BERAPA HONOR TARIF USTADZ SELEBRITIS itulah mungkin hal yang banyak dipertanyakan oleh para penyelenggara yang akan mengadakan acara Pengajian dengan mendatangkan
Ustad selebritis terkenal.
Maka itu, pada kesempatan kali ini, akan di kupas beberapa kutipan
komentar dari saudara-saudara kita mengenai mahalnya tarif untuk seorang
Da’i Kondang atau
Ustadz Seleb, yang membuktikan bahwa segala
sesuatu yang jauh dari Sunnah (alias Bid’ah) maka mahal harganya.
Berikut sebagian komentar-komentar mereka:- Ustadz Selebritis Mematok Tarif Rp.30Juta/15 Menit.
Komentar ust. Ahmad Sarwat, “Ramadhan kemarin ada panitia ceramah
yang ngaku terus terang ke saya bahwa seharusnya yang diundang bukan
saya, tapi ustadz X. Tapi gagal gak jadi diundang lantaran pihak manager
gak mau turun lagi
TARIF-nya dari angka 30 juta untuk ceramah 15
menit menjelang buka puasa. Akhirnya yang diundang saya yang bisa
dikasih “syukron” doang,” terangnya.
Biaya mendatangkan ustadz (seleb) itu, bisa menghabiskan dana 90 jutaan!
Komentar
Fulan : “…….dulu pernah menjadi bagian dari “dakwah jutawan” semacam
ini, contohnya ingin mendatangkan seorang dai dari bandung, mungkin
hampir 100 jutaan, alasannya sich mereka punya kantor, punya anak buah
yang harus dibiayain, uang hotelnya (minta hotel yang bagus/mahal), dan
saat kita minta datang sendiri atau paling tidak minimal dengan beberapa
orang saja maka bagian agennya bilang tidak bisa karena harus datang
dengan rombongan, karena tidak ada dananya maka yang begitu itu tidak
jadi dilakukan. Pernah denger juga cerita, jadi di kampus saya pernah
mau datangi seorang ustadz. Bliau bersedia asal dibayar minimal 40 juta.
Gilaaaa!!!”
Berapa honor ustadz seleb?
Komentar seseorang: “…honornya
untuk setiap acara berbeda tetapi minimum sekarang 15 juta, ada yang
bahkan memberikan ratusan juta rupiah, karena memang beliau tidak mau
menetapkan tarif, jadi terserah yang memberi (yang memiliki acara) dan 5
juta setiap pertemuan untuk acara2 yang tampil secara rutin di
televisi.”
Tarif ust. C**** sebesar Rp.10 juta!
Menurut pernyataan dari ibu
Kenah,biaya atau tarif Ustadz C**** sebesar 10 juta rupiah.Kendati
biaya itu cukup mahal untuk ukuran masyarakat yang berada di daerah
pedesaan,ia tidak berkeberatan.Sejak dari awal memang sudah berencana
untuk menghadirkan ceramah dari ustadz kondang itu.Tepat pukul 21.00
ustadz C**** datang dan langsung memulai ceramahnya di hadapan kurang
lebih 1000 penonton yang sudah hadir memenuhi area halaman rumah ibu
Kenah. Sekedar pertimbangan buat yang ingin mengundang beberapa ustadz
kondang, Ibu Kenah sempat menanyakan tarif ustadz yang lainnya.
Diantaranya Ustadz A* G** mempunyai tarif 8 juta rupiah, Ustadz J****
mempunyai tarif 11 juta.Itu adalah tarif untuk panggilan ke wilayah
Cirebon.
Ustadz-ustadz Kapitalis?
Komentar ust. YM: “Dahulu ada Ustadz
yang tarifnya mencapai 40 juta sekali ceramah. Sebenarnya bukan salah
Ustadz itu 100% sih. Gara-gara persaingan antar televisi aja yang
menyebabkan si Ustadz pasang tarif segede gitu… si Ustadz 40 juta itu
asalnya cuma sebagai Penceramah di masjid Al Azhar. Rupanya ada Produser
R*** (salah satu stasiun TV swasta) yang tertarik dengan ceramah sang
Ustadz. Jadilah si Ustadz masuk televisi. Sekali dua kali tampil, ada
S*** (salah satu stasiun TV swasta) yang juga tertarik buat mengundang
Ustadz 40 juta ini. Entah ada setan apa, si Ustadz meluncurkan
kata-kata: “Kalo mau munculin ane di televisi, ente berani bayar 15 juta
nggak? Namanya juga persaingan bebas, S*** tanpa ba-bi-bu langsung
“membajak” Ustadz berinisial KB ini. Sejak itulah KB menjadi Ustadz
dengan honor tertinggi. Dari 15 juta beranjak ke 20 juta, dan sampai
akhirnya bertarif 40 juta. Gokil! Memang sih, gaya bertausyiahnya keren,
menyejukkan, dan segar. Memang juga sih, spot iklan di televisi
akhirnya bisa menutup tarif Ustadz KB ini. Tapi wajar nggak sih Ustadz
mengkomersilkan diri?
Ustadz YM cerita lagi soal Ustadz lain. Kali ini inisialnya JK. Gw
kenal dengan Ustadz JK, tapi sayang doi nggak kenal gw. Gw kenal karena
JK ini dahulu sebelum ngetop jadi Ustadz, profesinya sebagai Model dan
Bintang Sinetron. Dahulu kala hidupnya gawat. Mabok-mabokan, free seks,
dan menjadi pengguna narkoba.
Sampai suatu saat, doi sekarat dan
mendapat hidayah buat kembali ke jalan yang benar. JK kemudian berubah
jadi Ustadz. Awalnya mungkin nggak ada dalam benaknya mengkomersilkan
diri. Tausyiahnya semata-mata buat Allah. Eh, lama kelamaan, matanya
hijau juga ngeliat tarif. Apalagi doi udah menggabdikan diri melakukan
syiar, sementara kebutuhan rumah tangga nggak bisa ditawar-tawar. Mana
ada Manusia yang mau kelaparan? Nah, doi akhirnya memanfaatkan Ustadz
buat mencari duit gila-gilaan dengan memasang tarif. Dua tahun lalu
tarifnya mencapai 15 juta,” kata Ustadz YM. “Kalo sekarang ada yang
ngundang dengan tarif 5 juta pun dikejar. Maklum, persaingan Ustadz
gila-gilaan. Kalo sok pasang tarif tinggi, Ustadz itu bisa nggak makan.”
Ustadz YM sebenarnya menyayangkan temannya (maksudnya Ustadz JK) itu
pasang tarif. Banyak cerita-cerita miring soal Ustadz JK ini. Salah
satunya dari sebuah Institusi yang ingin mengundang doi. Oleh Management
Ustadz JK, Institusi itu diwajibkan menyetor dana senilai 20 juta cash
via transfer. Padahal waktu tausyiah Ustadz JK masih 3 bulan lagi.
“Nggak bisa DP dulu, Pak,” kata salah seorang Panitia dari Institusi tersebut, sebagaimana diceritakan oleh Ustadz YM.
“Nggak
bisa!” Galak banget jawaban Mas-Mas dari Management Ustadz JK itu.
“Ustadz JK itu schedule-nya penuh. Dia mau menyempatkan diri hadir di
tausyiah Anda, eh kok Anda menawar gitu?”
Mas-Mas Management semakin
marah ketika Panitia memutuskan mengganti Ustadz JK dengan Ustadz lain.
“Anda udah berjanji buat mengundang Ustadz JK. Anda harus teransfer
sekarang juga!” Idiiiiih, kok maksa gitu ya? Ya gitu deh kalo Ustadz
udah berubah jadi Ustadz Kapitalis.
“Nggak heran kalo dengan jadi Ustadz cari uang jadi mudah,” cerita
Ustadz YM lagi. “Tinggal bilang banyak-banyaklah bershodaqah atau amal
jariah, Jamaah yang kaya raya itu pasti bakal ngasih duit.”
Percaya nggak, ada Ustadz yang dikasih mobil Jaguar, even Celica sama
Jamaah-nya. Hah?! Sumpeh loe?! Iya, bener! Ustadz ini cari duit gampang
banget. Saking mudahnya, cari 100 juta udah kayak cari 10 ribu perak.
Hanya dengan tempo 1 tahun, Ustadz berinisial KK ini berhasil memiliki
duit senilai 1,5 miliar.
Memang sih terlalu kecil buat ukuran Pengusaha.
Tapi buat Ustadz KK, ini jadi sebuah prestasi yang gemilang nan jaya.
Sayang, semua sumbangan dimasukkan ke dalam rekening pribadi, bukan buat
kesejahteraan Ummat. Memang sih, doi dapat jatah dari sumbangan itu,
karena gara-gara doi, Jamaah mau bershadaqoh atau menyumbang. Tapi masa
50% duit buat pribadi? Bukan 2,5% atau kurang dari angka itu?
Bahkan Ustadz KK berhasil menipu salah satu pemilik stasiun televisi
swasta nasional. Kata Ustadz YM, awal tipu menipu itu gara-gara Ustadz
KK berhasil menjual diri. Ustadz KK bilang, Ummatnya banyak, jadi rugi
kalo nggak menggontrak dirinya. Walhasil, Bos televisi swasta setuju.
You know nilai kontrak si Ustadz KK itu, Bro? 2,5 miliar per tahun. Masa
kontrak yang diminta di Ustadz lima tahun. Artinya, dalam lima tahun
Ustadz itu berhasil mengantongi duit senilai 12,5 miliar. Wow?!
“Gara-gara
rating si Ustadz jeblok, maka kontraknya cuma bertahan setahun,” jelas
Ustadz YM. “Tapi lumayan kan setahun dapat 2,5 miliar?”
Kini, Ustadz-Ustadz Kapitalis masih merajelela. Sebenarnya, Ustadz
kayak gini memang nggak bisa dipersalahkan 100%. Keadaan yang membentuk
diri si Ustadz jadi Kapitalis. Persaingan antar stasiun televisi,
kebutuhan rumah tangga yang gila-gilaan (apalagi kalo si Ustadz menganut
aliran poligami), dan kita sendiri yang memberikan penghargaan terlalu
“berlebihan” pada Ustadz (baca: mengkultuskan). Nggak ketinggalan pula,
negara ini pun juga udah mengarah ke Negara Kapitalis. So, jangan
salahkan kalo Ustadz-Ustadz berubah wujudnya. Sekali lagi, Ustadz juga
Manusia bukan?
-
Ustadz minta DP.
Komentar
ust. Fulan: “Ummat: “Ustadz Ganteng, mohon maaf, berapa ya kami perlu
ganti untuk transportasi?”Ustadz Ganteng: “Untuk administrasi aja ya,
sediakan aja 30 juta, 10 juta dibayar di depan ke account saya. Oya,
kalo nggak jadi DP nya angus ya..”
Percaya atau nggak percaya, fakta
semacam ini ada. Begitulah suatu hari, ketua DKM salah satu masjid
bilang ke saya. Saya jadi mikir “pantes aja mobil si Ustadz Ganteng
Fortuner dll” hehe..
Saya pribadi juga seringkali ditanya, “Ustadz,
maaf nih, administrasinya berapa yang harus kita siapkan?”Jawab saya
“Saya nggak pernah minta bayaran untuk dakwah, berapapun yang panitia
kasih akan saya terima, kalo nggak ada pun nggak papa, asal transportasi
dan akomodasi ditanggung panitia”
Parahnya masa kini, banyak orang
yang udah nggak malu menjadikan Ustadz dan Da’i sebagai profesi.
Pekerjaan profesional. Karena itu layaknya seorang pembicara publik,
mereka mematok tarif sekali pengajian. Kalo udah masuk TV apalagi,
matoknya diatas 10 juta. Subhanallah.”
- Awas, Banyak Ustadz ‘Gadungan’ di Televisi.
Majelis Ulama
Indonesia melihat banyak ulama yang tidak berkompeten dan berintegrasi
tampil menjadi penceramah agama di televisi. “Harunysa kualitas dan
validitas serta keteladanan juru dakwah diperhitungkan,” kata Wakil
Ketua Tim Pemantau TV Ramadan 1431 H dari Majelis Ulama Indonesia (MUI),
Imam Suhardjo di Kantor Kementerian Komunikasi dan Informatika, Senin, 6
Agustus 2012.
- Adzan Disisipi Iklan dan Ustadz Melawak.
Banyak tayangan TV yang
nggak ada gunanya, yang ditampilkan cuma ketawa ketiwi badut-badut TV
tersebut. Bahkan tayangan adzan pun disisipi iklan, keterlaluan, serba
komersil semua. Ustadz juga malah ikut-ikutan melawak, kacau deh.
Berikut hasil pengawasan KPI tentang tayangan-tayangan TV tersebut. KPI
menangkap dua fenomena yang berbeda dalam penayangan program Ramadhan di
tahun ini. Hal ini diungkapkan dalam pengumuman hasil pantauan tayangan
Ramadhan selama dua pekan, Senin (22/8). Fenomena yang pertama adalah
adanya iklan dalam adzan dan fenomena ustad yang ikut bergabung dengan
berbagai program lawak di televisi ketika sahur.
Berkenaan dengan hal
tersebut, KPI sudah berbincang dengan Kementrian Agama dan meminta
pertimbangan kepada MUI. “KPI tidak bisa memberikan sanksi terahadap
penayangan adzan yang ada iklannya, karena memang tidak ada larangan
iklan dalam simbol-simbol keagamaan. Kami hanya mampu menghimbau dan
memberikan peringatan untuk segera diganti,” kata ketua KPI Dadang
Rahmat Hidayat. Imam Suharjo dari MUI berkata, “Itu akan dapat
mencederai peran mereka sebagai pendakwah.
Penampilan ustad sebaiknya
biasa saja tidak berlebihan dalam hal pakaian dan make up, dan jangan
ikut melawak seperti pelawak dan jangan ikutan nyanyi seperi penyanyi,”
ungkapnya.
(Sumber: Republika.co.id )
Ustadz Harus Ganteng?
Komentar al akh Bayu Gawtama : “…Ustadz
dan ustadzah ini, karena kegantengannya dan kecantikannya cepat meroket,
melesat bak selebritis. Bahkan hampir tidak ada bedanya dengan
selebritis, sebab ia pun kerap masuk dalam beragam acara infotainment
yang sebelumnya menjadi hegemoni penuh para selebritis kita. Dan
lantaran ingin memenuhi selera pasar pula, penampilan sang ustadz dan
ustadzah pun dipermak layaknya seorang artis. Pakaiannya jadi
trendsetter, banyak para jama’ah yang berupaya mengikuti semua gaya dan
penampilannya, dari baju gamis, kacamata, jilbab, sampai sepatu.
Ustadz dan ustadzah pun jadi bintang iklan, cenderung dimanfaatkan
oleh orang-orang yang mencari keuntungan dari popularitas keustadzannya.
Mereka pikir, ustadz dan ustadzah kan punya pengikut, jama’ah, atau
bahkan fans, jadi yang diincar itu bukan ustadznya, tapi yang berada di
belakang ustadz itu. Kemudian, makin terkenallah ustadz dan ustadzah
ini, diundang ceramah ke berbagai daerah dan kota seluruh Indonesia,
sampai ke luar negeri. Kehadirannya disambut meriah, pakai tepuk tangan
agar tambah ramai. Ustadz dielu-elukan, dan orang-orang pun berebut
menyentuh tangannya untuk diciumi. Tidak peduli ustadznya masih muda,
sedangkan yang mencium tangan muda itu adalah lelaki tua yang jalannya
sudah membungkuk.
Permintaan ceramah pun semakin banyak, sehingga ustadz bisa memilih
mana bayaran yang paling besar jika terdapat jadwal yang bentrok. Bahkan
pada saatnya, sang ustadz melalui manajernya boleh mengajukan tarif
tertentu kepada panitia penyelenggara atau tidak jadi sama sekali.
Maklum, permintaan tinggi, harga juga bisa ditinggikan. Gigit jarilah
para pengurus masjid di kampung-kampung, di desa-desa, dan di berbagai
pelosok negeri yang nyata-nyata tidak sanggup menyediakan uang transpor
dan akomodasi yang memadai saat harus mengundang ustadz kondang ini
berceramah di masjidnya. Sebab, kelas ustadz ini memang bukan lagi di
masjid-masjid kecil, di kampung-kampung becek, melainkan di masjid
besar, dan hotel.
Coba hitung, selain tarif yang mahal, masih harus menyediakan tiket
pesawat, akomodasi yang layak sekelas selebritis. Ujung-ujungnya, ustadz
kampung lagi yang dipakai, selain bayarannya murah, tidak perlu tiket
pesawat, hotel, dan bisa dijemput pakai motor. Meskipun seringkali yang
disebut ustadz ‘kampung’ ini kualitasnya boleh jadi lebih bagus dari
ustadz kondang dari kota. Baik kualitas materinya, juga integritas
kepribadiannya. Sayangnya, jama’ah kita sudah silau oleh ketenaran sang
ustadz kota.
(Sumber: http://kotasantri.com/pelangi/refleksi/2012/08/05/ustadz-harus-ganteng)
- Komentar al akh Jauhar Ridhoni Marzuq ( Mahasiswa Al Azhar Mesir & Kru QommunityRadio Kairo ):
“…Yang
membuat saya resah adalah munculnya dai-dai selebritis yang jauh dari
kualitas keulamaan. Bukan hanya kualitas keilmuan agamanya yang di bawah
standar pas-pasan, tapi juga karena komersialisasi dakwah dan perangai
buruk yang diperagakan. Sehingga hal itu bukan mendukung misi dakwahnya,
tapi justru menghancurkan nilai-nilai Islam yang didakwahkan. Kondisi
semacam ini tentu sangat berbahaya, karena bisa melahirkan sikap apatis
bahkan kebencian terhadap agama.
Saya tak habis pikir bagaimana bisa seorang dai, ulama, ustadz,
kiyai, atau apapun itu namanya, memasang tarif puluhan juta rupiah untuk
setiap kali memberikan ceramah?! Jika bayaran yang diberikan kurang
dari harga yang dipatok, sang dai tak mau memberikan ceramah. Belum
lagi, dai tersebut juga seperti selebritis yang memiliki manajer,
sehingga konsultasi keagamaan dan lain sebagainya harus melalui manajer
tersebut. Dengan demikian, ikatan antara dai dengan umat seperti ikatan
bisnisman dengan pelanggannya, bukan seperti ikatan antara orang tua dan
anak, guru dan murid, atau bahkan antara Nabi Muhammad dan para
sahabat.
Dakwah kemudian bukan menjadi kewajiban atau amanah yang harus
dijalankan dengan keikhlasan, tapi justru dijadikan alat untuk mendulang
uang. Karunia Allah yang menjadikan mereka diterima masyarakat justru
dimanfaatkan untuk mendulang popularitas. Mereka pun kemudian jadi artis
dadakan.
Saat muncul di infotainment, bukan nilai-nilai agama atau pengalaman
mereka belajar agama yang menjadi topik wawancara, melainkan tentang
rumah baru, mobil baru, koleksi sepatu baru, sampai motor besar seharga
ratusan juta rupiah.
Bahkan kehidupan pribadi mereka pun diekspos
seluas-luasnya. Lebih memprihatinkan lagi, sang dai tak malu-malu
menonton bisokop berduaan dengan wanita yang bukan mahramnya di tengah
sorotan kamera. Tentu tak ada salahnya jika seorang dai mempunyai banyak
harta dan kaya raya, selama kekayaan itu tidak didapatkan dengan
cara-cara yang haram, seperti korupsi, menipu mencuri, dan lain
sebagainya. Kekayaan itu justru bisa dijadikan penunjang aktifitas
dakwah, seperti yang dilakukan oleh Ibunda Khadijah Ra, Abu Bakar
al-Shiddiq Ra, dan Utsman bin Affan Ra.. Tapi secara akal sehat yang
paling dangkal pun, sungguh tidak layak bagi seorang dai atau ustadz
yang mengajarkan nilai-nilai luruh agama untuk pamer harta, bahkan pamer
kemesraan seperti layaknya artis sinetron di layar infotainment…”
Sebuah surat terbuka terpajang di dunia maya Oktober tahun lalu. Pesan itu ditujukan kepada Ustaz Solmed.
Isinya lebih tepat disebut sebagai curhat mengkritisi kedekatan sang
ustaz dengan seorang penyanyi, beberapa bulan sebelum ia menikah.
“… melalui surat terbuka ini, saya bukannya ingin menasihati Bapak.
Toh, saya juga jauh dari kepahaman terhadap ilmu agama. Saya hanya ingin
menyampaikan kegundahan hati seorang umat bahwa sebagai dari apa yang
Bapak lakukan menjadi contoh dan teladan bagi umat.”
“Jika memang sedang dekat dengan seorang wanita, janganlah mengklaim
itu sebagai taaruf. Kasihan muda-mudi kita, Pak, bila kini mereka lebih
merasa aman berdua-duaan dengan lawan jenis lantaran menganggap itulah
proses taaruf seperti yang Pak Ustaz contohkan…”
Tak cuma itu contoh yang tersaji di dunia maya. Ustaz Ahmad Sarwat
pada periode yang hampir bersamaan juga pernah menceritakan perihal
bayaran yang diberikan kepada ustaz seleb, sebutan bagi penceramah yang
berlagak seperti selebritas di televisi.
Ia tak menyebut nama. Namun, ia menulis pihak panitia Ramadhan
terpaksa membatalkan rencana memanggil Ustaz X karena tarif yang
dibanderol Rp 30 juta untuk ceramah 15 menit.
Banderol tinggi untuk memanggil ustaz, ustazah, serta artis religi
juga dibenarkan oleh salah satu manajemen. Dalam perbincangan kepada
Republika via Blackberry Messenger (BBM), ia mengungkapkan, tarif untuk
ustaz, seperti Solmed atau Ustaz Ahmad al-Habsyi, itu berkisar Rp 17
juta.
Tanya Jawa Soal
Honor Utadz Selebritis Bertarif Tinggi
Pertanyaan:
Assalamu’alaikum. Apakah da’i-da’i ataupun
ustadz-ustadz yang memasang tarif tertentu untuk dakwah dianggap menjual
ayat-ayat Allah -Subhanahu wa ta’ala-?
Jawaban:
Tidak diragukan lagi bahwa berdakwah kepada Allah
-Subhanahu wa ta’ala- adalah termasuk amal yang paling mulia, yang
paling agung pahalanya di sisi Allah -Subhanahu wa ta’ala-. Terutama
jika pelakunya tidak mengambil balasan karenanya karena mencontoh para
Nabi -Shalallahu alaihi wa salam-. Allah -Subhanahu wa ta’ala- telah
mengabarkan kepada kita tentang perkataan di antara mereka:
وَيَا قَوْمِ لا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مَالا إِنْ أَجْرِيَ إِلا عَلَى اللَّهِ
“Dan (Dia berkata): “Hai kaumku, Aku tiada meminta harta benda kepada
kamu (sebagai upah) bagi seruanku, upahku hanyalah dari Allah” (QS.
Huud: 29)
يَا قَوْمِ لا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا إِنْ أَجْرِيَ إِلا عَلَى الَّذِي فَطَرَنِي أَفَلا تَعْقِلُونَ
“Hai kaumku, Aku tidak meminta upah kepadamu bagi seruanku ini.
Upahku tidak lain hanyalah dari Allah yang telah menciptakanku. Maka
tidakkah kamu memikirkan(nya)?” (QS. Huud: 51)
وَمَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ إِنْ أَجْرِيَ إِلا عَلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ (١٠٩)
“Dan Aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan-ajakan
itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam.” (QS.
Asy-Syu’ara`: 109)
Akan tetapi jika da’i tersebut benar-benar mencurahkan waktu dan
tenaganya untuk dakwah, maka tidak mengapa dia mengambil upah darinya.
Dan memungkinkan baginya untuk menentukan imbalan atas jasanya yang
zhahir, seperti pembelian kitab, menyiapkan makalah, transportasi,
akomodasi dan lain-lain, atau orang lain yang menentukan imbalannya.
Yang demikian ini berdasarkan riwayat al-Bukhari dan lainnya, bahwa ada
sekelompok dari sahabat Rasulullah r yang turun ke sebuah perkampungan
dari perkampungan badui.
Kemudian kepala kampung tersebut terpatuk ular,
maka salah seorang sahabat membacakan atasnya al-Quran yang mulia, dan
Allahpun menyembuhkannya. Kemudian mereka mengambil upah atas hal
tersebut.
Kemudian mereka mengabarkan kejadian ini kepada Rasulullah r,
maka beliau bersabda kepada mereka:
« إِنَّ أَحَقَّ مَا أَخَذْتُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا كِتَابُ اللَّهِ »
“Sesungguhnya pahala yang paling berhak kalian ambil atasnya adalah Kitabullah.” (HR. Bukhari: 5296)
Sesungguhnya seorang da’i dan thalibul ilmi, jika diantara keduanya
mengambil uang transport menuju daerah yang dia berdakwah di dalamnya,
maka ia tidak tergolong mengambil upah karena dakwah atau mengajar, akan
tetapi itu hanyalah bagian dari saling tolong menolong dalam kebaikan
dan ketaatan. Dan Allah -Subhanahu wa ta’ala- telah memerintahkan untuk
saling menolong di atasnya. Allah -Subhanahu wa ta’ala- berfirman:
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلا تَعَاوَنُوا عَلَى الإثْمِ وَالْعُدْوَانِ
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa,
dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” (QS.
Al-Maidah: 2)
Dan tidak boleh seorang da’i memberikan syarat upah yang besar di
atas kemampuan panitia sebagai balasan dari muhadharah atau ceramahnya,
terutama jika dia memiliki gaji bulanan yang aman baginya untuk hidup
mulia. Aku nasihatkan untuk tidak mahal di dalam mengambil upah, dan
ambillah yang masuk akal, sekalipun yang utama adalah sukarela, jika dia
mampu. Wallahu a’lam. (AR)*
Allah SUbhanahu wa Ta’ala berfirman,
وَلَا تَشْتَرُوا بِآيَاتِي ثَمَنًا قَلِيلًا
Dan janganlah kamu menukarkan ayat-ayat-Ku dengan harga yang rendah. (QS al-Baqarah [2]: 41)
Rasulullah bersabda, ‘Bacalah Alquran dan niatkanlah hanya untuk
Allah, sebelum datang sekelompok orang yang membaca Alquran lalu dia
jadikan Alquran sebagai alat untuk meminta-minta harta.’ (H.R. Ahmad,
dan lain-lain; sahih, sebagaimana dalam Shahih Al-Jami Ash-Shaghir, no.
1169)
Al-Minawi, dalam Faydh al-Qadîr, mengatakan, “Bencana bagi umatku
(datang) dari ulama sû’, yaitu ulama yang dengan ilmunya bertujuan
mencari kenikmatan dunia, meraih gengsi dan kedudukan. Setiap orang dari
mereka adalah tawanan setan. Ia telah dibinasakan oleh hawa nafsunya
dan dikuasai oleh kesengsaraannya. Siapa saja yang kondisinya demikian,
maka bahayanya terhadap umat datang dari beberapa sisi. Dari sisi umat;
mereka mengikuti ucapan-ucapan dan perbuatan-perbuatannya. Ia
memperindah penguasa yang menzalimi manusia dan gampang mengeluarkan
fatwa untuk penguasa. Pena dan lisannya mengeluarkan kebohongan dan
kedustaan. Karena sombong, ia mengatakan sesuatu yang tidak ia ketahui.”
[Al-Minawi, Faydh al-Qadîr, VI/369.]
Di antara Ustaz-Ustaz yang tidak mematok
tarif besar dan cukup koperatif adalah
Ustadz KH. Arifin Ilham.
Selama waktunya tidak bentrok dengan schedule lain, Ustaz Arifin akan
bersedia melayani undangan siapa saja. Terakhir, di program Ramadhan di
salah satu televisi swasta yang berdurasi 30 menit, ia menerima honor Rp
700 ribu. Tentu honor ini berbeda jika beliau mengisi ceramah off air.
Namun setidaknya, selama ini ia tidak pernah tawar-menawar honor, meski
sebetulnya termasuk kategori Ustaz rating.