Tampilkan postingan dengan label tokoh spritual. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tokoh spritual. Tampilkan semua postingan

Rabu, 16 April 2014

Sejarah Pasukan Gerak Cepat Burung Hud-Hud Nabi Sulaiman

Dalam salah satu ayat Al Qur’an, dikisahkan tentang Bala Tentara Nabi Sulaiman :
Dan dihimpunkan untuk Sulaiman tentaranya dari jin, manusia dan burung lalu mereka itu diatur dengan tertib (dalam barisan) (Qs. An-Naml (27) ayat 17).

 
 
Dimana Perintah dari induk pasukan ataupun laporan ke induk pasukan, dilakukan dengan saling berkirim informasi, melalui surat yang diikatkan pada kaki (tubuh) burung.

Dan telah dihinpunkan bagi sulaiman bala tentaranya dari jin, manusia dan burung lalu mereka itu diatur dengan tertib (dalam barisan) (an-Naml: 17)
Dan dia memeriksa burung-burung lantas berkata ‘Mengapa aku tidak melihat (burung) hud-hud apakah dia termasuk yang tidak hadir?’ (an-Naml : 20)

 

Sebagaimana dilansir dalam ayat di atas, bahwa jumlah pasukan nabi Sulaiman amat banyak dan beraneka ragam, dari bangsa jin, manusia dan hewan. Meski begitu, nabi Sulaiman tidak pernah lengah terhadap anggota pasukan yang ada di bawah kepernimpinannya. Sebagai pemimpin, ia harus rnemeriksa dan mengetahui keadaan bawahannya. Ia berkewajiban mengayomi sekaligus memperbaiki keadaan mereka. Perhatian itu tak saja ditujukan kepada tangan kanan dan orang-orang terdekatnya, tetapi menyeluruh sampai pada pasukan tingkat paling bawah. Karena itu, burung yang notabene juga anggota pasukannya merniliki hak yang sama untuk diperhatikan.



Allah memberikan kemampuan pada Nabi Sulaiman untuk dapat mengerti dan memahami bahasa binatang, di antaranya bahasa burung hud-hud. Suatu ketika,Nabi Sulaiman memerintahkan burung hud-hud untuk terbang mengawasi kerajaan, khawatir akan ada musuh yang menyerang kerajaan. Maka di laksanakanlah tugas tersebut. Burung Hud-Hud terbang hingga ia sampai di sebuah kerajaan yang bernama Kerajaan Saba’ yang di pimpin oleh Ratu Bilqis, namun kerajaan ini tidak menyembah Allah Swt., melainkan menyembah matahari. Burung hud-hud yang melihat kejadian tersebut kembali ke nabi Sulaiman dan menyampaikan apa yang di lihatnya. Nabi Sulaiman pun menyruh kembali burung hud-hud untuk membawakan surat itu kepada Ratu Bilqis. Surat itu berisi ajakan kepada Ratu Bilqis dan rakyatnya untuk beribadah kepada Allah Swt. Setelah membaca surat itu, Ratu Bilqis menemui Nabi Sulaiman dan akhirnya, Ratu Biqis dan rakyatnya mau beribadah kepada Allah Swt.

Hud-hud dikirim untuk menjalankan tugas kenegaraan penting yakni tugas intelijen dan ia membawa berita penting untuk Nabi Sulaiman a.s., sebab dari hasil kerja pasukan intelijen yang dipimpin oleh Hud-hud itulah Nabi Sulaiman a.s. telah merancang siasat berkenaan dengan Ratu Saba.

Saba dapat disamakan dengan Syeba dari Bible (I Raja-raja bab 10). Saba adalah sebuah kota di Yaman terletak kira-kira tiga hari perjalanan dari kota Shana’ dan merupakan pusat pemerintahan Ratu Saba. Lagi pula, Saba adalah cabang terkenal dari kabilah Qahthani.


Siapa sesungguhnya “Hud-Hud” itu ?

Ada yang berkeyakinan, Nabi Sulaiman bisa bercakap-cakap dengan burung. Mereka percaya Hud-hud sebagaimana dikisahkan di dalam Al Qur’an, adalah se-ekor burung yang istimewa.

Benarkah demikian ?

Kamis, 18 Juli 2013

Imam Syafi’i Khattam Quran 60 Kali Setiap Ramadhan

baca quran

Sudah berapa juz yang And abaca hari ini? Atau mungkin sudah beberapa kali khattam ya.  Ramadhan dan Al Quran memang dua kenikmatan tak ternilai yang diberikan Allah kepada kita. Keduanya saling melengkapi, seolah tak terpisahkan. Ada ikatan hakikat dan fisik antara Al Quran dengan Ramadhan. Ikatan tersebut adalah Allah menurunkan Al Qur’an di bulan Ramadhan, juga mewajibkan puasa.

Bagi Allah, membaca Al Quran merupakan ibadah paling utama di bulan Ramadhan yang suci ini, karena dengan senantiasa membaca Al Qur’an, kita mendapatkan banyak kebaikan.

Dipilihnya Ramadhan menjadi bulan puasa adalah karena Al Quran diturunkan pada bulan itu. Bahkan dalam tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwa kitab-kitab Allah yang diturunkan kepada nabi-nabi yang lain juga diturunkan pada bulan Ramadhan.

Rasulullah saw bersabda, “Al Quran ini adalah hidangan Allah, maka terimalah hidangan ini sesuai kemampuan kalian. Al Qur’an ini adalah tali Allah, cahaya yang terang, obat yang bermanfaat. Terpeliharalah orang yang berpegang teguh dengannya, dan keselamatanlah bagi yang mengikutinya. Jika akan menyimpang, maka diturunkan, tidak terputus keajaibannya, tidak lapuk karena banyak diulang. Bacalah. karena Allah akan memberikan pahala bacaan kalian setiap huruf sepuluh kebaikan. Aku tidak mengatakan alif lam mim satu huruf, tetapi alif satu huruf, lam satu huruf dan mim satu huruf.” (HR. Al Hakim)
Imam As Syafi’i mengkhatamkan Al Quran 60 kali selama bulan Ramadhan, di luar yang ia baca dalam shalat tarawih. Imam Abu Hanifah juga melakukan hal yang sama. Sebagian dari orang-orang shalih ada yang khatam setiap pekan dan ada pula yang khatam setiap sepuluh hari.

Ibnu Abdul Hakam berkisah tentang Imam Malik. ia berkata “Apabila masuk Ramadhan, biasanya Imam Malik meninggalkan membaca hadits dan majelis-majelis ilmu untuk mengkhususkan diri membaca Al Qur’an dengan melihat mushaf. Katanya “Ini bulan Al Quran, tidak pantas ada perkataan yang menyibukkan dari Al Quran.”

Hal yang sama juga dilakukan oleh Imam Ahmad. Konon, Imam Ahmad bin Hambal apabila memasuki bulan Ramadhan menutup majelis fatwanya dan duduk di masjid untuk berdzikir dan membaca Al Quran. Sedang Az Zuhry rahimahullah, apabila telah masuk bulan Ramadhan, ia berkata, “Ini adalah bulan membaca Al Quran dan bulan memberi makan (orang yang membutuhkan)”

Orang-orang shalih itu tidak hanya mengkhatamkan Al Qur’an melalui bacaan mushaf. Sebagian mereka biasa mengkhatamkan Al Quran dalam shalat pada setiap tiga malam. Sebagian lagi pada setiap sepuluh malam. Diantara mereka ada Abu Raja’ Al Atharly rahimahullah.

Ali bin Abi Thalib ra pernah berkata, “Ketahuilah tidak ada kebaikan dalam lbadah kecuali dengan ilmu, tidak ada kebaikan dalam ilmu kecuali dengan pemahaman, dan tidak ada kebaikan dalam membaca Al Qur’an kecuali dengan tadabbur.”

Asy Syahid Sayyid Quthb mengatakan dalam muqadimmah tafsirnya, “Hidup dalam naungan Al Quran adalah nikmat. Nikmat yang hanya diketahui oleh siapa yang telah merasakannya. Nikmat yang akan menambah usia, memberkahi dan menyucikannya.
Seperti juga dikatakan Imam Al Maraghi, “Ada dua kenikmatan di bulan Ramadhan, yaitu nikmat membaca Al Quran dan nikmat puasa. Nikmat ilmu dan cahaya (nur) serta hidayah yang diperoleh dari membaca Al Quran, dan nikmat sarana untuk menerima penghargaan anugera ini diperoleh dari (bulan) puasa.”

Memperbanyak membaca Al Qur’an dan atau mentadabburinya di bulan ini adalah dua hal yang bisa kita gabungkan. Atau mengkhususkan salah satunya. Semua akan berpahala besar sebagai penyempurna ibadah puasa kita.

Bagi seorang Muslim, pada bulan Ramadhan berkumpul dua jihad atas dirinya; jihad di waktu siang dalam rangka berpuasa, serta jihad di waktu malam dalam rangka shalat dan membaca Al Qur’an. Barangsiapa yang mengumpulkan kedua jihad ini, serta menunaikan keduanya seraya bersabar, maka pahalanya akan dipenuhi tanpa batas.

Ka’ab berkata, “Pada hari kiamat akan terdengar seruan, “Sesungguhnya setiap orang yang menanam akan diberikan apa yang ditanamnya disertai tambahan, hanya para ahli Al Quran dan puasa diberikan pahala mereka tanpa batasan.”

Pergunakan kesempatan sebaik mungkin untuk mendekatkan diri kepada Allah melalui tilawah Al Quran. Waktu terus berputar dan tidak akan pernah kembali. Jangan sampai kita menyesal, karena tidak pernah berinteraksi dengan Al Quran, yang pada bulan Ramadhan akan menjadi ladang amal kita yang luar biasa dan mendapatkan keberkahan dari Allah SWT. [sumber: tarbawi]

Minggu, 14 Juli 2013

Shalat Tarawih Rasulullah dan Umar Bin Khattab


“Dari Abu Salamah bin ‘Abdirrahman, dia mengabarkan bahwa dia pernah bertanya pada ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, “Bagaimana shalat malam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di bulan Ramadhan?”. ‘Aisyah mengatakan,  “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah menambah jumlah raka’at dalam shalat malam di bulan Ramadhan dan tidak pula dalam shalat lainnya lebih dari 11 raka’at,” (HR. Bukhari no. 1147dan Muslim no. )738

Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, beliau menuturkan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat bersama kami di bulan Ramadhan sebanyak 8 raka’at lalu beliau berwitir. Pada malam berikutnya, kami pun berkumpul di masjid sambil berharap beliau akan keluar. Kami terus menantikan beliau di situ hingga datang waktu fajar. Kemudian kami menemui beliau dan bertanya, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami menunggumu tadi malam, dengan harapan engkau akan shalat bersama kami.” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Sesungguhnya aku khawatir kalau akhirnya shalat tersebut menjadi wajib bagimu.” (HR. Ath Thabrani, Ibnu Hibban dan Ibnu Khuzaimah. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa derajat hadits ini hasan.

Dari Ibnu ‘Abbas, beliau berkata, “Shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di malam hari adalah 13 raka’at.” (HR. Bukhari no. 1138 dan Muslim no. 764). Sebagian ulama mengatakan bahwa shalat malam yang dilakukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah 11 raka’at. Adapun dua raka’at lainnya adalah dua raka’at ringan yang dikerjakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai pembuka melaksanakan shalat malam, sebagaimana hal ini dikatakan oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari (4/123).

Ibnu Hajar Al Haitsamiy mengatakan, “Tidak ada satu hadits shahih pun yang menjelaskan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan shalat tarawih 20 raka’at. Adapun hadits yang mengatakan “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa melaksanakan shalat (tarawih) 20 raka’at”, ini adalah hadits yang sangat-sangat lemah.” (Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah Al Quwaitiyyah, 2/9635)

Oleh karena itu, jumlah raka’at shalat tarawih yang dianjurkan adalah tidak lebih dari 11 atau 13 raka’at. Inilah yang dipilih oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana disebutkan dalam hadits-hadits yang telah lewat.

Bolehkah Menambah Raka’at Shalat Tarawih Lebih dari 11 Raka’at?
Ibnu ‘Abdil Barr mengatakan, “Sesungguhnya shalat malam tidak memiliki batasan jumlah raka’at tertentu. Shalat malam adalah shalat nafilah (yang dianjurkan), termasuk amalan dan perbuatan baik. Siapa saja boleh mengerjakan sedikit raka’at. Siapa yang mau juga boleh mengerjakan banyak.” (At Tamhid, 21/70)

Berbagai Pendapat Mengenai Jumlah Raka’at Shalat Tarawih
Shalat tarawih 11 atau 13 raka’at yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bukanlah pembatasan. Sehingga para ulama dalam pembatasan jumlah raka’at shalat tarawih ada beberapa pendapat. Ada sebagian ulama yang membatasinya dengan 11 raka’at. Mayoritas ulama mengatakan shalat tarawih adalah 20 raka’at (belum termasuk witir).

Al Kasaani mengatakan, “ ’Umar mengumpulkan para sahabat untuk melaksanakan qiyam Ramadhan lalu diimami oleh Ubay bin Ka’ab radhiyallahu Ta’ala ‘anhu. Lalu shalat tersebut dilaksanakan 20 raka’at. Tidak ada seorang pun yang mengingkarinya sehingga pendapat ini menjadi ijma’ atau kesepakatan para sahabat.” (Lihat Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah, 2/9636).

Ulama lainnya mengatakan lagi bahwa shalat tarawih adalah 39 raka’at dan sudah termasuk witir. Juga ada yang mengatakan mengatakan bahwa shalat tarawih adalah 40 raka’at dan belum termasuk witir. Bahkan Imam Ahmad bin Hambal melaksanakan shalat malam di bulan Ramadhan tanpa batasan bilangan.

Kesimpulan dari pendapat-pendapat yang ada adalah sebagaimana dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah,  “Semua jumlah raka’at di atas boleh dilakukan. Melaksanakan shalat malam di bulan Ramadhan dengan berbagai macam cara tadi itu sangat bagus. Dan memang lebih utama adalah melaksanakan shalat malam sesuai dengan kondisi para jama’ah. Kalau jama’ah kemungkinan senang dengan raka’at- raka’at yang panjang, maka lebih bagus melakukan shalat malam dengan 10 raka’at ditambah dengan witir 3 raka’at, sebagaimana hal ini dipraktekkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri di bulan Ramdhan dan bulan lainnya. Dalam kondisi seperti itu, demikianlah yang terbaik.

Namun apabila para jama’ah tidak mampu melaksanakan raka’at-raka’at yang panjang, maka melaksanakan shalat malam dengan 20 raka’at itulah yang lebih utama. Seperti inilah yang banyak dipraktekkan oleh banyak ulama. Shalat malam dengan 20 raka’at adalah jalan pertengahan antara jumlah raka’at shalat malam yang sepuluh dan yang empat puluh. Kalaupun seseorang melaksanakan shalat malam dengan 40 raka’at atau lebih, itu juga diperbolehkan dan tidak dikatakan makruh sedikitpun. Bahkan para ulama juga telah menegaskan dibolehkannya hal ini semisal Imam Ahmad dan ulama lainnya.

Oleh karena itu, barangsiapa yang menyangka bahwa shalat malam di bulan Ramadhan memiliki batasan bilangan tertentu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sehingga tidak boleh lebih atau kurang dari 11 raka’at, maka sungguh dia telah keliru.” (Majmu’ Al Fatawa, 22/272).

Dari penjelasan di atas kami katakan, hendaknya setiap muslim bersikap arif dan bijak dalam menyikapi permasalahan ini. Sungguh tidaklah tepat kelakuan sebagian saudara kami yang berpisah dari jama’ah shalat tarawih setelah melaksanakan shalat 8 atau 10 raka’at karena mungkin dia tidak mau mengikuti imam yang melaksanakan shalat 23 raka’at atau dia sendiri ingin melaksanakan shalat 23 raka’at di rumah. 

Shalat Tarawih di Masa Abu Bakar dan Umar

shalat-tarawih

Shalat tarawih adalah bagian dari shalat sunnah Al-Mu’akkadadah (shalat sunnah yang sangat disunnahkan). Sedangkan raka’at shalat tarawih adalah 20 rakaat tanpa witir, sebagaimana yang telah dikerjakan Umar dan mayoritas sahabat lainnya yang sudah disepakati oleh umatnya.

Bahkan ini sudah menjadi ijma’ sahabat dan semua ulama’ madzhab, Syafi’i, Hanafi, Hanbali dan mayoritas Madzhab Maliki. Karena dalam Madzhab Malikyi ini masih ada khilaf, seperti hadist yang diriwayatkan dari Imam Malik bin Anas ra, Imam darul Hijroh Madinah yang berpendapat bahwa shalat tararawih itu lebih dari 20 rakaat sampai 36 rakaat. Adapun hadist Malik bin Anas adalah sebagaimana berikut: Beliau berkata; “Saya dapati orang-orang melakukan ibadah malam di bulan Ramadhan ‘yakni shalat tarawih’ dengan tiga puluh sembilan raka’at yang tiga adalah shalat Witir.”

Imam Malik sendiri memilih 8 rakaat namun secara mayoritas Malikiyyah sesuai dengan pendapat mayoritas Syafi’iyyah, Hanabilah dan Hanafiyyah yang telah sepakat bahwa shalat tarawih adalah 20 raka’at, hal ini merupakan pendapat yang lebih kuat dan sempurna ijma’nya.

Shalat Tarawih Pada Masa Sahabat Abu Bakar 

Umat Islam melaksanakan shalat tarawih sendiri-sendiri atau berkelompok sekitar 3, 4, dan atau 6 orang.

Pada masa Abu Bakar, shalat tarawih dengan satu imam di masjid belum ada, sehingga pada masa tersebut rakaat shalat tarawihpun belum ada ketetapan yang secara jelas, karena para shahabat ada yang melaksanakan shalat 8 rakaat kemudian menyempurnakan di rumahnya seperti pada keterangan di awal.

Shalat Tarawih Pada Masa Umar

Setelah Umar mengetahui umat Islam shalat tarawih sendiri-sendiri, barulah muncul dalam pikirannya untuk mengumpulkan para sahabat untuk melaksanakan shalat tarawih di dalam masjid dengan satu imam, sebagaimana keterangan di bawah ini:

“Dari Abi Hurairah ra, beliau berkata: “Rasulullah SAW keluar di bulan Ramadhan, beliau melihat banyak manusia yang melakukan shalat tarawih di sudut masjid, beliau bertanya, ‘Siapa mereka?’, kemudian dijawab: ‘Mereka adalah orang-orang yang tidak mempunyai al-Qur’an (tidak bisa menghafal atau tidak hafal al-Qur’an), dan sahabat Ubay bin Ka’ab shalat mengimami mereka’. Lalu Nabi berkata: ‘Benar mereka itu, dan sebaik-baiknya perbuatan adalah yang mereka lakukan’,” (HR: Abu Dawud).

Kemudian Umar berinisiatif mengumpulkan para sahabat shalat tarawih dalam satu Masjid dengan satu imam. Sebagaimana keterangan:

“Dari ‘Abdirrohman bin ‘Abdil Qori’ beliau berkata; ‘Aku keluar bersama Umar bin Khatthab ra ke Masjid pada bulan Ramadhan. (Didapati dalam masjid tersebut) orang yang shalat tarawih berbeda-beda. Ada yang shalat sendiri-sendiri dan ada juga yang shalat berjama’ah. Lalu Umar berkata: ‘Aku punya pendapat andai kata mereka aku kumpulkan dalam jama’ah satu imam, niscaya itu lebih bagus.’ Lalu beliau mengumpulkan mereka dengan seorang imam, yakni Ubay bin Ka’ab. Kemudian satu malam berikutnya, kami datang lagi ke masjid. Orang-orang sudah melaksanakan shalat tarawih dengan berjama’ah di belakang satu imam. Umar berkata: ‘Sebaik-baiknya bid’ah adalah ini (shalat tarawih dengan berjama’ah)’,” (HR: Bukhari).

Dari sini sudah sangat jelas bahwa pertama kali orang yang mengumpulkan para sahabat untuk melaksanakan tarawih dengan cara berjama’ah adalah Umar, sedangkan jama’ah shalat tarawih pada waktu itu dilakukan dengan 20 rakaat. Sebagaimana keterangan:
Dari Yazid bin Ruman telah berkata: “Manusia senantiasa melaksanakan shalat (tarawih) pada masa Umar ra di bulan Ramadhan sebanyak 23 rakaat,” (HR. Malik).

Yang dimaksud 23 rakaat adalah, melaksanakan shalat tarawih 20 rakaat dan witir. Dengan bukti hadist yang diriwayatkan Sa’ib bin Yazid:

“Dari Saaib bin Yazid berkata: “Para sahabat melaksanakan shalat (tarawih) pada masa Umar ra di bulan Ramadhan sebanyak 20 rakaat,” (HR. Al-Baihaqi).

Apakah Umar salah karena telah melakukan apa yang tidak dilakukan oleh Rasulullah?
“Sesungguhnya Allah telah menjadikan kebenaran melalui lisan dan hati Umar,” (HR. Turmudzi).  “Dari Hudzaifah ra ia berkata, Rasulullah SAW telah bersabda; ‘Ikutilah dua orang setelahku, yakni Abu Bakar dan Umar,” (HR. Turmudzi).

Kamis, 16 Mei 2013

Tanda - Tanda Datangnya Imam Mahdi


Salah Satu Tanda Datangnya Imam Mahdi Adalah Waktu Yang Terasa Cepat? - ''Hari Kiamat tak akan datang kecuali insiden berikut ini terjadi. Waktu akan semakin singkat, di mana jarak akan semakin pendek dengan digunakannya kendaraan.'' (Buhari, Fitan.25; Ahmadibn Hanbal, Musnad, 2/313). Dalam hadis lain disebutkan, Anas RA berkata, Rasulullah SAW bersabda, ''Hari Kiamat tak akan datang kecuali waktu semakin singkat. Penyingkatan ini terjadi sedemikian cara seperti satu tahun yang berlalu seperti sebulan, dan sebulan yang berlalu seperti seminggu, dan seminggu berlalu seperti satu hari dan satu hari yang berlalu seperti satu jam dan satu jam yang berlalu seperti secepat kilat.'' (Tirmidhi, Zuhd: 24, 2333).
Cendekiawan Muslim Harun Yahya mengungkapkan, saat ini waktu memang terasa berputar lebih cepat. Perjalanan yang dulu berlangsung beberapa bulan, kini dapat dilakukan dalam beberapa jam.
''Dengan perbandingan yang lebih aman, lebih mudah, dan format yang lebih nyaman,'' ujar Harun Yahya.
Tak cuma itu, komunikasi yang dulu membutuhkan waktu berminggu-minggu untuk menjangkau wilayah antarbenua, saat ini dapat dilakukan hanya dalam hitungan detik melalui internet dan teknologi komunikasi lainnya.
Selain itu, papar Harun Yahya, tugas sehari-hari seperti membersihkan, memasak, penitipan anak, pemeliharaan, dan belanja tidak lagi mengambil terlalu banyak waktu dengan menggunakan perangkat elektronik yang canggih.
''Pertanda akhir zaman yang telah disebut Rasulullah SAW itu secara ilmiah telah terbukti. Waktu semakin singkat,'' papar cendekiawan memiliki nama asli Adnan Oktar itu.

Menurut Harun Yahya, di ruang di antara permukaan bumi dan ionosfer konduktif, terdapat getaran alami. Frekuensi mendasar ini yang juga dikenal sebagai Detak Jantung Dunia, disebut sebagai Resonansi Schumann.
''Hal tersebut telah diramalkan secara matematis oleh fisikawan Jerman Winfried R Schuman pada tahun 1952,'' tuturnya.
Resonansi Schumann, kata dia, sangat penting karena membungkus bumi. ''Dengan demikian terus menjaga alam dan semua bentuk kehidupan di bawah efeknya. Hal ini secara terus menerus diukur oleh pusat penelitian fisika terkemuka di dunia.''
Pada 1950, Resonansi Schumann diukur pada skala 7.8 hertz. Nilai ini dianggap tetap konstan. Memang sistem komunikasi global militer ini didirikan di atas frekuensi ini.

Namun, pada 1980-an, terjadi perubahan tiba-tiba. Sebab, pada tahun itu Resonansi Schumann diukur di atas 11 hertz. ''Laporan terbaru telah mengungkapkan bahwa angka ini bahkan akan meningkat lagi. Perubahan dalam Resonansi Schumann; frekuensi menunjukkan mempercepat waktu,'' tuturnya.
Dengan demikian, waktu 24 jam terasa seperti 16 jam atau kurang. Ilmu pengetahuan tidak mampu menjelaskan mengapa angka ini mengalami kenaikan, atau faktor yang menyebabkannya meningkat.
''Dengan makin singkatnya waktu, pertanda akhir zaman yang diramalkan oleh Nabi SAW terbukti secara ilmiah saat ini,'' tuturnya.
Bumi semakin dipersiapkan untuk hari Kiamat dan oleh kehendak Allah pertanda yang diisyaratkan terjadi secara berturut turut.
“Di masa lalu, hari itu lebih lama; kami dapat melakukan banyak pekerjaan setiap hari. Waktu telah makin singkat. Ini jelas. Ini adalah pertanda dari Akhir Zaman. Ini adalah pertanda hadirnya Imam Mahdi. Ini adalah sebuah keajaiban yang disebutkan Nabi Muhammad SAW,'' papar Adnan Oktar dalam wawancara dengan AKS SAMSUN TV dan TV KAYSERI.
''Semua orang mengatakan ini. Akhir pekan datang dalam waktu singkat. Apakah akhir pekan datang begitu cepat di masa lalu? Hari-hari tersebut tidak terelewati. [Sekarang] hari berakhir dalam sekejap. Satu kali tidur untuk sementara waktu, untuk tujuh atau delapan jam, kemudian dia terbangun, sarapan dan malam datang dan hari berakhir. Orang pergi bekerja dan dalam waktu singkat kembali ke rumah dan tidur. Dia tidak punya waktu untuk bernapas,'' ungkapnya. 
 

Sumber: http://ajangmisteri.blogspot.com

Khayalan Iron Man & Isra’ Mi’raj Nabi

  Iron Man header

TONY Stark hidup dengan seorang asisten digital yang dilengkapi dengan aplikasi komputer bernama JARVIS (Just A Really Very Intellegent System). Aplikasi super canggih tersebut mampu memvisualkan gambar sederhana menjadi gambar dengan tampilan 5 Dimensi. Hanya dengan sentuhan tangan sang jagoan, berubahlah file-file digital menjadi realworld sehingga materi yang ada di dalamnya dapat dilihat dari segala arah seperti di dunia sungguhan.

Ternyata teknologi mutakhir tersebut pernah terjadi di zaman Rasulullah Saw, yaitu ketika beliau diperjalankan di malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqso (Isra’) lalu dinaikkah ke sidratul muntaha di langit ke tujuh (Mi’raj). Para ulama berbeda pendapat tentang waktu terjadinya Isra’ Mi’raj, karena tidak ada dalil rajih yang menunjukkan tanggal, bulan dan tahun keberapa peristiwa ini terjadi.

“Dari Ibnu Abbas r.a, ia telah berkata: Telah bersabda Rasulullah Saw: Ketika malam aku diisra’kan dan subuhnya aku telah sampai di Makkah, aku mengkhawatirkan urusanku, dan aku tahu bahwasannya manusia akan mendustakanku. Kemudian aku duduk bersedih hati. Ia Ibnu Abbas berkata: kemudian melintaslah musuh Allah, Abu Jahal. Dia datang sehingga duduk di dekat beliau, kemudian berkata kepada beliau: Kamu tampak sedih, apakah ada sesuatu ? Rasulullah Saw pun menjawab: Sesungguhnya aku diisra’kan malam tadi. Dia berkata: ke mana? Beliau menjawab: ke Bait Al-Maqdis. Dia berkata: kemudian engkau subuh sudah ada di hadapan kami (di Makkah ini)? Beliau jawab: Ya. Ia berkata: Namun dia tidak menampakkan sikap bahwa ia mendustakannya karena takut beliau tidak mau menceritakan hal itu lagi jika kaumnya dipanggilkannya. Dia berkata: Tahukah engkau, jika engkau hendak menda’wahi kaummu, kau harus kisahi mereka apa yang barusan kau ceritakan padaku. Rasulullah Saw pun menjawab: Ya. Kemudian dia berseru: Kemarilah wahai penduduk Bani Ka’ab bin Lu’ai! Lalu mereka berkumpul kepadanya datang sampai duduk mengelilingi keduanya.

Dia berkata: Kisahi kaummu apa yang telah engkau kisahkan kepadaku. Rasulullah Saw pun berkata: Sesungguhnya malam tadi aku diisra’kan. Mereka bertanya: ke mana? Kujawab: Ke Bait Al-Maqdis. Mereka bertanya: Kemudian subuh engkau berada di depan kami. Beliau menjawab: Ya. Ia (Ibnu Abbas) berkata: Maka ada yang bersorak dan ada yang meletakkan tangannya di atas kepala karena heran atas kebohongan itu (menurut mereka). Mereka berkata: dan apakah engkau dapat menyifatkan kepada kami masjid itu? Dan diantara penduduk ada yang pernah pergi ke negeri itu dan pernah melihat masjid itu. Maka Rasulullah Saw bersabda: “Maka aku mulai menyebutkan ciri-cirinya dan tidaklah aku berhenti menyifatkan sehingga aku lupa beberapa cirinya.” Beliau bersabda: “Lantas didatangkan masjid sampai diletakkan tanpa kesamaran sehingga aku dapat melihat(nya). Maka aku menyifatkan dengan melihat hal itu.” Ia berkata: dan sampai ini, ada sifat yang tidak aku hafal. Ia berkata: kemudian ada kaum yang berkata: “adapun sifat tersebut, demi Allah, ia benar.” (HR. Ahmad (2680), disahkan Al-Albani dalam Ash-Shahihah (VII:3021)) .




Dalam hadits tersebut dijelaskan bahwa ketika Nabi Saw lupa akan sifat Masjid Baitul Maqdis, Allah segera mendatangkan gambar Masjid tersebut ke hadapan beliau agar bisa melanjutkan penjelasannya tanpa keraguan, mungkin jika tidak berlebihan bisa kita katakan di hadapan beliau terpampang sebuah layar berukuran besar yang menampilkan citra Masjid Baitul Maqdis berikut halamannya dalam bentuk lima dimensi, sehingga Rasul Saw bisa memutar-mutarnya untuk mengetahui berapa jumlah tiang masjid Baitul Maqdis, bagaimana bentuk halaman depannya, seperti apa ukiran-ukiran yang ada dinding masjid tersebut.

“Maha suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Al-Isra’: 1)

Semakin canggih teknologi di zaman modern ini maka akan semakin mudah kebenaran Al-Qur’an dibuktikan, hal-hal yang tidak masuk akal dan menjadi bahan tertawaan kaum kafir di masa lalu sekarang menjadi sesuatu yang logis dan dapat dijelaskan melalui fakta ilmiah. Wallahu a’lam.


Sumber: http://ajangmisteri.blogspot.com

Rabu, 08 Mei 2013

Inilah Tarif Honor Ustad Selebritis Sebenarnya


Kami Akan Berbagi Informasi Terbaru Khusus Buat Sobat semua yakninya tentang INILAH TARIF HONOR USTAD SELEBRITIS SEBENARNYA, semoga bisa Bermanfaat ya Buat Sobat Semua.

BERAPA HONOR TARIF USTADZ SELEBRITIS itulah mungkin hal yang banyak dipertanyakan oleh para penyelenggara yang akan mengadakan acara Pengajian dengan mendatangkan Ustad selebritis terkenal.

Maka itu, pada kesempatan kali ini, akan di kupas beberapa kutipan komentar dari saudara-saudara kita mengenai mahalnya tarif untuk seorang Da’i Kondang atau Ustadz Seleb, yang membuktikan bahwa segala sesuatu yang jauh dari Sunnah (alias Bid’ah) maka mahal harganya. Berikut sebagian komentar-komentar mereka:- Ustadz Selebritis Mematok Tarif Rp.30Juta/15 Menit.

USTAD INILAH TARIF HONOR USTAD SELEBRITIS SEBENARNYA

Komentar ust. Ahmad Sarwat, “Ramadhan kemarin ada panitia ceramah yang ngaku terus terang ke saya bahwa seharusnya yang diundang bukan saya, tapi ustadz X. Tapi gagal gak jadi diundang lantaran pihak manager gak mau turun lagi TARIF-nya dari angka 30 juta untuk ceramah 15 menit menjelang buka puasa. Akhirnya yang diundang saya yang bisa dikasih “syukron” doang,” terangnya.

Biaya mendatangkan ustadz (seleb) itu, bisa menghabiskan dana 90 jutaan!

Komentar Fulan : “…….dulu pernah menjadi bagian dari “dakwah jutawan” semacam ini, contohnya ingin mendatangkan seorang dai dari bandung, mungkin hampir 100 jutaan, alasannya sich mereka punya kantor, punya anak buah yang harus dibiayain, uang hotelnya (minta hotel yang bagus/mahal), dan saat kita minta datang sendiri atau paling tidak minimal dengan beberapa orang saja maka bagian agennya bilang tidak bisa karena harus datang dengan rombongan, karena tidak ada dananya maka yang begitu itu tidak jadi dilakukan. Pernah denger juga cerita, jadi di kampus saya pernah mau datangi seorang ustadz. Bliau bersedia asal dibayar minimal 40 juta. Gilaaaa!!!”

Berapa honor ustadz seleb?
Komentar seseorang: “…honornya untuk setiap acara berbeda tetapi minimum sekarang 15 juta, ada yang bahkan memberikan ratusan juta rupiah, karena memang beliau tidak mau menetapkan tarif, jadi terserah yang memberi (yang memiliki acara) dan 5 juta setiap pertemuan untuk acara2 yang tampil secara rutin di televisi.”

Tarif ust. C**** sebesar Rp.10 juta!
Menurut pernyataan dari ibu Kenah,biaya atau tarif Ustadz C**** sebesar 10 juta rupiah.Kendati biaya itu cukup mahal untuk ukuran masyarakat yang berada di daerah pedesaan,ia tidak berkeberatan.Sejak dari awal memang sudah berencana untuk menghadirkan ceramah dari ustadz kondang itu.Tepat pukul 21.00 ustadz C**** datang dan langsung memulai ceramahnya di hadapan kurang lebih 1000 penonton yang sudah hadir memenuhi area halaman rumah ibu Kenah. Sekedar pertimbangan buat yang ingin mengundang beberapa ustadz kondang, Ibu Kenah sempat menanyakan tarif ustadz yang lainnya. Diantaranya Ustadz A* G** mempunyai tarif 8 juta rupiah, Ustadz J**** mempunyai tarif 11 juta.Itu adalah tarif untuk panggilan ke wilayah Cirebon.

Ustadz-ustadz Kapitalis?
Komentar ust. YM: “Dahulu ada Ustadz yang tarifnya mencapai 40 juta sekali ceramah. Sebenarnya bukan salah Ustadz itu 100% sih. Gara-gara persaingan antar televisi aja yang menyebabkan si Ustadz pasang tarif segede gitu… si Ustadz 40 juta itu asalnya cuma sebagai Penceramah di masjid Al Azhar. Rupanya ada Produser R*** (salah satu stasiun TV swasta) yang tertarik dengan ceramah sang Ustadz. Jadilah si Ustadz masuk televisi. Sekali dua kali tampil, ada S*** (salah satu stasiun TV swasta) yang juga tertarik buat mengundang Ustadz 40 juta ini. Entah ada setan apa, si Ustadz meluncurkan kata-kata: “Kalo mau munculin ane di televisi, ente berani bayar 15 juta nggak? Namanya juga persaingan bebas, S*** tanpa ba-bi-bu langsung “membajak” Ustadz berinisial KB ini. Sejak itulah KB menjadi Ustadz dengan honor tertinggi. Dari 15 juta beranjak ke 20 juta, dan sampai akhirnya bertarif 40 juta. Gokil! Memang sih, gaya bertausyiahnya keren, menyejukkan, dan segar. Memang juga sih, spot iklan di televisi akhirnya bisa menutup tarif Ustadz KB ini. Tapi wajar nggak sih Ustadz mengkomersilkan diri?

Ustadz YM cerita lagi soal Ustadz lain. Kali ini inisialnya JK. Gw kenal dengan Ustadz JK, tapi sayang doi nggak kenal gw. Gw kenal karena JK ini dahulu sebelum ngetop jadi Ustadz, profesinya sebagai Model dan Bintang Sinetron. Dahulu kala hidupnya gawat. Mabok-mabokan, free seks, dan menjadi pengguna narkoba.

Sampai suatu saat, doi sekarat dan mendapat hidayah buat kembali ke jalan yang benar. JK kemudian berubah jadi Ustadz. Awalnya mungkin nggak ada dalam benaknya mengkomersilkan diri. Tausyiahnya semata-mata buat Allah. Eh, lama kelamaan, matanya hijau juga ngeliat tarif. Apalagi doi udah menggabdikan diri melakukan syiar, sementara kebutuhan rumah tangga nggak bisa ditawar-tawar. Mana ada Manusia yang mau kelaparan? Nah, doi akhirnya memanfaatkan Ustadz buat mencari duit gila-gilaan dengan memasang tarif. Dua tahun lalu tarifnya mencapai 15 juta,” kata Ustadz YM. “Kalo sekarang ada yang ngundang dengan tarif 5 juta pun dikejar. Maklum, persaingan Ustadz gila-gilaan. Kalo sok pasang tarif tinggi, Ustadz itu bisa nggak makan.”

Ustadz YM sebenarnya menyayangkan temannya (maksudnya Ustadz JK) itu pasang tarif. Banyak cerita-cerita miring soal Ustadz JK ini. Salah satunya dari sebuah Institusi yang ingin mengundang doi. Oleh Management Ustadz JK, Institusi itu diwajibkan menyetor dana senilai 20 juta cash via transfer. Padahal waktu tausyiah Ustadz JK masih 3 bulan lagi.

“Nggak bisa DP dulu, Pak,” kata salah seorang Panitia dari Institusi tersebut, sebagaimana diceritakan oleh Ustadz YM.

“Nggak bisa!” Galak banget jawaban Mas-Mas dari Management Ustadz JK itu. “Ustadz JK itu schedule-nya penuh. Dia mau menyempatkan diri hadir di tausyiah Anda, eh kok Anda menawar gitu?”
Mas-Mas Management semakin marah ketika Panitia memutuskan mengganti Ustadz JK dengan Ustadz lain. “Anda udah berjanji buat mengundang Ustadz JK. Anda harus teransfer sekarang juga!” Idiiiiih, kok maksa gitu ya? Ya gitu deh kalo Ustadz udah berubah jadi Ustadz Kapitalis.

“Nggak heran kalo dengan jadi Ustadz cari uang jadi mudah,” cerita Ustadz YM lagi. “Tinggal bilang banyak-banyaklah bershodaqah atau amal jariah, Jamaah yang kaya raya itu pasti bakal ngasih duit.”
Percaya nggak, ada Ustadz yang dikasih mobil Jaguar, even Celica sama Jamaah-nya. Hah?! Sumpeh loe?! Iya, bener! Ustadz ini cari duit gampang banget. Saking mudahnya, cari 100 juta udah kayak cari 10 ribu perak. Hanya dengan tempo 1 tahun, Ustadz berinisial KK ini berhasil memiliki duit senilai 1,5 miliar.

Memang sih terlalu kecil buat ukuran Pengusaha. Tapi buat Ustadz KK, ini jadi sebuah prestasi yang gemilang nan jaya. Sayang, semua sumbangan dimasukkan ke dalam rekening pribadi, bukan buat kesejahteraan Ummat. Memang sih, doi dapat jatah dari sumbangan itu, karena gara-gara doi, Jamaah mau bershadaqoh atau menyumbang. Tapi masa 50% duit buat pribadi? Bukan 2,5% atau kurang dari angka itu?

Bahkan Ustadz KK berhasil menipu salah satu pemilik stasiun televisi swasta nasional. Kata Ustadz YM, awal tipu menipu itu gara-gara Ustadz KK berhasil menjual diri. Ustadz KK bilang, Ummatnya banyak, jadi rugi kalo nggak menggontrak dirinya. Walhasil, Bos televisi swasta setuju. You know nilai kontrak si Ustadz KK itu, Bro? 2,5 miliar per tahun. Masa kontrak yang diminta di Ustadz lima tahun. Artinya, dalam lima tahun Ustadz itu berhasil mengantongi duit senilai 12,5 miliar. Wow?!

“Gara-gara rating si Ustadz jeblok, maka kontraknya cuma bertahan setahun,” jelas Ustadz YM. “Tapi lumayan kan setahun dapat 2,5 miliar?”

Kini, Ustadz-Ustadz Kapitalis masih merajelela. Sebenarnya, Ustadz kayak gini memang nggak bisa dipersalahkan 100%. Keadaan yang membentuk diri si Ustadz jadi Kapitalis. Persaingan antar stasiun televisi, kebutuhan rumah tangga yang gila-gilaan (apalagi kalo si Ustadz menganut aliran poligami), dan kita sendiri yang memberikan penghargaan terlalu “berlebihan” pada Ustadz (baca: mengkultuskan). Nggak ketinggalan pula, negara ini pun juga udah mengarah ke Negara Kapitalis. So, jangan salahkan kalo Ustadz-Ustadz berubah wujudnya. Sekali lagi, Ustadz juga Manusia bukan?

- Ustadz minta DP.

Komentar ust. Fulan: “Ummat: “Ustadz Ganteng, mohon maaf, berapa ya kami perlu ganti untuk transportasi?”Ustadz Ganteng: “Untuk administrasi aja ya, sediakan aja 30 juta, 10 juta dibayar di depan ke account saya. Oya, kalo nggak jadi DP nya angus ya..”

Percaya atau nggak percaya, fakta semacam ini ada. Begitulah suatu hari, ketua DKM salah satu masjid bilang ke saya. Saya jadi mikir “pantes aja mobil si Ustadz Ganteng Fortuner dll” hehe..

Saya pribadi juga seringkali ditanya, “Ustadz, maaf nih, administrasinya berapa yang harus kita siapkan?”Jawab saya “Saya nggak pernah minta bayaran untuk dakwah, berapapun yang panitia kasih akan saya terima, kalo nggak ada pun nggak papa, asal transportasi dan akomodasi ditanggung panitia”
Parahnya masa kini, banyak orang yang udah nggak malu menjadikan Ustadz dan Da’i sebagai profesi. Pekerjaan profesional. Karena itu layaknya seorang pembicara publik, mereka mematok tarif sekali pengajian. Kalo udah masuk TV apalagi, matoknya diatas 10 juta. Subhanallah.”

- Awas, Banyak Ustadz ‘Gadungan’ di Televisi.
Majelis Ulama Indonesia melihat banyak ulama yang tidak berkompeten dan berintegrasi tampil menjadi penceramah agama di televisi. “Harunysa kualitas dan validitas serta keteladanan juru dakwah diperhitungkan,” kata Wakil Ketua Tim Pemantau TV Ramadan 1431 H dari Majelis Ulama Indonesia (MUI), Imam Suhardjo di Kantor Kementerian Komunikasi dan Informatika, Senin, 6 Agustus 2012.

- Adzan Disisipi Iklan dan Ustadz Melawak.

Banyak tayangan TV yang nggak ada gunanya, yang ditampilkan cuma ketawa ketiwi badut-badut TV tersebut. Bahkan tayangan adzan pun disisipi iklan, keterlaluan, serba komersil semua. Ustadz juga malah ikut-ikutan melawak, kacau deh. Berikut hasil pengawasan KPI tentang tayangan-tayangan TV tersebut. KPI menangkap dua fenomena yang berbeda dalam penayangan program Ramadhan di tahun ini. Hal ini diungkapkan dalam pengumuman hasil pantauan tayangan Ramadhan selama dua pekan, Senin (22/8). Fenomena yang pertama adalah adanya iklan dalam adzan dan fenomena ustad yang ikut bergabung dengan berbagai program lawak di televisi ketika sahur.

Berkenaan dengan hal tersebut, KPI sudah berbincang dengan Kementrian Agama dan meminta pertimbangan kepada MUI. “KPI tidak bisa memberikan sanksi terahadap penayangan adzan yang ada iklannya, karena memang tidak ada larangan iklan dalam simbol-simbol keagamaan. Kami hanya mampu menghimbau dan memberikan peringatan untuk segera diganti,” kata ketua KPI Dadang Rahmat Hidayat. Imam Suharjo dari MUI berkata, “Itu akan dapat mencederai peran mereka sebagai pendakwah.

Penampilan ustad sebaiknya biasa saja tidak berlebihan dalam hal pakaian dan make up, dan jangan ikut melawak seperti pelawak dan jangan ikutan nyanyi seperi penyanyi,” ungkapnya.
(Sumber: Republika.co.id )

Ustadz Harus Ganteng?

Komentar al akh Bayu Gawtama : “…Ustadz dan ustadzah ini, karena kegantengannya dan kecantikannya cepat meroket, melesat bak selebritis. Bahkan hampir tidak ada bedanya dengan selebritis, sebab ia pun kerap masuk dalam beragam acara infotainment yang sebelumnya menjadi hegemoni penuh para selebritis kita. Dan lantaran ingin memenuhi selera pasar pula, penampilan sang ustadz dan ustadzah pun dipermak layaknya seorang artis. Pakaiannya jadi trendsetter, banyak para jama’ah yang berupaya mengikuti semua gaya dan penampilannya, dari baju gamis, kacamata, jilbab, sampai sepatu.

Ustadz dan ustadzah pun jadi bintang iklan, cenderung dimanfaatkan oleh orang-orang yang mencari keuntungan dari popularitas keustadzannya. Mereka pikir, ustadz dan ustadzah kan punya pengikut, jama’ah, atau bahkan fans, jadi yang diincar itu bukan ustadznya, tapi yang berada di belakang ustadz itu. Kemudian, makin terkenallah ustadz dan ustadzah ini, diundang ceramah ke berbagai daerah dan kota seluruh Indonesia, sampai ke luar negeri. Kehadirannya disambut meriah, pakai tepuk tangan agar tambah ramai. Ustadz dielu-elukan, dan orang-orang pun berebut menyentuh tangannya untuk diciumi. Tidak peduli ustadznya masih muda, sedangkan yang mencium tangan muda itu adalah lelaki tua yang jalannya sudah membungkuk.

Permintaan ceramah pun semakin banyak, sehingga ustadz bisa memilih mana bayaran yang paling besar jika terdapat jadwal yang bentrok. Bahkan pada saatnya, sang ustadz melalui manajernya boleh mengajukan tarif tertentu kepada panitia penyelenggara atau tidak jadi sama sekali. Maklum, permintaan tinggi, harga juga bisa ditinggikan. Gigit jarilah para pengurus masjid di kampung-kampung, di desa-desa, dan di berbagai pelosok negeri yang nyata-nyata tidak sanggup menyediakan uang transpor dan akomodasi yang memadai saat harus mengundang ustadz kondang ini berceramah di masjidnya. Sebab, kelas ustadz ini memang bukan lagi di masjid-masjid kecil, di kampung-kampung becek, melainkan di masjid besar, dan hotel.

Coba hitung, selain tarif yang mahal, masih harus menyediakan tiket pesawat, akomodasi yang layak sekelas selebritis. Ujung-ujungnya, ustadz kampung lagi yang dipakai, selain bayarannya murah, tidak perlu tiket pesawat, hotel, dan bisa dijemput pakai motor. Meskipun seringkali yang disebut ustadz ‘kampung’ ini kualitasnya boleh jadi lebih bagus dari ustadz kondang dari kota. Baik kualitas materinya, juga integritas kepribadiannya. Sayangnya, jama’ah kita sudah silau oleh ketenaran sang ustadz kota.
(Sumber: http://kotasantri.com/pelangi/refleksi/2012/08/05/ustadz-harus-ganteng)

- Komentar al akh Jauhar Ridhoni Marzuq ( Mahasiswa Al Azhar Mesir & Kru QommunityRadio Kairo ):
“…Yang membuat saya resah adalah munculnya dai-dai selebritis yang jauh dari kualitas keulamaan. Bukan hanya kualitas keilmuan agamanya yang di bawah standar pas-pasan, tapi juga karena komersialisasi dakwah dan perangai buruk yang diperagakan. Sehingga hal itu bukan mendukung misi dakwahnya, tapi justru menghancurkan nilai-nilai Islam yang didakwahkan. Kondisi semacam ini tentu sangat berbahaya, karena bisa melahirkan sikap apatis bahkan kebencian terhadap agama.

Saya tak habis pikir bagaimana bisa seorang dai, ulama, ustadz, kiyai, atau apapun itu namanya, memasang tarif puluhan juta rupiah untuk setiap kali memberikan ceramah?! Jika bayaran yang diberikan kurang dari harga yang dipatok, sang dai tak mau memberikan ceramah. Belum lagi, dai tersebut juga seperti selebritis yang memiliki manajer, sehingga konsultasi keagamaan dan lain sebagainya harus melalui manajer tersebut. Dengan demikian, ikatan antara dai dengan umat seperti ikatan bisnisman dengan pelanggannya, bukan seperti ikatan antara orang tua dan anak, guru dan murid, atau bahkan antara Nabi Muhammad dan para sahabat.

Dakwah kemudian bukan menjadi kewajiban atau amanah yang harus dijalankan dengan keikhlasan, tapi justru dijadikan alat untuk mendulang uang. Karunia Allah yang menjadikan mereka diterima masyarakat justru dimanfaatkan untuk mendulang popularitas. Mereka pun kemudian jadi artis dadakan.
Saat muncul di infotainment, bukan nilai-nilai agama atau pengalaman mereka belajar agama yang menjadi topik wawancara, melainkan tentang rumah baru, mobil baru, koleksi sepatu baru, sampai motor besar seharga ratusan juta rupiah.

Bahkan kehidupan pribadi mereka pun diekspos seluas-luasnya. Lebih memprihatinkan lagi, sang dai tak malu-malu menonton bisokop berduaan dengan wanita yang bukan mahramnya di tengah sorotan kamera. Tentu tak ada salahnya jika seorang dai mempunyai banyak harta dan kaya raya, selama kekayaan itu tidak didapatkan dengan cara-cara yang haram, seperti korupsi, menipu mencuri, dan lain sebagainya. Kekayaan itu justru bisa dijadikan penunjang aktifitas dakwah, seperti yang dilakukan oleh Ibunda Khadijah Ra, Abu Bakar al-Shiddiq Ra, dan Utsman bin Affan Ra.. Tapi secara akal sehat yang paling dangkal pun, sungguh tidak layak bagi seorang dai atau ustadz yang mengajarkan nilai-nilai luruh agama untuk pamer harta, bahkan pamer kemesraan seperti layaknya artis sinetron di layar infotainment…”

Sebuah surat terbuka terpajang di dunia maya Oktober tahun lalu. Pesan itu ditujukan kepada Ustaz Solmed.
Isinya lebih tepat disebut sebagai curhat mengkritisi kedekatan sang ustaz dengan seorang penyanyi, beberapa bulan sebelum ia menikah.

“… melalui surat terbuka ini, saya bukannya ingin menasihati Bapak. Toh, saya juga jauh dari kepahaman terhadap ilmu agama. Saya hanya ingin menyampaikan kegundahan hati seorang umat bahwa sebagai dari apa yang Bapak lakukan menjadi contoh dan teladan bagi umat.”

“Jika memang sedang dekat dengan seorang wanita, janganlah mengklaim itu sebagai taaruf. Kasihan muda-mudi kita, Pak, bila kini mereka lebih merasa aman berdua-duaan dengan lawan jenis lantaran menganggap itulah proses taaruf seperti yang Pak Ustaz contohkan…”

Tak cuma itu contoh yang tersaji di dunia maya. Ustaz Ahmad Sarwat pada periode yang hampir bersamaan juga pernah menceritakan perihal bayaran yang diberikan kepada ustaz seleb, sebutan bagi penceramah yang berlagak seperti selebritas di televisi.

Ia tak menyebut nama. Namun, ia menulis pihak panitia Ramadhan terpaksa membatalkan rencana memanggil Ustaz X karena tarif yang dibanderol Rp 30 juta untuk ceramah 15 menit.

Banderol tinggi untuk memanggil ustaz, ustazah, serta artis religi juga dibenarkan oleh salah satu manajemen. Dalam perbincangan kepada Republika via Blackberry Messenger (BBM), ia mengungkapkan, tarif untuk ustaz, seperti Solmed atau Ustaz Ahmad al-Habsyi, itu berkisar Rp 17 juta.
Tanya Jawa Soal Honor Utadz Selebritis Bertarif Tinggi

Pertanyaan:
Assalamu’alaikum. Apakah da’i-da’i ataupun ustadz-ustadz yang memasang tarif tertentu untuk dakwah dianggap menjual ayat-ayat Allah -Subhanahu wa ta’ala-?

Jawaban:
Tidak diragukan lagi bahwa berdakwah kepada Allah -Subhanahu wa ta’ala- adalah termasuk amal yang paling mulia, yang paling agung pahalanya di sisi Allah -Subhanahu wa ta’ala-. Terutama jika pelakunya tidak mengambil balasan karenanya karena mencontoh para Nabi -Shalallahu alaihi wa salam-. Allah -Subhanahu wa ta’ala- telah mengabarkan kepada kita tentang perkataan di antara mereka:

وَيَا قَوْمِ لا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مَالا إِنْ أَجْرِيَ إِلا عَلَى اللَّهِ
“Dan (Dia berkata): “Hai kaumku, Aku tiada meminta harta benda kepada kamu (sebagai upah) bagi seruanku, upahku hanyalah dari Allah” (QS. Huud: 29)

يَا قَوْمِ لا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا إِنْ أَجْرِيَ إِلا عَلَى الَّذِي فَطَرَنِي أَفَلا تَعْقِلُونَ
“Hai kaumku, Aku tidak meminta upah kepadamu bagi seruanku ini. Upahku tidak lain hanyalah dari Allah yang telah menciptakanku. Maka tidakkah kamu memikirkan(nya)?” (QS. Huud: 51)

وَمَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ إِنْ أَجْرِيَ إِلا عَلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ (١٠٩)
“Dan Aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan-ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam.” (QS. Asy-Syu’ara`: 109)

Akan tetapi jika da’i tersebut benar-benar mencurahkan waktu dan tenaganya untuk dakwah, maka tidak mengapa dia mengambil upah darinya. Dan memungkinkan baginya untuk menentukan imbalan atas jasanya yang zhahir, seperti pembelian kitab, menyiapkan makalah, transportasi, akomodasi dan lain-lain, atau orang lain yang menentukan imbalannya. Yang demikian ini berdasarkan riwayat al-Bukhari dan lainnya, bahwa ada sekelompok dari sahabat Rasulullah r yang turun ke sebuah perkampungan dari perkampungan badui.

Kemudian kepala kampung tersebut terpatuk ular, maka salah seorang sahabat membacakan atasnya al-Quran yang mulia, dan Allahpun menyembuhkannya. Kemudian mereka mengambil upah atas hal tersebut.

Kemudian mereka mengabarkan kejadian ini kepada Rasulullah r, maka beliau bersabda kepada mereka:
« إِنَّ أَحَقَّ مَا أَخَذْتُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا كِتَابُ اللَّهِ »
“Sesungguhnya pahala yang paling berhak kalian ambil atasnya adalah Kitabullah.” (HR. Bukhari: 5296)

Sesungguhnya seorang da’i dan thalibul ilmi, jika diantara keduanya mengambil uang transport menuju daerah yang dia berdakwah di dalamnya, maka ia tidak tergolong mengambil upah karena dakwah atau mengajar, akan tetapi itu hanyalah bagian dari saling tolong menolong dalam kebaikan dan ketaatan. Dan Allah -Subhanahu wa ta’ala- telah memerintahkan untuk saling menolong di atasnya. Allah -Subhanahu wa ta’ala- berfirman:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلا تَعَاوَنُوا عَلَى الإثْمِ وَالْعُدْوَانِ
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” (QS. Al-Maidah: 2)

Dan tidak boleh seorang da’i memberikan syarat upah yang besar di atas kemampuan panitia sebagai balasan dari muhadharah atau ceramahnya, terutama jika dia memiliki gaji bulanan yang aman baginya untuk hidup mulia. Aku nasihatkan untuk tidak mahal di dalam mengambil upah, dan ambillah yang masuk akal, sekalipun yang utama adalah sukarela, jika dia mampu. Wallahu a’lam. (AR)*

Allah SUbhanahu wa Ta’ala berfirman,
وَلَا تَشْتَرُوا بِآيَاتِي ثَمَنًا قَلِيلًا
Dan janganlah kamu menukarkan ayat-ayat-Ku dengan harga yang rendah. (QS al-Baqarah [2]: 41)
Rasulullah bersabda, ‘Bacalah Alquran dan niatkanlah hanya untuk Allah, sebelum datang sekelompok orang yang membaca Alquran lalu dia jadikan Alquran sebagai alat untuk meminta-minta harta.’ (H.R. Ahmad, dan lain-lain; sahih, sebagaimana dalam Shahih Al-Jami Ash-Shaghir, no. 1169)

Al-Minawi, dalam Faydh al-Qadîr, mengatakan, “Bencana bagi umatku (datang) dari ulama sû’, yaitu ulama yang dengan ilmunya bertujuan mencari kenikmatan dunia, meraih gengsi dan kedudukan. Setiap orang dari mereka adalah tawanan setan. Ia telah dibinasakan oleh hawa nafsunya dan dikuasai oleh kesengsaraannya. Siapa saja yang kondisinya demikian, maka bahayanya terhadap umat datang dari beberapa sisi. Dari sisi umat; mereka mengikuti ucapan-ucapan dan perbuatan-perbuatannya. Ia memperindah penguasa yang menzalimi manusia dan gampang mengeluarkan fatwa untuk penguasa. Pena dan lisannya mengeluarkan kebohongan dan kedustaan. Karena sombong, ia mengatakan sesuatu yang tidak ia ketahui.” [Al-Minawi, Faydh al-Qadîr, VI/369.]

Di antara Ustaz-Ustaz yang tidak mematok tarif besar dan cukup koperatif adalah Ustadz KH. Arifin Ilham. Selama waktunya tidak bentrok dengan schedule lain, Ustaz Arifin akan bersedia melayani undangan siapa saja. Terakhir, di program Ramadhan di salah satu televisi swasta yang berdurasi 30 menit, ia menerima honor Rp 700 ribu. Tentu honor ini berbeda jika beliau mengisi ceramah off air. Namun setidaknya, selama ini ia tidak pernah tawar-menawar honor, meski sebetulnya termasuk kategori Ustaz rating.

Demikianlah informasi yang dapat kami sampaikan. Semoga bermanfaat dan Beguna Hendaknya Buat anda semua pengunjung Blog Ini. dan Terima kasih kepada Sobat Semua yang telah membaca artikel ini.


sumber: http://info-kita.net

Selasa, 07 Mei 2013

Puisi Kesukaan UJE Tentang Kerinduannya pada Rasulullah SAW

Siapakah engkau ya Muhammad SAW...
Begitu dahsyatnya engkau berada direlung hati kami...
... Seluruh para penghuni alam ini membicarakan engkau...
Jika bukan karena engkau yaa Muhammad SAW...
Semua kami tidak akan pernah mengenal Rabb kami...

Duhai ALLAH...
Maukah Engkau menghadirkan Beliau dalam mimpi kami?...
Memandang kesejukan wajahnya dalam pelukan hati...
Mendengar kemerduan suaranya memanggil Engkau...
Sebentar saja Yaa ALLAH...

Duhai ALLAH...
Semoga Engkau bangkitkan kami dalam barisan...
Yang sama bersama Rasul kami...

Yaa Habibi Yaa Rasululloh...

Dari yang merindukanmu...

Senin, 06 Mei 2013

Pohon Dikeramatkan, Ditebang Oleh Umar bin Khattab

4 Pesan Ustadz Jefri Al Buchori Sebelum Wafat

Beberapa media on-line memberitakan bahwa pohon bekas tabrakan ustadz Jefri rahimahullah ditaburi bunga. Dan beberapa sumber menyebutkan bahwa sebagian  kecil warga mulai menganggap keramat pohon tersebut. Sumber lain menyebutkan bahwa bunga ditaburkan dipohon tersebut untuk mendoakan beliau. Benarkah cara mendoakan seperti itu?

Yang menjadi potensi kesyirikan disingkirkan

Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhu memerintahkan agar pohon di mana dilakukan bai’atur ridwan agar di tebang. Padahal bisa jadi orang beralasan itu adalah situs sejarah Islam yang perlu dilestarikan. Akan tetapi untuk mencegah terjadinya kesyirikan dan anggapan keramat suatu tempat maka beliau memerintahkan agar pohon tersebut ditebang.

Ibnu Waddhah berkata,

سمعت عيسى بن يونس يقول : أمر عمر بن الخطاب ـ رضي الله عنه بقطع الشجرة التي بويع تحتها النبي صلى الله عليه وسلم فقطعها لأن الناس كانوا يذهبون فيصلون تحتها ، فخاف عليهم الفتنة .

“Aku mendengar Isa bin Yunus mengatakan , “Umar bin Al-Khaththab radhiallahu ‘anhu memerintahkan agar menebang pohon yang Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam menerima baiat (Bai’atur ridhwan) kesetiaan di bawahnya (dikenal dengan pohon Syajaratur ridhwan). Ia menebangnya karena banyak manusia yang pergi ke sana dan shalat di bawahnya, lalu hal itu membuatnya khawatir akan terjadi fitnah (kesyirikan) terhadap mereka.”

Jika pohon yang merupakan situs sejarah Islam saja ditebang karena kahwatir jadi potensi kesyirikan, maka bagaimana dengan pohon bekas tabrakan? Semoga tidak terjadi yang kita khawatirkan.

Syaikh Muhammad bin shalih Al-‘Utasimin rahimahullah berkata,

ولا أحد يُتبرك بآثاره إلا محمد صلى الله عليه وسلم ، أما غيره فلا يتبرك بآثاره ، فالنبي صلى الله عليه وسلم يتبرك بآثاره في حياته ، وكذلك بعد مماته إذا بقيت تلك الآثار

“tidak ada seorangpun (baik orang, benda maupun tempat, pent)  yang boleh untuk tabarruk (ngalap berkah) kecuali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, adapun yang lain maka tidak boleh. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam boleh untuk tabarruk (ngalap berkah) dengan atsarnya (misalnya air liur, rambut dan lain-lain) ketika hidup, demikian juga setelah beliau wafat jika masih ada atsar tersebut (adapun meminta-minta di kubur beliau, maka ada dalil yang melarang, pent).”



Kisah pohon dzatu Anwath

Begitu juga dengan kisah pohon dzatu anwath, yaitu pohon milik orang musyrik di mana mereka menggantungkan senjata-senjata mereka di pohon tersebut karena dianggap keramat. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang hal semacam ini.

Dari Abu Waqid al-Laitsi radhiallahu’anhu, dia berkata,

عَنْ أَبِى وَاقِدٍ اللَّيْثِىِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لَمَّا خَرَجَ إِلَى خَيْبَرَ مَرَّ بِشَجَرَةٍ لِلْمُشْرِكِينَ يُقَالُ لَهَا ذَاتُ أَنْوَاطٍ يُعَلِّقُونَ عَلَيْهَا أَسْلِحَتَهُمْ فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ اجْعَلْ لَنَا ذَاتَ أَنْوَاطٍ كَمَا لَهُمْ ذَاتُ أَنْوَاطٍ. فَقَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « سُبْحَانَ اللَّهِ هَذَا كَمَا قَالَ قَوْمُ مُوسَى (اجْعَلْ لَنَا إِلَهًا كَمَا لَهُمْ آلِهَةٌ) وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لَتَرْكَبُنَّ سُنَّةَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ »

“Dahulu kami berangkat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar menuju Khoibar. Lalu, beliau melewati pohon orang musyrik yang dinamakan Dzatu Anwath. Mereka menggantungkan senjata mereka. Lalu mereka berkata, “Wahai Rasulullah! Buatkanlah untuk kami Dzatu Anwath (tempat menggantungkan senjata) sebagaimana mereka memiliki Dzatu Anwath.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Subhanallah! Sebagaimana yang dikatakan oleh kaum Musa: Jadikanlah untuk kami sesembahan sebagaimana mereka memiliki sesembahan-sesembahan.” (QS. Al A’raaf: 138). Kalian benar-benar akan mengikuti kebiasaan-kebiasaan orang-orang sebelum kalian.”

Salah faidah dari hadits di atas,

بيان أن التبرك بالأشجار والأحجار ، والعكوف عليها ، والتعلق بها ، من الشرك الذي وقع في هذه الأمة ، وأن من وقع فيه فهو تابع لطريق اليهود والنصارى ، تارك لطريق النبي ، صلى الله عليه وسلم .

“Penjelasan bahwa tabarruk (ngalap berkah) dengan pohon dan batu, beri’tikaf di situ dan menggantungkan hati padanya merupakan kesyirikan yang terjadi pada umat ini. Dan mereka yang terjerumus dalam hal ini, maka mereka mengikuti jalannya Yahudi dan Nashrani, mereka meninggalkan jalan/petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.”


sumber: http://muslimina.blogspot.com

Bukti Bahwa Sang Buddha Adalah Seorang Nabi Umat Islam


Alhamdulillah, ternyata Sidharta Buddha Gautama adalah seorang muslim, mari kita telaah bukti-buktinya:

1. Menurut Abu’l Kalam Azad (seorang Urdu scholar), Sang Buddha (Buddha Shakyamuni) yang dikenal sebagai guru suci bagi umat Buddha tidak lain adalah Nabi Zulkifli as, yg dalam Al-Quran disebut sebagai Nabi yg mempunyai tingkat kesabaran yang tinggi, dan sangat baik. Dalam bahasa Arab Zulkifli sendiri berarti “orang yg berasal dari Kifl”. Sedangkan Kifl itu sendiri, masih menurut Kalam Azad, merupakan nama Arab untuk Kapila (singkatan dari Kapilavastu).

2. Buddha Maitreya yang dikenal dalam agama Buddha sebagai “Buddha yang akan datang” menurut beberapa analisa tidak lain adalah Nabi Muhammad saw. Dalam kitab Chakkavatti Sinhnad Suttanta D. III, 76 bisa ditemui: “There will arise in the world a Buddha named Maitreya (the benevolent one) a holy one, a supreme one, an enlightened one, endowed with wisdom in conduct, auspicious, knowing the universe“.

SIAPAKAH NABI ZULKIFLI?
Zulkifli bermaksud sanggup menjalankan amanah raja. Menurut cerita, raja di negeri itu sudah lanjut usia dan ingin mengundurkan diri daripada menjadi pemerintah, tetapi beliau tidak mempunyai anak.

Justeru, raja itu berkata di khalayak ramai:”Wahai rakyatku! Siapakah antara kamu yang sanggup berpuasa pada waktu siang dan beribadah pada waktu malam. Selain itu, sentiasa bersabar ketika menghadapi urusan, maka akan aku serahkan kerajaan ini kepadanya.”

Tiada seorang pun menyahut tawaran raja itu. Sekali lagi raja berkata:”Siapakah antara kamu yang sanggup berpuasa pada waktu siang dan beribadah pada malamnya serta sanggup bersabar?”

Sejurus itu, Basyar dengan suara yang lantang menyatakan kesanggupannya. Dengan keberanian dan kesanggupan Basyar melaksanakan amanah itu beliau diberi gelaran Zulkifli.

Baginda juga adalah nabi yang cukup sabar seperti firman Allah, bermaksud:
“Ismail, Idris dan Zulkifli adalah orang yang sabar dan Kami beri rahmat kepada semua karena mereka orang yang suka bersabar.”

SIAPAKAH SIDDHARTHA GAUTAMA?
Pada akhir abad ketujuh S.M. (tahun 623 S.M.), lahirlah seorang yang bernama Siddhartha Gautama di bandar Kapilavastu/Kapilavathu (Kapil, lidah Arab menyebut Kafil @ Kafli). Siddhartha Gautama merupakan putera kepada Raja Suddhodana dan Permaisuri Maha Maya. Raja Suddhodana dari keturunan suku kaum Sakyas, dari keluarga kesastrian dan memerintah Sakyas berdekatan negeri Nepal. Manakala Permaisuri Maha Maya pula adalah puteri kepada Raja Anjana yang memerintah kaum Koliya di bandar Devadaha.

Sebelum kelahiran Buddha: Permaisuri bermimpi dibawa oleh 4 orang dewa ke sebuah gunung yang tinggi. Kemudian, permaisuri melihat seekor gajah putih yang cantik. Pada belalai gajah itu terdapat sekuntum bunga teratai. Gajah mengelilinginya 3 kali sebelum masuk ke dalam perut permaisuri.

MAKSUD ISTILAH BUDDHA
Dalam agama Buddha, perkataan Buddha bermaksud ‘seorang yang bijaksana’ atau ‘dia yang mendapat petunjuk’. Kadang kala istilah ini digunakan dengan maksud ‘nabi’. Gautama Buddha pernah menceritakan kedatangan seorang Antim Buddha. Perkataan Antim bermaksud ‘yang terakhir’ dan Antim Buddha bermaksud ‘nabi yang terakhir’ (Antim terakhir yang dimaksudkan ialah Muhammad SAW sebagai Nabi dan Rasul terakhir). Pada saat kematian Gautama Buddha, beliau memberitahu perkara ini kepada pengikut setianya bernama Ananda.

Makna “Nabi” dalam bahasa Arab (berasal dari kata naba yang berarti “dari tempat yang tinggi”; karena itu orang ‘yang di tempat tinggi’ dapat melihat tempat yang jauh). Nabi dalam bahasa Arab sinonim dengan kata Buddha sebagaimana yang difahami oleh para penganut Buddha. Sinonimnya pengertian ini dapat diringkaskan sebagai “Seorang yang diberi petunjuk oleh Tuhan sehingga mendapat kebijaksanaan yang tinggi menggunung”.

RINGKASAN KISAH SIDDARTHA GAUTAMA
Kelahiran Bodhisatta (Bodhisattva, bakal Buddha atau bakal mencapai Pencerahan) pada tanggal 623 S.M. pada bulan purnama Vesak. Selepas sahaja Bodhisatta dilahirkan, Permaisuri Maha Maya mangkat selepas tujuh hari melahirkan anak.

Pada hari kelahiran Bodhisatta telah disadari secara ghaib oleh seorang tua yang sedang bertapa di kaki gunung Himalaya yang digelar Asita Bijaksana (nama asalnya Kala Devala). Asita bergegas ke istana pada keesokannya untuk melihat dan menilik putera Raja Suddhodana.

Asita mendapati terdapat 32 tanda utama dan 80 tanda kecil menunjukkan Bodhisatta bakal menjadi Manusia Agung dan Guru Agung kepada manusia dan dewa-dewa (i.e. Jin dan Malaikat, kelemahan umat Hindu dan Buddha ialah tidak dapat bedakan antara Jin dan Malaikat yang keduanya dipanggil DEWA-DEWA).

Asita
menangis karena sedih tidak sempat mendengar ucapan dan pengajaran Buddha di masa akan datang, beliau kemudian berlutut tunduk hormat kepada bayi Bodhisatta.

Kenyataan terakhir Asita ialah Bodhisatta hanya akan menjadi salah satu dari dua yaitu sekiranya ia kekal membesar dalam istana dia akan menjadi Maharaja Agung manakala kalau dia berjaya lari dari istana maka dia akan menjadi Mahaguru Agung.

Upacara menamakan putera raja diadakan pada hari kelima selepas Boddhisatta dilahirkan. Pada akhir majlis itu, 108 orang bijaksana memutuskan nama yang sesuai untuk putera raja iaitu SIDDHARTHA GAUTAMA yang membawa maksud ‘Cita-Cita Terkabul’.

Siddhartha kemudian membesar di istana dan belajar kepada seorang guru istana bernama Sirva Mitra. Beliau menjadi pelajar yang luar biasa pintar dan mahir dengan ilmu ketenteraan. Yang menjadi keheranan kepada orang disekeliling dan gurunya ialah sifat Siddharta yang sensitif terhadap penganiayaan hingga tidak ada seorang pun yang beliau lihat menganiaya binatang kecuali mencegahnya serta merta.

Malah beliau sangat bersedih melihat para petani berkerja keras membajak tanah dibawah terik matahari menyebabkannya lari ketempat lain ke sebuah pohon (Tiin-Bodhi) dan duduk di sana secara bertafakur (samadhi) untuk membuang stress.

PERSAMAAN NABI ZULKIFLI DENGAN SIDDARTHA GAUTAMA
Maka berbalik kepada maudhu’ perbahasan, benarkah Buddha itu disebut dalam Al-Qur’an? Sebenarnya tidak ada kata-kata “Buddha” dalam Al-Qur’an, namun menurut Dr. Alexander Berzin bahawa terdapat catatan para sejarawan dan peneliti yang mengaitkan beberapa ayat Al-Qur’an dengan Sang Buddha, yaitu pada maksud ayat;

“Demi (buah) Tin (fig) dan (buah) Zaitun, dan demi bukit Sinai, dan demi kota (Mekah) ini yang aman, sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka), kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya. Maka apakah yang menyebabkan kamu mendustakan (hari) pembalasan sesudah (adanya keterangan-keterangan) itu? Bukankah Allah Hakim yang seadil-adilnya?”(At-Tin 95 : 1)

Beliau menjelaskan bahwa buah Zaitun melambangkan Jerusalem, Isa a.s. (Jesus, Kristian). Bukit Sinai melambangkan Musa a.s. dan Yahudi. Kota Mekah pula menunjukkan Islam dan Muhammad SAW. Manakala pohon Tin (fig) pula melambangkan apa?

Tin (fig) = Pohon Bodhi

Pohon Bodhi adalah tempat Buddha mencapai Pencerahan Sempurna. Al-Qasimi di dalam tafsirnya berpendapat bahawa sumpah Allah SWT dengan buah tin yang dimaksud ialah pohon Bodhi. Prof. Hamidullah juga berpendapat sama dengan al-Qasimi bahawa perumpamaan pohon (buah) tin (fig) di dalam Al-Qur’an ini menunjukkan Buddha itu sendiri, maka dari sinilah mengapa sebahagian ilmuan Islam meyakini bahawa Buddha telah diakui sebagai nabi di dalam agama Islam.

Manakala Hamid Abdul Qadir, seorang sejarawan abad ke-20 mengatakan dalam bukunya Buddha Yang Agung: Riwayat dan Ajarannya (Arab: Budha al-Akbar Hayatuh wa Falsaftuh), menjelaskan bahawa Buddha adalah nabi Dhul-Kifl, yang bererti “ia yang berasal dari Kifl”. Nabi Dhul-Kifl @ Zulkifli disebutkan 2 kali dalam Al-Qur’an:

“Dan (ingatlah kisah) Ismail, Idris dan Dzulkifli (Dhul Kifl). Semua mereka termasuk orang-orang yang sabar.” (Al-Anbiya’ 21: 85).

“Dan ingatlah akan Ismail, Ilyasa, dan Dzulkifli (Dhul Kifl). Semuanya termasuk orang-orang yang paling baik.” (Shad 38 : 48).

KESIMPULAN
“Kifl” adalah terjemahan Arab dari Kapilavastu (Kapil), tempat kelahiran Bodhisattva (Buddha). Hal ini juga yang mungkin menyebabkan Mawlana Abul Azad seorang ahli teologi Muslim abad ke-20 turut menekankan bahawa Dhul-Kifl dalam Al-Qur’an boleh jadi adalah Buddha.

Dalam sejarah Islam, Nabi Zulkifli a.s. adalah antara nabi yang mempunyai cerita yang paling sedikit dibicarakan. Hal ini mungkin menjadi faktor kepada sebahagian ulama’ menyamakan watak Dzul-Kifli dalam Al-Qur’an dengan Buddha yang secara kebetulan banyak persamaan sekiranya disuaikan.

Yang menarik perhatian saya ialah mengenai surah at-tin (the fig). Allah berfirman mengenai pokok/buah tin, pokok/buah zaitun, bukit sinai dan kota mekah. Mekah dikaitkan dgn Nabi Muhammad s.a.w., Bukit Sinai dengan Nabi Musa, zaitun dengan Nabi Isa a.s., dan siapa pula dikaitkan dengan buah atau pokok tin?

Dikatakan dalam sejarah bahawa Gautama Buddha duduk bawah pokok tin. Kalau ikut istilah islam, dia dapat wahyu masa duduk bawah pokok tersebut. Ikut tulisan orang Buddhist, dia dapat ilham masa duduk bawah pokok tersebut.

Bila Allah berfirman :“Wattiini wazaitun. watuurisinina wahazal baladil amin.”
Allah menyebut perihal Nabi-Nabi-Nya. Tiin (Nabi Zulkifli-Buddha), Zaitun (Nabi Isa a.s), Siniina- bukit Sinai (Nabi Musa) dan Baladil amin -Tanah yang aman dan selamat (Mekah)- Nabi Muhammad saw. ia ikut urutan, hebatnya Qur’an sebagai kalimat Tuhan susunan sejarah riwayat Nabi-Nya. Mari kita sama-sama fikirkan. HANYA ALLAH YANG MAHA MENGETAHUI.




sumber: http://muslimina.blogspot.com

Jumat, 03 Mei 2013

Bukti Peninggalan Nabi Daud AS.

Baju dari besi dan perlengkapan perang abad ke-10 SM berhasil ditemukan sejumlah peneliti.


Pada zamannya, Nabi Daud AS telah membuat baju perang dari lempengan besi. Gambar ini adalah contoh baju besi peninggalan tahun 1000 SM.

N
abi Daud Alaihissalam (AS) adalah seorang utusan Allah yang mempunyai kelebihan dibandingkan Rasul lainnya. Kelebihan Daud AS diantaranya bisa berbicara dan paham bahasa hewan, burung dan gunung tunduk pada kehendak Daud (atas izin Allah) dan mereka bertasbih bersama Daud (QS Saba[34] ayat 10).
Selain kemampuan dan kelebihan tersebut, Nabi Daud juga diberikan anugerah oleh Allah berupa kemampuan untuk menundukan besi. (QS Saba[34]: 10-11, Al-Anbiyaa’[21]: 80).
Besi-besi yang keras itu mampu dilunakkan Nabi Daud untuk membuat berbagai alat kebutuhan hidup serta dijadikan perisai (pakaian perang). Sesungguhnya Allah SWT tidak menciptakan sesuatu yang ada di bumi dan alam semesta ini sia-sia, baik yang besar maupun kecil. (QS Ali Imran[3]: 191).
Dalam surah Al-Baqarah[2] ayat 26, Allah ‘menyindir’ orang yang selalu mengira bahwa tidak ada manfaatnya Allah menciptakan sesuatu yang kecil.
“Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalat pun, walau mereka bersatu menciptakannya….”  (QS Al-Hajj[22]: 73)
Ayat-ayat di atas menunjukan bahwa tidak sesuatu pun yang diciptakan Allah itu sia-sia. Semuanya ada manfaatnya. Dari berbagai perumpamaan yang Allah ciptakan itu, justru dapat diketahui apakah manusia itu termasuk orang yang bersyukur atau ingkar terhadap nikmat dan ciptaan Allah SWT.
Demikian pula ketika Allah menciptakan besi. Didalamnya terdapat manfaat yang sangat besar bagi umat manusia. “Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia, (supaya mereka mempergunakan besi itu) dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)-Nya dan rasul-rasul-Nya, padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” (QS Al-Hadid[57]: 25).
Selain dapat digunakan sebagai perisai, besi juga dapat dimanfaatkan untuk membangun rumah, gedung bertingkat, kendaraan transportasi, barang hiasan, dan lain sebagainya.

Penemuan Besi
            Sebagaimana diterangkan dalam AlQuran, Nabi Daud AS adalah seorang nabi yang mempunyai kerajaan. Namun, sebelum Allah menganugerahi sebuah kerajaan padanya, Nabi Daud harus berjuang terlebih dahulu bersama dengan Thalut untuk melawan Jalut, serta berperang melawan pasukan dari negeri lainnya.
Dalam beberapa peperangan itulah Nabi Daud AS diperintahkan untuk memanfaatkan besi sebagai alat untuk berperang, seperti pedang, pisau, tombak, panah, maupun baju perang.
“Dan Kami ajarkan kepada Daud membuat baju besi intuk kamu, guna memelihara kamu dalam peperanganmu; maka hendaklah kamu bersyukur (kepada Allah).” (QS Al-Anbiyaa’[21]:80).
Dalam surah Saba’[34] ayat 11, Daud diperintahkan membuat baju perang yang terbuat dari besi.
Secara tegas, ayat tersebut diatas memberikan contoh cara membuat baju perang dari besi. Kapankah peristiwa itu terjadi, dan seperti apa baju besi yang dibuat oleh Nabi Daud tersebut?
Dalam buku Sami Abdullah al-Maghluts disebutkan, Nabi Daud AS diperkirakan hidup pada tahun 1041-971 SM. Dalam masa itulah Nabi Daud pernah membuat baju dari besi.
Para ahli tafsir, seperti Al-Qurthubi mengungkapkan, kata Labus dalam surah Al-Anbiya ayat 80 dan Saba’ ayat 10-11, bermakna baju-baju besi karena dipakai untuk membentengi atau melindungi diri dari serangan musuh-musuh. Alba’su dalam kalimat tersebut bermakna peperangan setelah dibuang mudlaf: Aalatu ba’sikum.

Pengolah Besi Pertama 
Dalam menafsirkan ayat 10-11 surah Saba’[34] ini, Ibnu Katsir mengutip pendapatnya Hasan Bashri mengatakan, anugrah yang diberikan Allah kepada Nabi Daud salah satunya kemampuan yang luar biasa dalam menipiskan atau memipihkan dan membakarnya untuk menempa besi tersebut. “Daud tidak perlu membakar besi terlebih dulu untuk memipihkannya dengan palu, namun cukup dengan lipatan-lipatan tangannya sebagaimana yang dilakukan para tukang jahit. Karena itu, Allah berfirman, “Buatlah baju besi yang besar-besar.”
Alat perang tahun 1000 SM.

Kemampuan yang dimiliki Nabi Daud dalam melunakkan besi ini berbeda dengan yang dimiliki Dzulqarnain pada abad ke-6 SM (545 SM) – lihat (QS al-Kahfi[18]: 96)

Lebih lanjut Ibnu Katsir menyatakan, Daud merupakan orang yang pertama kali dalam membuat baju besi. Sebelum itu, hanya berupa lempengan tameng, “Dan ukurlah anyamannya,” yakni jangan terlalu melunakkan penyambungan antarlempeng karena akan membuat longgar dan berisik, serta jangan pula terlampau mengencangkan anyamannya karena bisa merekat. Namun, buatlah sesuai dengan ukuran tertentu.

Sami al-Maghluts mengatakan, pada awalnya manusia menggunakan batu yang ditempa untuk melakukan perburuan atau peperangan, baik untuk membuat pedang, panah, atau pisau. Sementara itu, pada masa Nabi Daud AS, lanjut Sami, manusia bisa membuat baju-baju besi yakni berupa lembaran-lembaran, jadi Daud merupakan manusia pertama yang memperkenalkan dan menjalinkan besi menjadi sebuah bentuk baju besi sebagaimana disebutkan dalam surah Saba’[34] ayat 10-11 tersebut.

Situs Pertambangan Nabi Sulaiman?

Sebagaimana diterangkan dalam AlQuran, Nabi Sulaiman Alaihissalam (AS), mewarisi sikap dan akhlak Nabi Daud AS, baik dalam hal kerajaan, kemampuannya dalam bercakap dengan binatang, menaklukkan gunung, menguasai jin, dan lain sebagainya (QS An-Naml[27]:16). Demikian juga dengan besi atau baja.
Baru-baru ini, pada tanggal 28 Oktober 2008 lalu, nationalgeographic.com memberitakan, sekelompok penambang di Yordania bagian selatan menemukan sebuah lokasi penambangan yang diduga berasal dari zaman Nabi Sulaiman AS. Tidak dijelaskan secara resmi lokasi penemuan galian bekas tambang tersebut.

Penggalian yang dilakukan sekelompok penambang di Yordania yang diduga merupakan bekas lokasi tambang di zaman Sulaiman.    

Berbagai jenis barang tambang (emas, perak, tembaga, besi, perunggu, dan lain sebagainya) yang dulu digunakan Sulaiman untuk membangun Haikal Sulaiman (solomon temple) di Jerusalem. Emas, perak dan perunggu dipergunakan untuk memperindah interior kuil.

Sejauh ini, para arkeologi belum menemukan persisnya areal pertambangan di zaman Sulaiman. Beberapa areal tambang yang ditemukan di kawasan Timur Tengah setelah diteliti masih lebih muda usianya dari masa hidup Sulaiman (diperkirakan hidup sekitar abad ke-10 SM / 989-931 SM.). penemuan areal bekas tambang di Yordania ini memberi angin segar kepada para arkeolog dalam meneliti peradaban dan kejayaan Nabi Sulaiman.

Temuan itu semakin diperkuat dengan tes uji karbon terhadap areal tambang tembaga di Yordania itu. Hasil tes menunjukan usia yang sama dengan masa Nabi Sulaiman, kawasan ini berada di perbukitan, di lokasi ini ditemukan bekas-bekas penggalian dan reruntuhan bangunan yang diduga menjadi bagian dari industri pertambangan kuno. Kawasan itu sebenarnya pernah diteliti tahun 1970 tetapi hasil penelitian menunjukan areal tersebut berusia sekitar abad ke-7 SM, sekitar 300 tahun setelah Nabi Sulaiman.

Sebelumnya ada laporan dari nationalgeographic.com pada 27 Oktober 2007, kabarnya sejumlah pekerja muslim menemukan kuil Sulaiman. Di lokasi tersebut para pekerja menemukan berbagai jenis barang keramik, tembikar, yang diduga merupakan peninggalan Sulaiman setelah kehancuran Haikal Sulaiman. Kuil itu terletak di sebelah Masjid Al-Aqsha. Kendati tidak utuh, kuil Sulaiman itu diyakini masih ada berupa tembok ratapan (wailing wall) yang bersebelahan dengan Masjid Kubah Batu (Dome Of the Rock).

Sentra Pengolahan Besi

Damaskus, ibu kota Suriah (Syria) dikenal sebagai salah satu kota pengolahan besi yang sangat hebat. Kualitasnya telah diakui berbagai kalangan. Bahkan pada masa awal keislaman, besi-besi Damaskus dijadikan sebagai alat utama pembuatan senjata seperti pedang, pisau, tombak dan anak panah.

Pada abad 7-8 Masehi, ketika Dinasti Umayyah berkuasa, Damaskus menjadi pusat pembuatan pedang yang terkenal di dunia islam. Begitu pula pada abad ke-9 hingga 12 M. ketika Damaskus dalam kekuasaan Ayyubiyah, kota ini menjadi pusat pembuatan pedang yang sangat kesohor. Selain kuat dan tajam, pedang buatan Damaskus juga sangat berkualitas dengan teksturnya yang indah dan menarik.

Ketika Perang Salib, tentara musuh islam terperangah melawan pasukan muslim, sebab disamping memiliki kuda-kuda yang handal, pedang-pedang tentara islam mampu menembus baju besi musuh dengan sekali tebas. Saat Perang Salib itulah peradaban barat mulai mencari rahasia teknologi tempa baja yang dikuasai dunia islam. Tentara Perang Salib menyebut baja yang hebat dari Damaskus itu dengan sebutan Damascus Steel. Teknologi pengolahan besi dan baja Damaskus mampu menempa dan mengeraskan wootz steel menjadi indah dan lentur.

Seni membuat pedang di era kejayaan islam mendapat perhatian khusus dari peradaban barat. Robert Hoyland dan Brian Gilmore menulis buku bertajuk “Medieval Islamic Swords and Swordmaking.” Buku setebal 216 halaman itu mengupas risalah yang ditulis ulama muslim terkemuka pada abad ke-9 M, Ya’kub Ibnu Ishaq Al-Kindi, tentang ‘Pedang dan Ragam Jenisnya’

Al-Kindi menulis secara lengkap tentang teknologi pembuatan pedang. Ia juga mengklasifikasikan beragam jenis besi dan baja untuk membuat pedang. Menurutnya, pedang itu terbuat dari dua jenis besi, yakni alami (yang ditambang) dan tak alami (buatan). Besi alami terbagi menjadi dua, Shaburqan (besi laki - yang sangat keras yang diolah dalam keadaan panas), serta Narmahin (besi perempuan – adalah besi yang lembek yang tidak dapat diolah dalam kondisi panas).

Pada era kejayaan islam, pedang-pedang yang dibuat pandai besi di dunia islam, besi dan bajanya berasal dari Khurasan, Basrah, Damaskus, Mesir dan Kufah. juga ada yang di import dari Sarandib (kini wilayah Srilangka).

Ilmuwan muslim lainnya yang menguasai teknologi pembuatan pedang adalah Abu Al-Raihan Al-Biruni (973 M – 1048 M). secara khusus ia menulis kitab berjudul, Al-Jamahir fi ma’rifat al-Jawahir. Dalam karyanya itu, Al-Biruni menggambarkan proses karbonisasi besi tempa dan pembuatan baja dari besi tuang.

Prof. Ahmad Al-Hassan dalam tulisannya yang berjudul, The Origin of Damascus Steel in Arabic Sources, mengungkapkan, hampir semua pedang di dunia islam terbuat dari besi Damaskus, dan salah satu cirinya dihiasi dengan pola hias (firind). Menurut Al-Khindi, firind dapat ditemukan dalam semua jenis besi buatan. Sedangkan pedang yang terbuat dari besi alami tak memiliki pola hias atau firind.

Wilayah Nabi dan Rasul Yang Diutus Allah SWT

Allah SWT mengutus lebih dari 124 ribu nabi dan 313 rasul untuk memperbaiki akhlak umat manusia.

R
ukun Iman terdiri dari enam hal. Dan salah satunya adalah percaya atau beriman kepada nabi dan rasul-rasul Allah. “… Barang siapa yang ingkar (kafir) kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, sesungguhnya orang itu telah tersesat sejauh-jauhnya.” (QS. An-Nisaa [4]: 136).

Berapakah jumlah nabi dan rasul-rasul Allah tersebut? Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban didalam shahihnya yang bersumber dari Abu Dzar al-Ghifary berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah SAW, berapakah jumlah para nabi?” Rasul menjawab: “jumlahnya ada 124 ribu orang.” Lalu aku bertanya lagi; “Berapakah jumlah rasul-rasul Allah?” Nabi SAW menjawab, “Jumlahnya ada 313 orang”.

Keterangan yang sama juga terdapat dalam kitab Nur Az-Zalam, karya Syekh Nawawi bin Umar al-Jawi al-Bantani, dan ‘Aqiqah al-Awwam karya Syekh Ahmad Marzuqy. Namun dari sekian banyak nabi dan rasul tersebut, sebanyak 25 orang yang secara jelas disebutkan dalam AlQuran, dan itulah yang wajib diimani oleh umat islam.
Lalu, nama-nama lain yang disebutkan dalam AlQuran dan terbukti banyak berbuat kebajikan, seperti Luqman al-Hakim, Uzair, Dzulqarnayn, apakah mereka juga seorang nabi dan rasul? Tak ada keterangan detail soal ini.

Antara nabi dan rasul ada dua hal yang berbeda. Pendapat umum menyebutkan, kedua gelar tersebut berbeda makna. Rasul bersifat umum dibandingkan dengan nabi. Rasul adalah orang yang diberi wahyu oleh Allah dengan suatu syariat dan diperintahkan untuk menyampaikan kepada kaumnya (umatnya).
Sedangkan nabi, adalah orang yang diwahyukan kepadanya suatu syariat, namun tidak diperintahkan untuk menyampaikannya. Berdasarkan definisi ini, maka setiap rasul adalah nabi, dan sebaliknya, seorang nabi belum tentu diutus menjadi rasul.

Sebagaimana disebutkan sebelumnya, sebanyak 25 nabi dan rasul yang disebutkan dalam AlQuran, diutus di empat wilayah, yaitu di Jazirah Arabia, Irak, Mesir, serta Syam dan Palestina. Yang terbanyak diutus di wilayah Syam dan Palestina, jumlahnya mencapai 12 orang. Mereka adalah Luth, Ishak, Ya’kub, Ayub, Zulkifli, Daud, Sulaiman, Ilyas, Ilyasa, Zakaria, Yahya, dan Isa AS. Semua nabi dan rasul yang diperintahkan oleh Allah SWT bertugas untuk menyeru umat manusia agar senantiasa beriman kepada Allah dan berbuat kebajikan serta menjauhi segala keburukan.

“Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama-sama mereka kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan.” (QS. Al-Hadid [57]: 25).
Syekh Umar al-Asyqar dalam kitabnya ar-Rusul wa ar-Risalah, sebagaimana dikutip oleh Sami al-Maghluts, menyatakan, rasul adalah orang yang diberikan wahyu dan suatu syariat baru, sedangkan nabi adalah orang yang diutus untuk menetapkan syariat sebelumnya. Pendapat serupa juga terdapat dalam Tafsir al-Alusi.

Berikut tempat-tempat dan wilayah para nabi yang diutus oleh Allah SWT.


Makkah
Gambar Kota Makkah abad ke 19


Makkah al-Mukarramah adalah tanah yang sangat disucikan oleh umat Islam, sebab, Allah SWT telah menegaskan hal itu dalam AlQuran.

“Dan apakah mereka tidak memperhatikan, bahwa sesungguhnya Kami telah menjadikan (negeri mereka) tanah suci yang aman, sedang manusia di sekitarnya rampok-merampok. Maka mengapa (sesudah nyata kebenaran) mereka masih percaya kepada yang bathil dan ingkar kepada nikmat Allah?” (QS. Al-Ankabut [29]: 67).

“Dan mereka berkata: “ Jika kami mengikuti petunjuk bersama kamu, niscaya kami akan diusir dari negeri kami.” Dan apakah Kami tidak meneguhkan kedudukan mereka dalam daerah haram (tanah suci) yang aman, yang didatangkan ke tempat itu buah-buahan dari segala macam (tumbuh-tumbuhan) untuk menjadi rezeki (bagimu) dari sisi Kami? Tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (QS. Al-Qashash [28]: 57).

Sebagai kota yang disucikan, tentu saja Makkah memiliki banyak keistimewaan. Diantaranya, didirikan Baitullah sebagai kiblat umat islam di seluruh dunia. Seluruh kaum muslimin wajib menghadapkan wajah ke arah Baitullah setiap akan mendirikan shalat lima waktu.

Allah juga memberikan keberkahan kepada Makkah. Diantaranya, Allah mengharamkan peperangan di kota ini, dilarang mencabut rumput, dilarang membunuh hewan, dan lain sebagainya.

Selain itu, tentu saja, kemuliaan Makkah karena disinilah Allah mengutus nabi pertama (Adam AS) dan nabi terakhir (Muhammad SAW). Dalam kitab Athlas Tarikh al-Anbiya’ wa ar-rusul, Sami bin Abdullah Al-Maghluts menjelaskan, ada enam orang nabi dan rasul yang diutus Allah di Makkah dan sekitarnya (Jazirah Arabia). Keenam nabi dan rasul itu adalah Nabi Adam AS, Nabi Ismail AS, Nabi Saleh AS, Nabi Hud AS, Nabi Syuaib AS, dan Nabi Muhammad SAW.

Dari 25 nabi dan rasul yang disebutkan dalam AlQuran, hanya enam nabi saja yang diutus di bumi Makkah dan sekitarnya. Sebagian dari 25 rasul itu, pernah berkunjung ke Makkah, bahkan melaksanakan ibadah haji. Diantara mereka adalah Nabi Ibrahim AS.

Selain Makkah, tanah yang disebut suci oleh Allah adalah Palestina dan sekitarnya. “Hai kaumku, masuklah ke tanah suci (palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu lari kebelakang (karena taku kepada musuh), maka kamu menjadi orang-orang yang merugi.” (Al-Maidah [5]: 21). Lihat juga dalam surah Al-Isra[17] ayat 1.

Sedangkan Madinah al-Munawwarah, disucikan oleh Rasulullah SAW. Anas RA. mengatakan bahwa Nabi SAW bersabda: “Madinah itu haram (tanah suci) dari ini sampai ini, tidak boleh dipotong (ditebang) pohonnya, dan tidak boleh dilakukan bi’dah di dalamnya. Barang siapa yang membuat bid’ah (atau melindungi orang yang berbuat bidd’ah) di dalamnya, maka ia terkena laknat Allah, malaikat, dan manusia seluruhnya.” (HR Bukhari).

Dalam hadist lain, Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya tanah haram tidak melindungi orang yang maksiat, orang yang lari dari (hak) darah (orang lain), maupun yang lari dari khurbah (bencana, wabah).” (HR Bukhari).

Mesir

Mesir adalah negeri para raja. Disinilah Firaun (raja-raja mesir) berkuasa, negeri ini telah ada sejak abad ke-32 sebelum masehi, atau sekitar 3200 SM. Sejak Nabi Ibrahim AS, negeri ini sudah ada. Pada saat itu dinasti yang berkuasa adalah Dinasti Usrah di era klasik (3200-2160 SM). Selanjutnya, sebelum masa Firaun, sudah didirikan piramida, itulah yang disebut era Mesir Kuno.

Menurut Sami bin Abdullah Al-Maghluts dalam bukunya Athlas Tarikh al-Anbiya’ wa ar-rusul (Atlah Sejarah Nabi dan Rasul), sedikitnya ada empat periode pada masa mesir kuno ini. Yakni periode Kerajaan Era Klasik (3200-2160 SM). Pada masa ini terdapat sepuluh dinasti yaitu dinasti I-IX.

Periode kedua adalah era pertengahan yang dimulai dari tahun 2160-1585 SM. Di masa ini dinasti yang berkuasa mulai dari dinasti XI-XVII. Pada era ini Hykos menyerbu Mesir. Selanjutnya, Periode ketiga, yaitu kerajaan era baru (1585-1200 SM). Yang berkuasa adalah dinasti XVIII-XX. Di saat inilah Firaun berkuasa dan saat Musa keluar bersama kaumnya dari Mesir.  Terakhir, era kelemahan dan kemunduran (1200-332 SM) yang diwarisi oleh dinasti XXI-XXX. Pada masa ini, Alexander Macedonia masuk ke negeri Mesir.

Al-Maghluts menyebutkan, dinasti XII berada satu masa dengan peristiwa besar dalam sejarah kuno. Di masa ini, Ibrahim AS yang dilahirkan di Irak Selatan, kemudian hijrah ke Suriah dan sempat pergi ke Mesir setelah Suriah mulai mengalami kekeringan. Saat itulah, raja mesir yang berkuasa memberikan padanya seorang pelayan, bernama Hajar, yang akhirnya dijadikan istri oleh Ibrahim.

Sebelum Kairo, ibukota Mesir adalah Asta Tawi, yang berarti penggenggam bumi. Daerah ini terletak di dekat ibukota lama, yaitu Memphis. Pendiri dinasti ini adalah Amenhotep I yang memiliki perhatian besar pada pembangunan benteng-benteng di delta timur dan barat. Kekuasaannya kemudian dilanjutkan oleh Snosert I. disebutkan, Snosert I inilah yang menggali kanal dan meyambungkan antara sungai Nil dan Laut Merah.

Diantara para penguasa dari dinasti XII adalah Amenhotep II, kemudian Snosert II. Setelah itu, roda kekuasaan dipegang oleh Amenhotep III yang masa pemerintahannya terkenal aman dan sejahtera. Raja ini membangun beberapa pyramid di negeri Hawarah di daerah al-Fayyum. Politik luar negeri pada masa dinasti XII ini ditekankan pada pengutamaan hubungan harmonis dengan Negara tetangga. Semikian disebutkan Dr. Jamal Abdul Hadi dan Wafa’ Raf’at dalam kitab Tarikh Ummah Muslimah Wahidah fi Misri wa Irak.
Selain al-Fayyum, terdapat sekitar 25 kota besar lainnya di Mesir waktu itu. Diantaranya, Kairo, Memphis, Luxor, Aswan, Asyut, al-Bahr al-Ahmar (Laut Merah), Iskandariyah, Ismailiyah, dan lainnya.

Di era modern ini, Mesir sebagian wilayahnya terletak di Afrika bagian timur laut. Secara total luas Mesir mencapai hamper satu juta kilometer persegi, tepatnya 997.739 kilometer. Wilayah Mesir mencakup semenanjung Sinai (dianggap sebagai wilayah Asia Barat Daya), sedangkan sebagian lainnya di wilayah Afrika Utara. Mesir berbatasan dengan Libya di sebelah barat, Sudan di selatan, jalur Gaza dan Israel di utara-timur, dan berbatasan dengan perairan Laut Tengah di utara dan Laut Merah di timur.

Dalam AlQuran, Allah mengutus sebanyak 25 Nabi dan Rasul. Dan dari 25 itu, tiga orang Nabi yang diutus ke wilayah Mesir ini. Ketiga nabi dan rasul tersebut adalah Yusuf AS, Musa AS, dan Harun AS.

Irak

Irak adalah salah satu negeri tempat diutusnya nabi dan rasul Allah. Sedikitnya ada empat nabi dan rasul yang diutus di negeri ini. Yaitu Idris, Nuh, Ibrahim, dan Yunus.

Nabi Idris diutus di wilayah Irak Kuno, tepatnya di daerah Babylonia. Nabi Nuh diutus di wilayah Mesopotamia, Ibrahim di wilayah Babylonia, dan Yunus di daerah Ninawa (Ninive).

Keempat nabi dan rasul ini diutus oleh Allah dengan membawa bukti-bukti yang nyata. “Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan.” (QS Al-Hadid [57]: 25).
Mereka semua senantiasa menyeru umat manusia ke jalan yang lurus, yakni menyembah Allah dan melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Ada beberapa kota yang terkenal di Irak, diantaranya Baghdad, Basrah, dan Kufah. Hingga kini ketiga kota tersebut terkenal sebagai pusat penyebaran agama Islam. Bahkan, pada masa Dinasti Abbasiyah, kota Baghdad menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan dan mencapai puncaknya (golden age) pada masa Khalifah Harun ar-Rasyid.

Syam dan Palestina
Peninggalan Kota Syam (sekarang meliputi Syria, Palestina, Yordania dan Libanon)


Sementara itu, di Syam dan Palestina terdapat 12 orang nabi dan rasul yang diutus oleh Allah di wilayah tersebut. Mereka adalah Luth, Ishak, Ya’kub, Ayub, Zulkifli, Daud, Sulaiman, Ilyas, Ilyasa, Zakaria, Yahya, dan Isa AS.

Tentu ada pertanyaan besar, mengapa nabi dan rasul banyak diutus Allah di Syam dan Palestina? Apakah sudah begitu sesatnya umat manusia sehingga Allah mengutus banyak nabi dan rasul pada kedua daerah tersebut? Tak ada keterangan yang kuat mengenai hal ini. Tentu saja, semua itu adalah kehendak (iradah) Allah.

Yang pasti, tujuan nabi dan rasul berdakwah adalah untuk menyeru umat manusia agar kembali ke jalan yang lurus dan senantiasa beriman kepada Allah SWT.

Dan mengapa pula diutusnya di kedua wilayah tersebut? Dalam AlQuran, Allah SWT berfirman, bahwa Palestina dan Syam adalah negeri yang diberkahi oleh Allah SWT, selain Makkah dan madinah.

“Hai kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu lari kebelakang (karena takut kepada musuh), maka kamu menjadi orang-orang yang merugi.” (QS Al-Maidah [5]: 21)
“Dan kami selamatkan Ibrahim dan Luth ke sebuah negeri yang Kami telah memberkahinya untuk sekalian manusia.” (QS Al-Anbiya [21]: 71)
“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Aqsha yang telah kami berkahi sekelilingnya.” (QS Al-Isra [17]: 1)

Semua ahli tafsir sepakat, bahwa negeri yang diberkahi dalam ayat di atas adalah Syam dan Palestina. Misalnya, dalam Al-Qur’an Digital disebutkan, yang dimaksud dengan negeri dalam keterangan ayat di atas adalah Syam dan Palestina. Allah memberkahi negeri itu, karena kebanyakan nabi berasal dari negeri ini dan tanah nya pun subur.

Palestina misalnya, disebut sebagai salah satu negeri tertua di dunia. Dan Palestina, tepatnya Yerusalem, kota ini disebut sebagai Kota Tiga Iman. Demikian Karen Amstrong menyebutnya. Dan dia menyatakan, sebelum abad ke-20 SM, negeri ini telah dihuni oleh bangsa Kanaan.

Prof. Dr. Umar Anggara Jenie, dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), menyatakan, Kota Jerusalem merupakan bukti yang paling baik dalam kekunoan pemukiman-pemukiman bangsa arab – semistis purba Palestina – yang telah berada di sana jauh sebelum bangsa-bangsa lainnya dating.
Kota ini didirikan oleh suku-suku Jebus, yaitu cabang dari bangsa Kanaan yang hidup sekitar 5000 tahun lalu. “Yang pertama mendirikan Jerusalem adalah seorang raja bangsa Jebus-Kanaan,” ujarnya.

Wajarlah bila di negeri ini banyak diutus para nabi dan rasul, karena merupakan salah satu kota tertua di dunia. Di negeri ini terdapat Haikal Sulaiman dan Kerajaan Daud, juga tempat kelahiran Isa, tempat diadzabnya kaum Luth, tempat Zakaria melaksanakan shalat, tempat Rasulullah SAW melaksanakan Isra dan Mi’raj, Masjidil Aqsha, dan lainnya. Bahkan di salah satu menara masjid di Damaskus, dipercaya sebagai tempat turunnya Nabi Isa di Akhir zaman nanti.

Wallahu A’lam.


sumber: http://hermadut.blogspot.com