Rabu, 16 April 2014

Sejarah Pasukan Gerak Cepat Burung Hud-Hud Nabi Sulaiman

Dalam salah satu ayat Al Qur’an, dikisahkan tentang Bala Tentara Nabi Sulaiman :
Dan dihimpunkan untuk Sulaiman tentaranya dari jin, manusia dan burung lalu mereka itu diatur dengan tertib (dalam barisan) (Qs. An-Naml (27) ayat 17).

 
 
Dimana Perintah dari induk pasukan ataupun laporan ke induk pasukan, dilakukan dengan saling berkirim informasi, melalui surat yang diikatkan pada kaki (tubuh) burung.

Dan telah dihinpunkan bagi sulaiman bala tentaranya dari jin, manusia dan burung lalu mereka itu diatur dengan tertib (dalam barisan) (an-Naml: 17)
Dan dia memeriksa burung-burung lantas berkata ‘Mengapa aku tidak melihat (burung) hud-hud apakah dia termasuk yang tidak hadir?’ (an-Naml : 20)

 

Sebagaimana dilansir dalam ayat di atas, bahwa jumlah pasukan nabi Sulaiman amat banyak dan beraneka ragam, dari bangsa jin, manusia dan hewan. Meski begitu, nabi Sulaiman tidak pernah lengah terhadap anggota pasukan yang ada di bawah kepernimpinannya. Sebagai pemimpin, ia harus rnemeriksa dan mengetahui keadaan bawahannya. Ia berkewajiban mengayomi sekaligus memperbaiki keadaan mereka. Perhatian itu tak saja ditujukan kepada tangan kanan dan orang-orang terdekatnya, tetapi menyeluruh sampai pada pasukan tingkat paling bawah. Karena itu, burung yang notabene juga anggota pasukannya merniliki hak yang sama untuk diperhatikan.



Allah memberikan kemampuan pada Nabi Sulaiman untuk dapat mengerti dan memahami bahasa binatang, di antaranya bahasa burung hud-hud. Suatu ketika,Nabi Sulaiman memerintahkan burung hud-hud untuk terbang mengawasi kerajaan, khawatir akan ada musuh yang menyerang kerajaan. Maka di laksanakanlah tugas tersebut. Burung Hud-Hud terbang hingga ia sampai di sebuah kerajaan yang bernama Kerajaan Saba’ yang di pimpin oleh Ratu Bilqis, namun kerajaan ini tidak menyembah Allah Swt., melainkan menyembah matahari. Burung hud-hud yang melihat kejadian tersebut kembali ke nabi Sulaiman dan menyampaikan apa yang di lihatnya. Nabi Sulaiman pun menyruh kembali burung hud-hud untuk membawakan surat itu kepada Ratu Bilqis. Surat itu berisi ajakan kepada Ratu Bilqis dan rakyatnya untuk beribadah kepada Allah Swt. Setelah membaca surat itu, Ratu Bilqis menemui Nabi Sulaiman dan akhirnya, Ratu Biqis dan rakyatnya mau beribadah kepada Allah Swt.

Hud-hud dikirim untuk menjalankan tugas kenegaraan penting yakni tugas intelijen dan ia membawa berita penting untuk Nabi Sulaiman a.s., sebab dari hasil kerja pasukan intelijen yang dipimpin oleh Hud-hud itulah Nabi Sulaiman a.s. telah merancang siasat berkenaan dengan Ratu Saba.

Saba dapat disamakan dengan Syeba dari Bible (I Raja-raja bab 10). Saba adalah sebuah kota di Yaman terletak kira-kira tiga hari perjalanan dari kota Shana’ dan merupakan pusat pemerintahan Ratu Saba. Lagi pula, Saba adalah cabang terkenal dari kabilah Qahthani.


Siapa sesungguhnya “Hud-Hud” itu ?

Ada yang berkeyakinan, Nabi Sulaiman bisa bercakap-cakap dengan burung. Mereka percaya Hud-hud sebagaimana dikisahkan di dalam Al Qur’an, adalah se-ekor burung yang istimewa.

Benarkah demikian ?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar