Tampilkan postingan dengan label Berita Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita Renungan. Tampilkan semua postingan

Senin, 29 Juli 2013

Biarkan Pundak Mengenal Tuhannya

meraih  cahaya

Sekilas tak akan mampu  beranjak dan terjaga. Segala terasa sempit dalam simponi yang mengenalkan secerca pelita. Titik nadhir itu mengantarkan pada sesal dan kecewa berkepanjangan.

Penat, lelah dan segala kekalutan membaur jadi satu. Tugas harus segera terselesaikan hari ini, dan rencana kemarin juga harus segera terkejar hari ini, undangan acara bertumpuk meminta untuk segera dipenuhi. Sms pengingat kajian berduyun datang tak tuntas terbaca sehingga keseringan terlupakan. Binaan banyak yang berguguran karena manajemen penjagaan yang kurang terarah. Charger ruhiyah dalam pekanan para binaan tidak selamanya dirasa sebagai kebutuhan, namun lebih pada rasa “tidak enaknya seorang mutarabbi pada murabbinya”, bahasa jawanya sungkan. Rapat yang diminta berpendapatpun hanya bisa menggenapkan suara dan tidak bisa optimal dijalankan. Padat-penat-sesak. Ke mana ruhiyahnya?

Fenomena rutin yang senantiasa menghantui gudang cerita harian para aktivis. Sehingga detak jam memberikan satu waktu untuk bertanya pada semua kalangan berjiwa ‘aktivis’ itu. Di mana letak kebarakahan harinya? Di mana saat satu kata ‘totalitas’ bisa ditawarkan? Kapan keutuhan nikmat syurga layak untuk dimimpikan jika setiap jasad berkunjung maka ruh akan pergi, dan setiap jasad pulang maka ruh akan segera lari dan beranjak. Tidak pernah bertahan bersama dalam sebangun maupun seruang. Api dan air.

Lagi-lagi tidak pernah disia-siakan pemaknaan umum masyarakat Indonesia tentang label ‘aktivis’ mereka yang bekerja aktif mendorong pelaksanaan sesuatu atau berbagai kegiatan dalam organisasinya. Terhitung dari organisasi politik, pemerintah (negeri maupun swasta), perniagaan ataupun segala lini indah kehidupan yang lain, intinya segala yang membutuhkan pengorganisasian.

Apalah arti segudang aktivitas yang tanpa pemaknaan? Hanya menyeret jasad dalam keterpaksaan dan membiarkan ruh berkelana sendiriankah? Berakhir dengan keletihan, dan teromabng-ambing dalam ketidak pastian. Merenung sejenak, karena tidak banyak yang kita dapatkan. Selayaknya, hanya menyandang label ‘aktivis’ saja tidak akan pernah cukup mengantarkan manusia pada pemahaman dan pemaknaan hidup. Dan, saatnyalah kecerdasan itu terasah, menjadilah kawula taat yang bermartabat.

Segalanya hanya untuk illahi Rabbi, mengayun kaki berbekal tawakal ‘alallah. Menerima undangan semata hanya demi perjuangan sujud di jalan cintaNya. Segalanya dimanajemen dengan indah dan tertata manisnya. Butuh penanganan dan prioritas, segalanya menjadi terarah dan tanpa terseret. Mana yang perlu kita jalankan dan mana yang kurang harus segera dipertimbangkan dan mana yang sia segera ditinggalkan.

Berikan waktu untuk mensujudkan pundak ini pada Tuhannya, berhentilah aniaya atas nama aktivis. Semoga Allah menguatkan pundak ini dalam mengharap segala syafa’at.

Selasa, 23 Juli 2013

Renungan Kisah Uang Rp.1000 Dan Rp.100.000


Sama-sama terbuat dari kertas, sama-sama dicetak dan diedarkan oleh dan dari Bank Indonesia.
Pada saat bersamaan mereka keluar dan berpisah dari Bank dan beredar di masyarakat.

Empat bulan kemudian mereka bertemu lagi secara tidak sengaja di dalam dompet seorang pemuda.
Kemudian diantara kedua uang tersebut terjadilah percakapan,

Rp.100.000 bertanya kepada yang Rp.1000 "kenapa badan kamu begitu lusuk, kotor dan bau amis?"
Dijawablah olehnya "karena aku begitu keluar dari Bank langsung ditangan orang-orang bawahan, dari tukang becak, tukang sayur, penjual ikan dan di tangan pengemis"

Lalu Rp.1000 bertanya balik pd Rp.100.000 "kenapa kamu kelihatan begitu baru, rapi dan masih bersih?"
Dijawabnya "karena begitu aku keluar dari Bank, langsung disambut perempuan cantik dan beredarnyapun di restauran mahal, di mall dan jg hotel-hotel berbintang serta keberadaanku selalu dijaga dan jarang keluar dari dompet"

Lalu Rp.1000 bertanya lagi
"pernahkah engkau mampir di tempat ibadah?"
Dijawablah oleh Rp.100.000
"belum pernah "
Rp.1000. pun berkata lagi

"ketahuilah,,walaupun keadaanku seperti ini adanya, setiap jum'at aku selalu mampir di Masjid-Masjid, Minggu Gereja-Gereja, Wihara, Klenteng, Pure dan ditangan anak-anak yatim, bahkan aku selalu bersyukur kepada Tuhan karena aku tidak dipandang manusia bukan karena nilai tapi yang dipandang adalah sebuah manfaat."

Akhirnya menangislah uang Rp.100.000 karena merasa besar, hebat, tinggi tapi tidak begitu bermanfaat selama ini.


Jadi bukan seberapa besar penghasilan Anda,
tapi seberapa bermanfaat penghasilan Anda itu.
Karena kekayaan bukanlah untuk kesombongan.

Semoga kita termasuk golongan orang-orang yang selalu mensyukuri nikmat dan memberi manfaat untuk semesta alam serta dijauhkan dari sifat sombong.

Minggu, 26 Mei 2013

Dari Doraemon Kita Belajar


JANGAN pernah berharap hidup tanpa ujian, tapi berharaplah agar kita diberi kekuatan untuk menghadapinya. Dan inilah kisah saya ketika melewati hari-hari di kota Malang. Ketika itu rumah kontrakan saya yang dulu sepi namun menjadi lama-kelamaan sedikit lebih semarak dengan kehadiran penghuni-penghuni baru. Keragaman sifat dan karakter mereka mewarnai hari-hari saya di kota Malang saat ini. Ada satu hal yang selalu kami sekeluarga (kontrakan) lakukan ketika malam menjelang. Setelah sholat isya’ kami suka berkumpul di kamar salah seorang penghuni kontrakan dan mulai saling bercerita.

Kami bisa membicarakan apa saja, mulai dari cerita lucu yang muncul dari kegiatan keseharian kami hingga harapan-harapan besar akan masa depan kami. Pada suatu sesi, saat kami bercerita tentang Jepang, salah seorang mulai bercerita mengenai apa yang ia sukai dari Negeri Sakura itu. Mulai dari kemajuan teknologi, kekuatan budaya lokalnya, hingga kekuatannya sebagai salah satu raksasa ekonomi dunia. Yang paling menarik adalah saat salah seorang penghuni kontrakan dengan polosnya mengatakan bahwa hal yang paling menginspirasi dari jepang adalah Doraemon.

Pikiran saya kembali menerawang jauh, jauh menyusuri masa-masa ketika saya duduk di bangku sekolah dasar. Saya ingat betul bahwa Doraemon adalah kartun pertama yang saya tonton, kartun pertama yang saya sukai. Saat itu saya merasa seperti diajak untuk berpetualang ke negeri impian yang tak pernah saya temui.
Saya tumbuh bersama Doraemon. Alat-alat yang keluar dari kantong ajaibnya benar-benar memenuhi segala ekspektasi imaji saya tentang segala keajaiban yang saya bayangkan akan terjadi di sekitar saya.
Saat semua teman satu kontrakan menertawakan pilihannya untuk menjadikan Doraemon sebagai hal yang paling berkesan dari jepang, saya hanya tersenyum kecut. Dalam hati saya menyetujui hal tersebut.

Doraemon telah menginspirasi saya dalam beberapa hal. Secara lucu, ia telah memberi saya beberapa pelajaran hidup yang saya ingat hingga sekarang.

Dalam berbagai plot, digambarkan bahwa Nobita sebenarnya tahu bahwa jika ia tidak mengerjakan PR, ia akan dimarahi pak guru. Tapi tetap saja ia memilih untuk bermalas-malasan, bermain, atau tidur siang tanpa menyentuh PR nya sama sekali. Sama seperti kita yang sebenarnya sudah tahu masa depan seperti apa yang menunggu kita jika kita bermalas-malasan, tapi tetap saja tidak mau bergerak untuk mengupayakan sesuatu agar masa depan kita lebih baik. Jika sudah begitu Doraemon lah yang turun tangan.

Di plot lain digambarkan bahwa jika sedang menghadapi sebuah masalah, maka Nobita akan segera meminta bantuan pada Doraemon. Dengan berbagai alat canggihnya Doraemon tidak pernah mengeluarkan alat yang berusaha menghindarkan Nobita dari masalah, tapi selalu mengeluarkan alat yang membantu mereka untuk menghadapi masalah dengan lebih baik. Ia tidak pernah menyulap agar tidak ada PR sama sekali dari sekolah Nobita, tetapi Ia selalu mengeluarkan alat-alat yang bisa membantu Nobita untuk mengerjakan PR dengan lebih mudah. Nobita juga tidak pernah meminta alat yang membuatnya tidak dipukul Giant atau bahkan menghilangkan Giant sama sekali dari hidupnya, tapi ia selalu minta alat yang bisa membantunya untuk menghadapi Giant.

Perspektif itulah yang seharusnya kita pakai untuk menjalani kehidupan. Jangan pernah berharap hidup tanpa ujian, tapi berharaplah agar kita diberi kekuatan untuk menghadapinya. Karena sesungguhnya, hidup ini merupakan rangkaian cobaan dan ujian. Sama seperti sekolah, jika kita mampu menghadapi sebuah ujian, maka kita akan segera dihadapkan pada ujian yang lebih berat. Begitu seterusnya hingga suatu saat kita tersadar bahwa ujian-ujian tersebuat telah mengantarkan kualitas kemanusiaan kita pada derajat yang lebih tinggi.

Pelajaran yang begitu dalam, saya dapatkan dari lawakan tokoh-tokoh kartun pujaan saya ketika kecil. Sepele dan terkesan seperti banyolan. Tapi tetap berharga bagi saya, karena sesungguhnya, pelajaran berharga mengenai kehidupan bisa kita ambil dari hal kecil dan sederhana di sekitar kita.

Oleh: Reza Yoga, Blogger Indonesia Muda-Malang, rezayoga.blogspot.com

Catatan Hati Seorang Manusia Di Bawah Hujan

tangan-hujan

EGO yang terlalu tinggi terkadang membuat orang semakin sombong. Hal ini, yang teralami sendiri, ketika dibanggakan, diberi beragam puji dari sana-sini, diri seakan lupa siapa dan untuk apa itu. Manusia hanya segelintir serpihan yang terhampar di ladang bumi yang fana, diatas bumi masih ada langit, dan setingginya langitpun tetap  masih ada yang lebih tinggi yaitu kekuasaan Allah swt.

Jadi kenapa kita harus sombong, angkuh, seakan merasa paling segalanya. Toh, kita semua berasal dari cairan yang hina, yang merangkak berjalan perlahan untuk berjuang menembus tembok raksasa rahim wanita. Menempel seperti parasit untuk tumbuh dan berbentuk sempurna. Memiliki mata, hidung, lengan, dan semua organ utama serta penunjang lainnya. Lahir dengan jiwa tak berdaya, merengek meminta cairan putih seorang wanita. Jangankan untuk bisa berjalan, berbicarapun belum bisa, hanya tangis dan tangis yang terdengar bersua.

Rupawan, cendikiawan, dan hartawan hanya sebuah titipan. Seperti perjalanan menuju tempat tujuan, ada yang berjalan kaki, mengendarai kendaraan biasa, mewah dan akhirnya terdampar di tempat sama yaitu kematian.  Tubuh yang kekar, jeniusnya otak, tidaklah berarti begitu penting karena akhirnya hanya menjadi tulang belulang yang dihiasi hewan-hewan tanah. Rumah mewah tetap saja berujung menjadi ruangan kecil berukuran 2×1 meter atau bahkan lebih kecil lagi daripada itu.

Ketika semua keinginan selalu tercapai, akankah sikap ego semakin meninggi merangkak naik menjadi himpunan iblis yang akan menusuk secara menyakitkan di penghujung hari. Saat kegagalan tiba, depresi, kekecewaan, rasa tak percaya yang selalu hinggap dihatinya. Menghujat, mengeluh, dan bahkan mengkufuri nikmat yang telah diberikan Ilahi. Bukan seberapa banyak kita sukses atau berhasil yang diperhitungkan, tetapi seberapa besar dan waktu yang kita gunakan untuk dapat bangkit kembali dan memperbaikinya.

Terkadang banyak manusia hanya melihat dari sisi hasil, ya hasil yang diperoleh bagus atau tidak. Itu hanya pemikiran primitif tempo dulu. Proses itu lebih penting, seberapa besar usaha dan upaya yang telah dilakukan, itulah yang akan menentukan hasil, bukan hasil yang menentukan proses. Toh, jika proses besar namun hasilnya tak memuaskan, itu bukan masalah besar yang harus dibesar-besarkan. Karena sesungguhnya ada rencana Allah yang lebih baik dari apa yang telah kita harapkan. Ini tergantung dari bagaimana kita menyikapinya karena di belakang semua kejadian pasti akan ada hikmah yang tersimpan.
Kita tinggal merenungi dan mempelajarinya, bukan menyesali bahkan mendzalimi nikmat yang ada.

Manusia hanya segelintir serpihan kecil bumi yang fana. Menganggap dunia adalah surga ataukah perjalanan menuju surga? Persepsi yang selalu terbiaskan. Banyak cara menyikapi kehidupan dunia, ada yang menghalalkan semua cara untuk memuaskan hasrat jiwa dan ada juga yang berjuang dengan selalu menjungjung tinggi syariat agama. Surga-surga dunia yang dimanjakan dengan harta, wanita, dan tahta teramat memperlena memperdaya manusia.

Banyak pajabat yang gila harta, meraup dan mengeruk kekayaan rakyat untuk memenuhi kantung perutnya yang selalu merasa lapar. Banyak wanita-wanita yang terpaksa menjual kehormatannya demi lembaran uang yang tak seberapa. Banyak anak kecil menangis kelaparan di jalan sedangkan ayahnya asik berjudi dan berpesta. Banyak akademisi yang menyia-nyiakan sekolahnya diatas harapan manusia-manusia kecil yang tak sempat mengenyam pendidikan.

Manusia terkadang tidak banyak bersyukur, termasuk diri ini terlalu banyak mengeluh ini itu, padahal setiap waktu selalu mendapat nikmat-Nya. Bersyukur masih bisa bernapas, bersyukur masih bisa berjalan, bersyukur masih bisa berbicara dan bersyukur atas pemberian  nikmat yang terasa maupun tak terasa lainnya. Walau kegagalan datang secara bertubi-tubi diatas proses yang dirasa cukup melelahkan namun itulah rencana Allah. Ada jalan terbaik yang dipilih dan telah disiapkan oleh Nya untuk kita. Tetap istiqomah menjalani dan terus berupaya bangkit lalu memperbaikinya, hingga bahagia tiba esok hari dengan senyum menyejukkan dan harum menyegarkan layaknya sungai-sungai yang mengalir di surga dengan bidadari yang cantik tiada tara.

Do’a Yang Tidak Terkabulkan


“JIKA anda melempar buah apel ke atas dengan mata tertutup, apakah anda yakin akan bisa menangkapnya kembali?”

Saya yakin SEMUA manusia di dunia ini pasti memiliki kebutuhan atau hajat kepada Tuhannya. Apabila sebuah angan telah terpatri kuat di dalam otak, maka jalan satu-satunya hanyalah meraihnya hingga angan tersebut sampai kedalam genggaman kita.

Seorang yang sejak kecil telah mengagumi profesi dari seorang tentara, saya yakin orang tersebut akan selalu melakukan latihan fisik yang keras dan selalu menjaga pola konsumsinya. Namun ketika waktunya tiba, apakah kita bisa menjamin bahwa orang tersebut akan berhasil lolos tes penerimaan untuk menjadi seorang tentara?

Tentu jawabannya belum pasti. Seperti kisah seorang pemuda berikut ini. Dia sedari kecil sangat terobsesi untuk bisa menjadi seorang tentara. Setelah selesai menamatkan pendidikan di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA) kemudian dia mencoba peruntungannya dengan mendaftarkan diri, tentunya dengan membawa dua kemungkinan apakah berhasil ataukah gagal. Namun setelah penentuan hasilnya tiba, apa yang terjadi? Dia gagal diterima. Apakah karena dia tidak pernah berlatih fisik setiap hari? Ataukah dia juga tidak berdo’a kepada Allah SWT?

Tidak, dia setiap hari selama masa-masa SMA selalu melakukan latihan fisik, lari pagi berkilo-kilo meter adalah hal biasa baginya, begitu juga dengan ibadah dan do’anya. Setiap hari pemuda ini juga gemar keluar masuk musholla untuk beribadah. Yang begitu tragis lagi adalah usahanya itu tidak hanya satu kali saja yang menuai kegagalan, namun hampir tiga kali. Dengan kerugian materi yang sampai berpuluh-puluh juta rupiah.

Lantas jika kondisinya demikian, apakah Dia yang patut dipersalahkan?

Jikalau memang iya, apakah kita lupa bahwa Allah juga memiliki sifat Pengasih dan Penyayang kepada semua hamba-Nya? Mungkin saat itu profesi tentara tidak cocok bagi pemuda tersebut, sehingga Allah dengan penuh perhatiannya ingin mengarahkan masa depannya ke jalan yang lebih disukai-Nya. Namun yang menjadi permasalahan sekarang adalah mengolah perspektif seperti hal itu tidaklah mudah jika kita sendiri yang mengalaminya secara langsung. Tentunya sedikit banyak kita pasti akan “memberontak” apabila ada seseorang yang ingin menasehati kita dengan kata-kata yang sama persis dengan kalimat diatas.

Terkadang ego kita lebih dominan tatkala situasi tak mendukung, kita selalu banyak menuntut lebih pada Allah, menuntut inilah itulah, jika tidak terkabul maka senjata utama kita pasti lagi-lagi kalimat seperti ini
Ah, Tuhan tidak adil kepadaku, Mengapa orang lain bisa bahagia, sedangkan aku tidak?”

Kita terlampau naif memandang hidup yang sementara ini, padahal apa yang Allah berikan dalam hidup ini selalu dan pastilah yang terbaik. Karena Allah memberikan apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan.

Oleh: Chilmi Muhammad S, Mahasiswa Universitas Brawijaya.

Sabtu, 04 Agustus 2012

Pesan Terakhir Wafatnya Orang Terkenal Dunia

Berita Aneh - Biasanya sebelum meninggalkan dunia ini, sebagian orang ada yang mengucapkan kata-kata atau juga berupa pesan-pesan terakhir mereka. Berikut ini adalah kumpulan kata-kata atau pesan terakhir dari orang-orang terkenal. Semoga kita dapat mengambil hikmah dari mereka yang sudah pergi mendahului kita…

"Tahu kamu kalau aku ngomong blak-blakan. Aku yakin akan terjadi perang saudara. Kalau perang dengan bangsa lain, kita bisa membedakan fisiknya. Tapi dengan bangsa sendiri, itu sangat sulit. Lebih baik aku robek diriku sendiri, aku yang mati daripada rakyatku yang perang. Aku tidak sudi minta suaka ke negeri orang."

Bung Karno, dibisikkan kepada Putu Sugianitri ajudannya sebelum ajal.

Tuhanku, Tuhanku ….

Chairil Anwar, Penyair Angkatan 45

Is someone hurt?

(Adakah orang lain yang terluka?)

Robert F. Kennedy kepada istrinya setelah dia tertembak dan sebelum koma

I’ll be in Hell before you start breakfast!

(Saya akan berada di neraka sebelum kamu memulai sarapanmu !)

“Black Jack” Ketchum, perampok kereta api

Don’t worry…it’s not loaded…

(Jangan khawatir … pistol ini belum siap pelurunya …)

Terry Kath, musisi rock Chicago Transit Authority ketika ia membersihkan pistolnya dan menarik pelatuknya

Die, my dear? Why that’s the last thing I’ll do!

(Matikah aku, sayangku ? Mengapa hal itu yang terakhir yang akan kualami.)

Groucho Marx, Komedian Amerika

Go on, get out! Last words are for fools who haven’t said enough!

(Ayolah, semua keluar ! Kata-kata terakhir hanyalah kebodohan bagi siapa saja yang berkata cukup !)

Karl Marx, ketika ditanya oleh pembantunya apa kata-kata terakhirnya.

I have a terrific headache.

(Saya merasa sakit kepala yang luar biasa.)

Franklin Delano Roosevelt, presiden ke-32 USA.

I’d hate to die twice. It’s so boring.

(Saya benci kalau harus mati dua kali. Kematian ternyata begitu membosankan.)

Richard Feynman, Fisikawan Amerika

I have not told half of what I saw.

(Saya belum mengungkapkan separuh dari apa yang kulihat.)

Marco Polo,Penjelajah dunia

Lord help my poor soul

(Tuhan, tolong jiwaku yang malang)

Edgar Allan Poe, penulis Amerika

Thank God. I’m tired of being the funniest person in the room.

(Terimakasih Tuhan. Saya lelah untuk menjadi orang paling lucu di ruangan ini.)

Del Close,komedian Amerika.

I don’t have the passion anymore, and so remember, it’s better to burn out than to fade away. Peace, Love, Empathy. Kurt Cobain.

(Aku sudah tidak bergairah lagi, dan ingatlah, tubuh ini lebih baik dibakar hingga musnah daripada dikuburkan. Damai, cinta, kasih. Dari Kurt Cobain.)

Kurt Cobain, vokalis dan gitaris grup musik Nirvana dalam catatan bunuh dirinya.

It’s very beautiful over there.

(Di sana ternyata begitu indah.)

Thomas Alva Edison,penemu bola lampu listrik.

Don’t worry, relax!

(Jangan khawatir, santai saja!)

Rajiv Gandhi, PM India kepada staf keamanannya beberapa menit sebelum dibunuh oleh bom bunuh diri.

No! I didn’t come here to make a speech. I came here to die.

(Tidak! Saya ke sini bukan mau berpidato. Saya kesini untuk mati.)

Crawford Goldsby a.k.a. Cherokee Bill, ketika ditanya apa yang akan dikatakannya sebelum dia digantung.

I know you’ve come to kill me. Shoot, you are only going to kill a man.

(Saya tahu kamu datang untuk membunuhku. Tembaklah, kamu hanya akan membunuh seorang manusia.)

Che Guevara, Pemimpin Revolusi Marxis Argentina.

I’m tired of fighting.

(Saya dibikin cape oleh pertempuran ini.)

Harry Houdini,pesulap

I see black light.

(Saya melihat cahaya hitam.)

Victor Hugo, penulis Perancis.

Let me go to the Father’s house.

(Lepaskan aku menuju rumah Bapaku.)

Pope John Paul II, Paus ke-263.

I’m bored with it all.

(Saya sedang bosan dengan semua ini.)

Winston Churchill, PM Inggris pada PD II, sebelum koma dan meninggal sembilan hari kemudian.

Jesus, I love you. Jesus, I love you.

(Jesus, aku cinta engkau. Jesus, aku cinta engkau.)

Mother Teresa, suster dari Albania.

Don’t disturb my circles!

(Jangan ganggu lingkaranku !)

Archimedes, ilmuwan Yunani.

I hope the exit is joyful and hope never to return.

(Aku berharap jalan keluar ini penuh dengan kegembiraan dan berharap tidak akan pernah kembali lagi.)

Frida Kahlo, Pelukis Mexico.

They couldn’t hit an elephant at this distance.

(Mereka tidak akan bisa menjatuhkan satu gajah pun pada jarak ini.)

General John Sedgwick, Union Commander dalam U.S. Civil War, yang ditembak beberapa menit setelah mengucapkan ini.

Dying is easy, comedy is hard.

(Mati itu mudah, meluculah yang sulit)

George Bernard Shaw, novelis, kritikus, politikus dll.

I’m losing.

(Saya sedang kalah.)

Frank Sinatra, penyanyi dan bintang film Amerika.

Crito, I owe a cock to Asclepius. Will you remember to pay the debt?

(Crito, aku berhutang seekor ayam pada Asclepius. Akan ingatkah kamu untuk membayar hutangku itu?)

Socrates, filsuf dari Yunani.

Selasa, 31 Juli 2012

6 Tahun Keluarga Ini Tinggal Di Toilet

Berita Aneh - Selama hampir enam tahun seorang pria asal Cina, Zeng Lingjun dan keluarganya tinggal di sebuah toilet di kota Shenyang, Provinsi Liaoning. Melalui kisah ini diharapkan bisa menjadi inpirasi bagi Anda untuk menjalani hidup dimanapun Anda berada.

Kisah Zeng berawal di tahun 1999 ketik dirinya masih berumur 20 tahun yang masuk dalam sekolah penerbangan di provinsi Heilongjiang. Namun keluarganya tidak bisa membayar sebesar 5000 yuan sebagai biaya masuk sekolah untuk awal tahun ajaran baru. Hal tersebut membuat dirinya untuk memutuskan pergi ke Shenyang dengan bermodalkan 50 yuan untuk mencari pekerjaan.

Pada tahun 2006 akhirnya ia menikah dan mencari rumah bagi keluarga kecilnya. Karena sulitnya mencari tempat tinggal di kota metropolitan dengan harga yang tinggi, seorang temannya menyarankan bahwa satu hotel memiliki toilet pria yang sudah tidak pernah digunakan dan mungkin saja pemilik hotel mengijinkan Zeng untuk tinggal disana dengan membayar sewa.

Setelah menyepakati sewa dengan pemilik hotel, keluarga kecil Zeng pindah ke rumah barunya yang berupa sebuah toilet dengan luas 20 meter persegi. Di rumah tersebut selain bersama istrinya, Zeng kini telah dikaruniai seorang anak laki-laki yang berena Zeng Dei, yang mempunyai arti “beruntung” dan diharapkan ia bisa memberikan keberuntungan kepada keluarganya.

Minggu, 20 Mei 2012

Kisah Nelayan Pemburu Mayat

Berita Aneh - Pekerjaan yang dilakukan seorang nelayan di China ini barangkali paling aneh di dunia. Wei Xinpeng, nama pria itu, biasa berburu mayat di Sungai Kuning. Wei, seperti diungkapkan oleh laman BBC, kerap memulai harinya dengan nongkrong sambil merokok di tepi sungai. Matanya mengamati air Sungai Kuning yang keruh. Dia yakin, sungai itu pasti selalu menyimpan mayat manusia, entah korban kecelakaan, dibunuh, atau pun bunuh diri.


Lelaki 55 tahun itu seperti hapal aliran sungai, dan dia jeli melihat ke mana arus membawa mayat-mayat yang tenggelam di sungai itu. Biasanya, Wei mendayung perahunya ke dekat satu jembatan kecil di hilir. Di sana, biasanya mayat “parkir” sebentar, karena tersangkut di celah besi jembatan. Dalam tujuh tahun terakhir, mencari mayat kini adalah kegiatan rutin Wei. Dia menjual temuannya itu ke kerabat mayat bersangkutan. “Saya memberi penghargaan kepada si mayat,” ujarnya seperti dilansir dari laman BBC, Senin 22 November 2010.


Wei mengaku telah mengumpulkan sebanyak 500 mayat dari dasar sungai. “Orang-orang ini mati dengan cara mengenaskan,” ujar Wei. Dia mengumpulkan mayat temuannya itu di satu teluk kecil yang tak tersentuh arus. Mayat-mayat beragam bentuk itu ditumpuk di sana. BBC melaporkan, di teluk kecil itu ada empat mayat yang tubuhnya telah kaku, dengan kepala tertelungkup ke bawah. Setiap kali berhasil menangguk mayat, Wei mengumumkannya di koran lokal. Dia menyebut ciri fisik mayat itu, sehingga kerabat yang bersangkutan dapat segera mengenalinya. Biasanya, kerabat si mayat akan menelepon Wei, dan meminta diantarkan ke tempat dia menyimpannya.

Wei membawa kerabat si mayat ke teluk kecil itu. Dia memasang sedikit tarif untuk jasa membalikkan tubuh si mayat agar wajahnya dapat terlihat. Jika kerabat mayat ingin membawanya pulang, maka mereka harus membayar uang tebusan sebesar lebih dari US$500, atau sekitar Rp. 4,4 juta. Wei mengatakan, selama ini dia telah menjual sekitar 40 mayat. Tapi terkadang, keluarga mayat enggan membayar, dan pulang tanpa membawa jenazah yang ditemukan Wei. “Satu kali orang tua mencari anaknya. Mereka melihat sebentar, lalu pergi tanpa berkata apa-apa. Mereka tak membawanya pulang,” ujar Wei.

Jika sudah begini, Wei terpaksa harus menguburkan mayatnya secara pantas. Soalnya, pemerintah akan membiarkan mayat temuannya membusuk tanpa melakukan apapun. Wei mengatakan apa yang dia lakukan bukan semata-mata karena uang, tapi karena alasan lebih pribadi. Dia pun berkisah. Pekerjaan ini, kata Wei, bermula dari usahanya untuk mencari anaknya sendiri, yang tenggelam di Sungai Kuning. “Anak saya tenggelam di sungai ini dan saya tidak dapat menemukan mayatnya. Sangat menyakitkan. Itu sebabnya saya melakukan pekerjaan ini,” ujar Wei. Putra Wei sampai sekarang belum ditemukan. (BBC)