa yang mereka sembunyikan dan apa yang mereka lahirkan, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala isi hati." (Huud: 5)

Nabi Nuh 'alaihissalam ketika berdakwah kepada kaumnya, beliau tidak mendapatkan respon kecuali seluruh kaumnya menolak dan berpaling dari dakwah beliau. Sebagaimana dalam firman Allah ta'ala,

"Dan sesungguhnya setiap kali aku menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (kemukanya) dan mereka tetap (mengingkari) dan menyombongkan diri dengan sangat." (Nuuh: 7)

Pada hakekatnya, sifat enggan orang munafik ini sumbernya adalah rasa kebencian yang mendalam terhadap ayat-ayat Allah sampai-sampai mereka berani menyerang orang yang membacakan ayat-ayat Allah karena begitu bencinya mereka terhadap ayat-ayat-Nya. Allah ta'ala berfirman,

"Dan apabila dibacakan di hadapan mereka ayat-ayat Kami yang terang, niscaya kamu melihat tanda-tanda keingkaran pada muka orang-orang yang kafir itu. Hampir-hampir mereka menyerang orang-orang yang membacakan ayat-ayat Kami di hadapan mereka. Katakanlah: "Apakah akan aku kabarkan kepadamu yang lebih buruk daripada itu, yaitu neraka?" Allah telah mengancamkannya kepada orang-orang yang kafir. Dan neraka itu adalah seburuk-buruknya tempat kembali." (Al-Hajj: 72)

Oleh karena itu, tidak asing lagi jika orang munafik serasa seperti kejang jika mendengar ayat-ayat Allah karena begitu besar keengganan mereka terhadap segala hal berbau tauhid, dakwah dan kebenaran. Allah berfirman,

"Dan apabila hanya nama Allah saja disebut, kesallah hati orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat; dan apabila nama sembahan-sembahan selain Allah yang disebut, tiba-tiba mereka bergirang hati." (az-Zumar: 45)

Dan bagi orang-orang semacam mereka ini hanyalah penderitaan dan kesempitan dalam dien. Allah berfirman,

"Dan orang-orang yang kafir, maka kecelakaanlah bagi mereka dan Allah menyesatkan amal-amal mereka. Yang demikian itu adalah karena Sesungguhnya mereka benci kepada apa yang diturunkan Allah (Al Quraan) lalu Allah menghapuskan (pahala-pahala) amal-amal mereka." (Muhammad: 8-9)

Amal-amal mereka akan terhapus sia-sia sekaligus mendapatkan adzab yang sangat pedih di akhirat, Allah berfirman,

"Bagaimanakah (keadaan mereka) apabila malaikat mencabut nyawa mereka seraya memukul-mukul muka mereka dan punggung mereka? Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka mengikuti apa yang menimbulkan kemurkaan Allah dan karena mereka membenci keridhaan-Nya, sebab itu Allah menghapus (pahala) amal-amal mereka." (Muhammad: 27-28)

4. Adab yang buruk terhadap Allah dan Rasul-Nya

Mengagungkan Allah berserta semua syari'at-Nya merupakan bentuk ketakwaan hati yang tidak dimiliki oleh orang munafik. Sebagaimana yang kita ketahui, orang munafik sangat buruk adabnya terhadap Allah dan syari'at-Nya, dengan menolak hukum-hukum Allah dan enggan hal-hal yang mengajak untuk mengingatkan diri kepada Allah. Perkataan mereka terhadap Allah sangatlah buruk dan keji sebagaimana yang dilakukan oleh pendahulu mereka yang sama jeleknya, kaum Yahudi yang dengan lantang berkata tentang Allah perkataan yang keji, sebagaimana firman Allah,

"Sesungguhnya Allah telah mendengar perkatan orang-orang yang mengatakan: "Sesunguhnya Allah miskin dan kami kaya". Kami akan mencatat perkataan mereka itu dan perbuatan mereka membunuh nabi-nabi tanpa alasan yang benar, dan Kami akan mengatakan (kepada mereka): "Rasakanlah olehmu azab yang membakar." (Ali Imron: 181)

Dan firman Allah,

"Orang-orang Yahudi berkata: "Tangan Allah terbelenggu" , sebenarnya tangan merekalah yang dibelenggu dan merekalah yang dila'nat disebabkan apa yang telah mereka katakan itu. (Tidak demikian), tetapi kedua-dua tangan Allah terbuka. Dia menafkahkan sebagaimana Dia kehendaki. Dan Al Qur'an yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu sungguh-sungguh akan menambah kedurhakaan dan kekafiran bagi kebanyakan di antara mereka." (al-Ma'idah: 64)

Beginilah sifat orang munafik, bahkan mereka berbicara tentang Allah dengan perkataan yang sungguh tidak pantas, Allah berfirman,

"Dan apabila diturunkan suatu surat, maka di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata: "Siapakah di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turannya) surat ini?" Adapun orang-orang yang beriman, maka surat ini menambah imannya, dan mereka merasa gembira. Dan adapun orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit , maka dengan surat itu bertambah kekafiran mereka, disamping kekafirannya (yang telah ada) dan mereka mati dalam keadaan kafir." (at-Taubah: 124-125)

Begitu juga mereka berbicara tentang Rasulullah perkataan yang tidak sungguh tidak pantas ditujukan pada seorang nabi mulia, Allah berfirman,

"Di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang menyakiti Nabi dan mengatakan: 'Nabi mempercayai semua apa yang didengarnya.'" (at-Taubah: 61)

Orang munafik menghina dan merendahkan Nabi Muhammad dengan mengatakan bahwa Nabi Muhammad selalu mempercayai apa saja yang didengarnya. Pada ayat selanjutnya Allah membantah dengan firman-Nya,

"Katakanlah: 'Ia mempercayai semua yang baik bagi kamu, ia beriman kepada Allah, mempercayai orang-orang mu'min, dan menjadi rahmat bagi orang-orang yang beriman di antara kamu.'" (at-Taubah: 61)

Bahkan Allah ta'ala mengancam dengan siksaan yang pedih kepada siapa saja yang menyakiti Rasulullah saw., Allah berfirman,

"Dan orang-orang yang menyakiti Rasulullah itu, bagi mereka azab yang pedih." (at-Taubah: 61)

Selain itu, terkadang orang-orang munafik juga sangat buruk adabnya terhadap orang-orang mukmin dan sholeh. Mereka selalu berusaha untuk menyakiti dan menghina orang beriman. Sebagaimana firman Allah ta'ala,

"Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan manjawab, "Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja." (at-Taubah: 65)

Bagaimanapun masalah ini sungguh tidak pantas untuk dijadikan senda gurau. Pada hakekatnya, senda gurau yang dilakukan orang-orang munafik ini bertujuan untuk merendahkan dan menghina agama Allah, karena mereka menghina orang-orang mukmin yang membawa agama Allah. Allah ta'ala berfirman,

"Katakanlah: 'Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?' Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami memaafkan segolongan kamu (lantaran mereka taubat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa." (at-Taubah: 65-66)

5. Dari perkataan mereka dapat diketahui adanya permusuhan mereka terhadap Allah dan wali-wali-Nya.
Ketika hati orang-orang munafik telah dipenuhi kedengkian terhadap orang mukmin, dan hati mereka sudah tertutupi dengan permusuhan terhadap orang mukmin, maka mereka akan berusaha melampiaskan kebencian yang terpendam dalam hati mereka, lisan-lisan mereka pun menjadi lancar melontarkan kata-kata kebencian yang telah lama mereka pendam terhadap orang mukmin. Allah ta'ala berfirman,

"Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya." (Ali Imron: 118)

Walaupun orang-orang munafik berusaha sekuat tenaga menutup-nutupi rasa dengki dan benci mereka dengan menampakkan hal-hal yang baik, tetapi Allah tetap akan menampakkan kejahatan yang mereka sembunyikan itu. Allah berfirman,

"Atau apakah orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya mengira bahwa Allah tidak akan menampakkan kedengkian mereka ?" (Muhammad: 29)

Maka, orang-orang yang berilmu niscaya akan mengetahui kemunafikan mereka dari perkataan, gaya bahasa dan cara mereka berbicara. Allah berfirman,

"Dan kalau Kami kehendaki, niscaya Kami tunjukkan mereka kepadamu sehingga kamu benar-benar dapat mengenal mereka dengan tanda-tandanya. Dan kamu benar-benar akan mengenal mereka dari kiasan-kiasan perkataan mereka dan Allah mengetahui perbuatan-perbuatan kamu." (Muhammad: 30)

6. Selalu membuat kekacauan dan tidak memiliki andil ketika negara dilanda kesulitan.
Orang-orang munafik adalah hamba dunia, yang selalu berkeinginan mengeruk keuntungan duniawi. Mereka tidak mengenal tolong menolong, tidak mempunyai kemurahan hati, tidak rela berkorban demi agama dan negaranya.

Jangan kalian kira bahwa orang-orang munafik yang lemah imannya semacam mereka akan bersegera menjawab panggilan jihad layaknya para syuhada'. Jangan kalian tunggu janji mereka untuk berperang karena mereka hanyalah pengecut. Dan janji mereka terhadap Allah untuk menolong agama ini hanyalah palsu belaka. Allah ta'ala berfirman,

"Dan (ingatlah) ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya berkata :'Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami melainkan tipu daya'. Dan (ingatlah) ketika segolongan di antara mreka berkata: "Hai penduduk Yatsrib (Madinah), tidak ada tempat bagimu, maka kembalilah kamu'. Dan sebahagian dari mereka minta izin kepada Nabi (untuk kembali pulang) dengan berkata : 'Sesungguhnya rumah-rumah kami terbuka (tidak ada penjaga)'. Dan rumah-rumah itu sekali-kali tidak terbuka, mereka tidak lain hanya hendak lari." (al-Ahzab: 12-12)

Bahkan, ketika disebutkan rencana berperang saja mereka sudah sangat ketakutan seakan-akan akan ditimpa kehancuran dan kematian. Allah ta'ala berfirman,

"Mereka mengira (bahwa) golongan-golongan yang bersekutu itu belum pergi; dan jika golongan-golongan yang bersekutu itu datang kembali, niscaya mereka ingin berada di dusun-dusun bersama-sama orang Arab Badwi, sambil menanya-nanyakan tentang berita-beritamu. Dan sekiranya mereka berada bersama kamu, mereka tidak akan berperang, melainkan sebentar saja." (Muhammad: 20)

Begitulah sifat-sifat orang munafik, walaupun sifat buruk mereka jauh lebih banyak dari pada yang telah disebutkan di atas. Maka sangat mengherangkan jika masih saja ada orang yang mengangkat mereka menjadi wali-wali atau pemimpin-pemimpin. Sungguh Allah telah menjelaskan sifat-sifat mereka dengan gamblang... Hanya kepada Allah lah kita mengadu..

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar