Senin, 28 Januari 2013

Berani Hidup, Atau Berani Mati ?


Hidup adalah medan laga. Berlaga dan berjuang menghadapi berbagai tantangan dan rintangan, hingga sampai titik kesudahan (akhir usia). Dalam hidup, tak pernah orang tak menghadapi masalah dan problema, sekecil apapun itu. Pertanyaannya, apakah kita sanggup dan berani menghadapi, atau justru lari? Berani, berarti siap dengan segala kemungkinan baik dan buruk. Berani adalah langkah awal menggapai sukses. Tapi lari? Apakah dengan lari lantas masalah usai? Tidak, justru akan menambah masalah, karena seorang pelarian atau buron pasti menemui banyak masalah. Jelasnya, pecundang tak kan pernah meraih sukses. Lantas, apa bekal utama untuk berani menjalani hidup selayaknya? Jawabannya: keyakinan, ikhtiar, dan tawakal.

Keyakinan. Keyakinan tak bisa lepas dari etos kejuangan dalam upaya meraih sukes. Ketika yakin terhadap sesuatu bahwa itu dapat diraih, kemungkinan besar itu akan menjadi kenyataan. Tapi, jika tidak yakin, maka sesuatu itu akan benar-benar menjauh dari kita. Jadi, keyakinan sungguh amat penting dalam menjalani hidup sebagai peneguh jati diri dalam berusaha. Apa yang menyebabkan kita tak yakin terhadap apa yang akan kita lakukan? Alias ragu. Keraguan muncul manakala tidak memiliki keteguhan hati atau prinsip. Dalam menyikapi persoalan, orang yang berprinsip akan berbeda dengan orang yang tidak berprinsip. Orang berprinsip yang berarti juga berkeyakinan, akan menghadapi persoalan dengan tenang dan mantap.

Sebaliknya dengan orang yang tak berprinsip, akan penuh keraguan dan kebimbangan hingga menyebabkan ketakseimbangan. Ketakseimbangan menjadi-kannya limbung, oleng, dan terhuyung-huyung. Jadi, keyakinan adalah modal amat penting dalam melakukan sesuatu yang kita inginkan. Yakinlah bahwa Anda akan berhasil, maka Anda benar-benar berhasil.

Ikhtiar. Hidup selalu bergerak, progesif, dinamis. Diam tak bergerak, statis, sama dengan nafiri kematian. Hidup adalah proses. Sebuah proses yang mau tidak mau harus dijalani oleh semua yang hidup di dunia ini. Dunia ini adalah lahan tempat berproses. Mengapa perlu proses? Berproses berarti bergerak. Bergerak berarti pula ikhtiar, jadi ikhtiar tanpa gerakan sama juga bohong. Dalam hidup ini kita tak tahu apakah akan gagal atau sukses. Itu hak prerogratif Tuhan. Ikhtiar manusia sangat menentukan apakah dalam hidup ini akan sukses atau gagal. Tuhan pun tak tinggal diam, Tuhan berjanji akan memberi pada manusia sesuai dengan yang diusakannya. Manusia wajib berusaha, berikhtiar, soal hasil ada yang mengatur. Dalam ikhtiar terkandung hal yang sangat penting yang menentukan hitam-putihnya ikhtiar kita, yakni: niat atau objective.

Niat, yang merupakan dasar segala kebaikan dan keburukan dalam pekerjaan, adalah penentu bagi nilai kejati-dirian seseorang dalam berusaha. Artinya, berusaha dengan niat baik akan menghasilkan dan mendatangkan kebaikan. Demikian pun, niat buruk akan menghasilkan keburukan. Apakah yang kita usahakan akan mendatangkan kebaikan atau keburukan? Sangat bergantung pada apa yang ingin kita peroleh dalam hidup ini. Jadi, dalam berikhtiar, jangan lupa niatnya,objective-nya.

Tawakal. Al-kisah, seorang meninggalkan kendaraan bermotor-nya di halaman rumah tanpa menguncinya terlebih dahulu. Beberapa lama kemudian ia kembali untuk menaikinya, ternyata motornya telah lenyap dari peraduan. Sontak ia berteriak, motorku…mana…motorku lihang..eh hilang! Sembari celingak-celinguk, ia mencari kesana-kemari, ia yakin meletakkan motornya di halaman. Seorang teman bertanya. “kok bisa hilang, memang tak kamu kunci.” “Tidak perlu, aku sudah menyerahkan sama Allah, aku yakin Dia akan menjaga motorku, aku tawakal sepenuhnya, ”jawabnya. “Itusih bukan tawakal bung! Kunci dulu motormu, bila perlu digembok, dirantai, baru berserah sama Allah, lha wong motor dikunci aja bisa hilang,” sanggah sang temansewot. Janganlah menyalah-artikan tawakal untuk menutupi ketidakseriusan ikhtiar. Semangat kisah diatas adalah ingin menunjukkan, bahwa tawakal yang benar adalah tatkala kita telah berusaha secara maksimal, bersungguh-sungguh dan mengerahkan segenap potensi, baru kemu-dian berserah diri apapun yang akan terjadi. Ya Allah, aku sudah berusaha maksimal, kupasrahkan semua pada-Mu. Maka, yang akan terjadi terjadilah.

Akhirnya, apapun usahanya dan dimanapun skalanya—etos kejuangan dalam kiprah kehidupan berusahanya adalah: keyakinan, Ikhtiar, Tawakal, dan Sukses.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar