Tampilkan postingan dengan label keajaiban alam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label keajaiban alam. Tampilkan semua postingan

Jumat, 16 Agustus 2013

Apa Peran Bongkahan Es Bagi Bumi?

Martyn Poliakoff, seorang profesor dari Unversity of Nottingham, Inggris, mengungkapkan bahwa kumpulan es yang mengapung ternyata penting dalam menjaga suhu bumi.


dailymail.co.uk

"Jika Anda mencelupkan es ke dalam gelas berisi air, dan es tersebut tenggelam hingga ke dasar gelas, maka air akan menjadi hangat. Inilah yang kemungkinan bisa menjadi bencana," kata Poliakoff, seperti dikutip dari laman The Huffington Post.

Ilmuwan berpenampilan seperti Einsten ini menambahkan hal serupa bisa menimpa bumi seandainya bongkahan es tidak mengapung di permukaan air. Bahkan, dampak yang lebih dahsyat bisa terjadi misalkan pegunungan es serta bongkahan es di kutub utara tenggelam.


"Bumi akan menjadi lebih panas dari suhunya saat ini," ucap Poliakoff, mengandaikan es di kutub utara tak mengapung di permukaan air.

Ia menjelaskan, ketika air laut membeku dan menjadi bongkahan es, seketika itu pula akan memantulkan radiasi sinar matahari. Apalagi air laut yang membeku menjadi es berwarna putih, spektrum warna yang memantulkan cahaya.

Peran es semakin vital terutama di wilayah tertentu seperti kutub utara, yang pada musim panas disinari matahari sehari penuh selama 24 jam. "Lautan es berperan sangat signifikan memantulkan kembali radiasi matahari," ujarnya.

Senin, 12 Agustus 2013

Bulan Selalu Menghadap Bumi Dengan Permukaan yang Sama


Pernahkah kamu mengamati bulan? Jika kamu perhatikan, permukaan bulan yang kita lihat cenderung sama setiap harinya. Permukaan bulan yang menghadap bumi adalah permukaan yang memiliki serangkaian relief yang banyak orang menyebutnya menyerupai gambar kelinci. Tidak, kali ini kita tidak membahas tentang gambar kelinci itu. Kita akan membahas mengapa permukaan bulan yang menghadap bumi selalu sama setiap harinya.

Kita tahu bahwa bulan berputar mengelilingi bumi, sedangkan bumi sendiri juga berputar pada porosnya. Tetapi yang mungkin kita tidak tahu atau tidak sadari adalah bulan juga berputar pada porosnya. Perputaran yang dilakukan bulan pada porosnya ini tepat satu putaran untuk setiap kali ia mengelilingi bumi. Karena inilah bulan selalu menampakkan wajah yang sama pada bumi. Jika tidak berputar pada porosnya, wajah yang ditampakkan bulan pada bumi akan selalu berubah-ubah.

Bagaimana hal itu dapat terjadi? Tahukah pembaca apa penyebabnya? Penyebabnya adalah gaya tarik menarik yang disebabkan oleh gravitasi bumi dan bulan. Gaya gravitasi bulan mempengaruhi pasang surut air laut.

Sebaliknya, gravitasi bumi juga mempengaruhi tanah di bulan (bukan laut, karena di bulan tidak ada laut). Nah, gaya tarik menarik ini ternyata juga mempengaruhi pergerakan masing-masing. Inilah yang menyebabkan pergerakan bulan menjadi begitu teratur dan selaras dengan gerakan bumi. Sekedar informasi, pergerakan bumi juga terpengaruh oleh gaya gravitasi bulan, lohh. Tetapi memang pengaruhnya tidak sebesar pengaruh gravitasi bumi ke bulan.

Senin, 29 Juli 2013

Inilah Pohon - Pohon Tempat Tinggal Favorit Para Hantu

1. Pohon Beringin

Tempat Tinggal Hantu

Pohon beringin konon tempat kesukaan genderuwo terutama beringin yang sudah tua dan memiliki janggut (akar yang menggantung). Bila kita mematahkan janggut beringin tersebut dan kebetulan beringinnya diisi genderuwo maka kita akan langsung sakit dan bila tidak segera diobati ke orang pintar mungkin nyawa taruhannya.


2. Pohon Sukun


Tempat Tinggal Hantu
 
Pohon ini biasanya menjadi tempat tinggal pocong. 


3. Pohon Ara
 
Tempat Tinggal Hantu
 
Pohon ara yang selintas masih mirip dengan pohon beringin merupakan tempat tinggal bagi segala macam jenis hantu.


4. Pohon Randu

Tempat Tinggal Hantu 
 
  Pohon randu atau kapuk merupakan pohon yang menjadi tempat tinggal kuntilanak. 


5. Pohon Sawo
 
Tempat Tinggal Hantu 
 
Pohon sawo adalah tempat tinggal kuntilanak dan genderuwo maka dari itu jika sudah memasuki waktu adzan maghrib hindari pohon ini karena biasanya pada jam-jam itu,hantu penunggu pohon sawo sedang berkeliaran.


6. Pohon Pisang


Tempat Tinggal Hantu 
 
Pohon pisang (pohon pisang yang bergerombol) merupakan tempat tinggal kuntilanak dan pocong. 


7. Pohon Asem
 
Tempat Tinggal Hantu 
 
Pohon asem biasanya menjadi tempat tinggal pocong atau kuntilanak terutama pohon asem yang umurnya sudah bertahun-tahun.

Minggu, 21 Juli 2013

Paleoklimatologi: Ilmu Mempelajari Perubahan Iklim


Hampir lebih dari dua puluh tahun terakhir, ide mengenai perubahan iklim berkembang secara pesat, meskipun masyarakat yang skeptis masih mengganggap ide tersebut hanya sekedar teori sains yang masih perlu dibuktikan kebenarannya.

Masyarakat semestinya tahu jika para ahli iklim telah bersepakat bahwa meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca memang akan mengakibatkan pemanasan global yang tidak diharapkan. Adapun yang menjadi perdebatan para ahli iklim saat ini adalah terkait kapan dan seberapa besar efek yang ditimbulkan dari pemanasan global tersebut.

Isu pemanasan global mulai berkembang sejak awal tahun 90an, diawali dengan dibentuknya Panel Antarpemerintah Tentang Perubahan Iklim atau dikenal secara luas sebagai Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) di tahun 1988, atas prakarsa dua badan besar di PBB yakni World Meteorological Organization (WMO) dan United Nations Environmental Program (UNEP).

Panel ini bertugas untuk melakukan tinjauan dan analisis terhadap berbagai penelitian ilmiah, informasi teknis, dan isu sosial-ekonomi terkini terkait aspek dan dampak dari perubahan iklim global. Hasilnya didokumentasikan secara komprehensif, termasuk di dalamnya formulasi dan strategi untuk mengatasi dampak dari perubahan tersebut.

Laporan IPCC dibuat secara berkala dan pertama kali dipublikasikan pada tahun 1990, kemudian dilanjutkan pada tahun 1992, 2001, dan 2007. Laporan selanjutnya akan dipublikasikan pada tahun 2014.

Salah satu topik dalam laporan IPCC adalah mengenai iklim purba atau lebih dikenal sebagai Paleoklimatologi (Paleoclimate). Bidang ilmu ini mempelajari iklim masa lampau dengan skala waktu puluhan sampai ribuan tahun yang lalu, beserta implikasinya terhadap perubahan yang terjadi dalam ekosistem bumi.

Di dalam laporan tersebut dibahas berbagai data, beragam penelitian yang tengah berlangsung, serta hipotesis terkini mengenai ilmu terkait. Termasuk di dalamnya metode dan alat-alat yang digunakan untuk mempelajari paleoklimatologi.

Pertanyaan yang muncul sekarang adalah mengapa kita mempelajari paleoklimatologi? Apa kaitannya dengan perubahan iklim yang terjadi saat ini dan apa urgensinya dalam memprediksikan perubahan iklim di masa mendatang?

Perlu diketahui, iklim dan cuaca bukanlah sebuah subjek yang persis sama. NOAA (National Oceanic and Atmospheric Administration) mendeskripsikan bahwa cuaca adalah kondisi atmosfer yang kita rasakan setiap harinya melalui berbagai variabel seperti suhu, curah hujan, dan angin. Adapun iklim digambarkan sebagai cuaca rata-rata dalam kurun waktu tertentu, baik dalam rentang bulanan, tahunan, ratusan hingga ratusan ribu tahun.

Melalui definisi tersebut kita dapat mengasumsikan bahwa tingkat variabilitas cuaca sangat tinggi, sehingga sulit untuk bisa diprediksi secara tepat. Sedangkan tingkat variabilitas iklim sangatlah rendah dan prediksinya relatif lebih akurat. Sebagai perumpamaan, iklim di tempat kita tinggal akan bisa diketahui dari berapa jumlah payung yang kita simpan di rumah, sedangkan cuaca dapat diketahui dari keputusan kita untuk membawa payung atau tidak, saat kita hendak keluar dari rumah pada suatu hari.

Karena iklim pada ekosistem bumi selalu bervariasi dan perubahannya hampir selalu terjadi pada setiap periode bumi, maka penelitian dalam paleoklimatologi menjadi sebuah subyek yang sangat menarik dan perlu dipelajari secara lebih rinci.

Ahli paleoklimatologi menyimpulkan bahwa perubahan iklim tidak hanya terjadi pada saat ini, akan tetapi perubahan tersebut juga pernah terjadi di masa lampau. Sehingga penelitian dalam bidang paleoklimatologi dapat membantu kita dalam memahami perubahan iklim di masa yang akan datang.

Logika pemikiran sederhana terkait pentingnya mempelajari paleoklimatologi dijelaskan dalam buku Dire predictions: understanding global warming (2009). Seorang ahli iklim yang mempelajari paleoklimatologi diumpamakan sebagai dokter yang sedang berusaha mendiagnosis dan menyembuhkan pasiennya.

Pasien dianalogikan sebagai kondisi ekosistem bumi. Saat pertama kali dokter bertemu dengan pasiennya, dokter akan terlebih dahulu menanyakan riwayat kesehatan sang pasien. Misalnya dengan menanyakan penyakit apa saja yang pernah pasien derita selama ini, atau apakah penyakit yang tersebut pernah dialami sebelumnya, lalu, apa saja gejala yang dirasakan.

Sang dokter lebih lanjut akan menanyakan mengenai kegiatan atau perilaku seperti apa yang biasa dilakukan si pasien sebelum menderita penyakit tersebut, ini dilengkapi dengan pemeriksaan pada tubuh pasien untuk menegaskan diagnosa nantinya. Dokter kemudian memberikan diagnosanya dan juga memberikan alternatif penyembuhan (obat ataupun terapi), dan juga menyertakan solusi pencegahan agar penyakit yang sama tidak dialami lagi.

Hal ini kurang lebih diaplikasikan oleh para ahli iklim untuk mempelajari dan menganalisa berbagai perubahan pada iklim di masa lampau. Dikarenakan bumi tidak bisa menjawab langsung pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh para ahli iklim, maka mereka mempelajari berbagai sinyal yang terdokumentasikan di alam. Pada akhirnya dengan mempelajari dan mengetahui proses perubahan iklim yang terjadi di masa lampau, para ahli iklim bisa memecahkan misteri iklim di masa mendatang.

Menjadi pertanyaan berikutnya adalah bagaimana para ahli iklim dapat menginterpretasikan berbagai sinyal masa lampau yang terdokumentasikan di alam? Data sinyal seperti apa yang bisa menggambarkan kondisi masa lampau apalagi ketika ahli iklim mencoba meneliti data masa lampau sementara berbagai alat ukur iklim (misalnya: termometer dan barometer) bahkan belum ditemukan.

Sampai dengan abad ke-sembilanbelas, kondisi iklim dapat diketahui melalui berbagai data yang berasal dari pengukuran termometer dan barometer, atau berbagai dokumen sejarah. Sedangkan data satelit yang dapat merekam iklim permukaan bumi secara kotinyu baru tersedia sekitar dua puluh tahun yang lalu.

Oleh karenanya, dalam paloklimatologi dikenal apa yang disebut sebagai data proxy atau data yang digunakan untuk menggantikan data atau kondisi iklim di suatu tempat pada waktu lampau, minimal dalam jangka puluhan tahun.

Lingkar tahun pada pohon misalnya, bisa disebut sebagai proxy karena beberapa jenis pohon bisa berumur ratusan hingga ribuan tahun (jenis Ek, Pinus, dan Beench), dimana ketebalan dari lingkaran tahun sangat sensitif terhadap perubahan suhu atau curah hujan setiap tahunnya.

Lingkaran tahun menebal saat curah hujan tinggi dan menipis saat musim kering. Melalui informasi ketebalan lingkar tahun tersebut, para ahli bisa menggambarkan curah hujan tahunan di area tersebut. Sehingga dalam hal ini, lingkaran tahun dapat digunakan sebagai data pengganti untuk memprediksi iklim di masa lampau.

Contoh proxy lainnya antara lain adalah data inti es kutub, data sedimen dasar laut atau sungai, dan juga data dari fosil karang. Data inti es kutub dan sedimen dasar laut bisa mendokumentasikan iklim di masa lampau mulai dari ribuan sampai jutaan tahun yang lalu. Data inti es diperoleh melalui hasil penggalian, berupa komposisi butiran debu, konsentrasi oksigen dalam gelembung-gelembung udara.

Data dengan sumber sedimen dasar laut dansungai dapat ditentukan melalui berbagai fosil jasad renik baik dari tumbuhan (serbuk sari) atau hewan (foraminifera, sejenis plankton), komposisi bahan kimia yang terkandung pada sedimen laut (misalnya kandungan Kalsium Karbonat).

Berbagai data tersebut dipelajari oleh para ahli iklim untuk kemudian digunakan untuk menginterpretasikan kondisi iklim di area tersebut. Pusat data NOAA mengumpulkan data-data iklim masa lampau dan menyimpannya pada jaringan laman mereka.

Kelemahan dari berbagai data paleoklimatologi adalah ketidakmampuan data untuk dapat menggambarkan mekanisme atau proses terjadinya perubahan iklim di masa lampau secara terperinci. Sehingga untuk mengakomodasi kebutuhan tersebut, dikembangkanlah apa yang disebut sebagai model iklim, yakni model yang berusaha untuk menggambarkankondisi iklim bumi beserta interaksinya pada ekosistem bumi (atmosfer, hidrosfer, litosfer, and biosfer).

Penggambaran kondisi ekosistem bumi diperoleh menggunakan berbagai persamaan matematis, yang nantinya diselesaikan secara numerik dengan bantuan teknologi komputerisasi.

Melalui model iklim diharapkan mekanisme dan proses perubahan iklim dapat diketahui secara rinci, untuk kemudian hasilnya dibandingkan dengan data paleoklimatologi yang tersedia.

Aplikasi model iklim di masa lampau adalah salah satu poin penting dalam menguji berbagai hipotesa perubahaan iklim di masa lampau, seperti teori perubahan iklim secara mendadak (abrupt climate) sebagaimana dijelaskan pada laporan IPCC tahun 2007.

Laporan tersebut juga menyebutkan bahwa model iklim dapat digunakan sebagai penghubung antara sebab dan akibat dari terjadinya perubahan iklim di masa lampau, menghubungkan antara berbagai data paleoklimatologi yang berskala regional dengan data global, karena umumnya data-data tersebut tidak dapat memberikan informasi secara merata dan lebih bersifat musiman.

Selain itu, data paleoklimatologi dapat juga digunakan sebagai sarana pengujian berbagai model iklim yang berbeda, terlebih jika faktor yang menjadi penyebab sudah jelas dan bisa dikontrol. Contohnya dalam pengujian berbagai model iklim menggunakan konsentrasi karbon dioksida (CO2) sebagai variabel yang mempengaruhi iklim. Aplikasi pengujian berbagai model iklim tersebut juga tertulis dalam laporan IPCC tahun 2007.

Sampai saat ini belum ada model yang sempurna untuk bisa menggambarkan sistem iklim dan interaksinya secara menyeluruh dan rinci. Salah satu kendalanya adalah kemampuan komputerisasi yang masih kurang memadai untuk menyelesaikan persamaan-persamaan matematis dan mensimulasikannya dalam skenario waktu yang panjang. Akan tetapi melihat perkembangan komputerisasi yang semakin maju, penelitian dalam model iklim tetap menjadi salah satu komponen terpenting dalam paleoklimatologi.

Saat ini, paleoklimatologi menjadi salah satu ilmu dengan implikasi yang sangat luas, terutama dengan isu hangat dalam konteks perubahan iklim. Interaksinya dengan beragam bidang ilmu menjadi pemicu efektif dalam perkembangan paleoklimatologi itu sendiri.

Publikasi dari berbagai data dan hipotesa terkini yang mendukung paleoklimatologi terus bermunculan setiap bulannya, meskipun data-data tersebut belumlah lengkap. Berbagai data global dari seluruh belahan bumi dengan tingkat resolusi tinggi dan tingkat keakuratan pengukuran yang relevan akan sangat diperlukan bagi perkembangan paleoklimatologi.

Jadi apa yang bisa dipelajari dari paleoklimatologi? Pastinya mengenai sejarah perubahan iklim di masa lampau yang diharapkan mampu membantu menginterpretasikan perubahan iklim yang terjadi saat ini, dan memprediksi perubahan iklim masa mendatang.

Ini jelas dapat memberikan kontribusi strategis dalam mengantisipasi efek yang akan timbul dari perubahan iklim global saat ini. Selain itu, ini membantu kita untuk bisa melakukan tindakan- tindakan preventif sebelum terjadi perubahan iklim global yang lebih drastis dan berakibat fatal bagi manusia dan ekosistemnya.

Misteri White Hole, Lubang Raksasa di Antariksa



White hole secara nyata belum ada pembuktiannya, white hole masih sebatas dalam teori dalam kertas. Beberapa ilmuan seperti Profesor Michio Kaku menyatakan bahwa white hole merupakan sisi lain dari blackhole. Kita pasti penasaran kemanakah semua materi yang diserap blackhole berujung, apakah black hole itu sebuat pintu yang menuju sisi lain dari jagat raya? dari pertanyaan imajinasi ini maka muncul teori white hole.

White hole erat kaitannya dengan time travel. Jika memang ujung dari black hole adalah white hole yang mengubungkan dua tempat terpisah sperti tunel yang mempersingkat perjalanan waktu maka time travel mungkin dilakukan. Dan mungkin kita bisa mengunjungi kemarin, 2 hari yang lalu dan seterusnya. Prof Michiku juga menyatakan secara teoritis time travel melalui white hole itu dapat diterapkan namun praktekannya hampir mustahil. sesuai hukum kekekalan energi dan kesetimbangan masa E masuk= E hilang + E yang keluar dan itu bearti masa yang masuk harus sama dengan masa yang hilang dan keluar. black hole menghisap masa dan energi teorinya white hole yang mengeluarkan.


Kemungkinan lain dari sisi lain dari black hole adalah big bang. Bayangkan saja jika sebuah pusaran air menyedot begitu banyak air dan sampah plastik maka dia juga akan mengeluarkan air dan sampah plastik dalam jumlah dan kecepatan yang hampir sama juga. Kecepatan gravitasi di sekitar black hole dikatakan hampir absolute jadi dengan demikian kecepatan hembusan di sekita white hole juga mendekati absolute, dan itu artinya adalah big bang. Dapat disimpulkan white hole adalah sebuah monster kosmis yang berfungsi untuk mengeluarkan seluruh materi yang sudah dihisap oleh black hole.

Kemunculan White Hole


white hole atau lubang putih tidak menghisap benda di sekeliling namun memuntahkan material yang berasal dari tempat antah berantah ke alam semesta kita.


Alam semesta kita sendiri merupakan tempat yang aneh, dan lubang hitam merupakan salah satu hal yang paling aneh yang hadir di dalamnya. Namun secara matematik, lubang hitam harusnya bisa dibalikkan, artinya, ada sesuatu yang memuntahkan material, tidak menghisapnya.

Dikutip dari Dvice, lubang putih beroperasi dengan modus yang berbeda dengan lubang hitam. Mereka mendadak muncul untuk masa waktu yang singkat. Mereka kemudian melontarkan sejumlah material ke alam semesta lalu mereka sendiri runtuh, membentuk lubang hitam dan kemudian tidak pernah tampak lagi.


Perilaku lubang putih seperti ini sangat sulit untuk diamati. Namun peneliti yakin bahwa mereka telah menemukan salah satu di antaranya.

Pada tahun 2005 lalu, sebuah tembakan sinar gamma berhasil terekam namun ia tidak hadir bersama dengan supernova yang umumnya memicu hadirnya lontaran sinar gamma tersebut. Ada kemungkinan, ia hadir akibat runtuhnya sebuah lubang putih.

Yang menarik seputar lubang putih adalah pembentukan material mereka serupa dengan apa yang disebut Big Bang, atau yang disebut-sebut merupakan fenomena terbentuknya seluruh alam semesta. Ini membuat white hole disebut juga sebagal "Small Bangs".

White hole tidak memiliki koordinat ruang dan waktu yang pasti dan tidak bisa dideteksi sama sekali. Mereka bisa secara mendadak muncul kapan saja, di mana saja dan melakukan aktivitas mereka sebelum kembali menghilang.

Sejauh ini, keberadaan white hole memang masih bersifat dugaan. Akan tetapi, black hole juga hanya merupakan dugaan sampai keberadaannya benar-benar diketahui pada beberapa dekade terakhir. Dan seperti yang diucapkan oleh fisikawan Murray Gell-Mann, apapun yang tidak dilarang adalah wajib.

Artinya, setidaknya dari sudut pandang mekanikal kuantum, lubang putih pasti ada di salah satu sudut alam semesta.

Danau-danau Penanda Jejak Tektovulkanik



Bukit-bukit memagari hamparan biru air Danau Ranau. Gunung Seminung yang puncaknya tertutup sebaris awan berdiri megah di seberang.

Dari kaki gunung yang menjulur ke danau, air panas mengucur tanpa henti. Perahu kecil membelah jernih air, lalu berlabuh di tepian. Eduard (45) lalu menawarkan membawa ke sumber air panas itu.

Eduard, warga Banding Agung, Kota Batu, Ogan Komering Ulu Selatan, Sumatera Selatan, sama sekali tak mengira, danau indah itu adalah satu dari deretan danau di Pulau Sumatera yang terbentuk dari letusan dahsyat di masa lalu. Bahkan, ketika beberapa ikan di danau mati dan air danau menguarkan bau belerang menyengat. ”Dulu pernah ada ikan mati mendadak,” ungkap Eduard, pemilik perahu wisata.

Fenomena matinya ikan di Danau Ranau telah beberapa kali terjadi dalam 50 tahun terakhir. Kejadian itu di antaranya tahun 1962, 1993, 1995, dan 1998. Terakhir, fenomena ini juga terjadi pada 4 April 2011.

Dari penelitian Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (2011), kematian ikan itu tidak menyeluruh terjadi di area danau, tetapi hanya di sekitar keluarnya mata air panas, yakni di mata air panas Kota Batu, Ujung, dan mata air panas Way Wahid. Pada saat kejadian, air danau di lokasi matinya ikan biasanya berwarna putih susu dan berbau gas belerang. Dari hasil penelitian itu, pada sekitar kejadian ada gempa kecil di garis sesar yang melintang di sepanjang danau.

Air panas di kaki Seminung dan kematian ikan yang kerap terjadi merupakan pertanda jejak vulkanik yang masih tersisa di Danau Ranau.

Danau vulkanik

Sumatera saat ini lebih banyak menyedot perhatian karena aktivitas tektoniknya berupa gempa dan tsunami besar yang kerap terjadi. Di masa lalu aktivitas vulkanik di pulau ini ternyata sangat dahsyat. Jejak kedahsyatan vulkanik di Sumatera terlihat dalam bentuk danau-danau kaldera raksasa, salah satunya Danau Ranau seluas 127 kilometer persegi itu.


Letusan dahsyat Ranau terjadi sekitar 55.000 tahun yang lalu dan menyemburkan 150 kilometer kubik rempah vulkanik. Endapan aliran awan panas dan material jatuhan setebal ratusan meter menyelimuti area seluas 140 kilometer persegi.

Alessandro Tibaldi dari Departemen Ilmu Geologi dan Geoteknologi, Universitas Milan-Bicocca, Italia, dalam Volcanism in Reverse and Strike-Slip Fault Settings (2010) menjelaskan, evolusi Danau Ranau bermula dari terbentuknya cekungan akibat sesar pisah tarik (pull-apart fault). Dalam cekungan berukuran 12 km x 16,5 km ini, gunung api dan panas bumi bermunculan. Proses ini diikuti perkembangan kaldera- kaldera kecil. Peningkatan aktivitas vulkanik ini kemudian memperluas kaldera hingga ke bentuk seperti sekarang.

Sekitar 5.000 tahun sebelum letusan Ranau atau 60.000 tahun lalu, Maninjau Purba di Sumatera Barat juga meletus dahsyat. Letusan ini menyemburkan 220-250 kilometer kubik rempah vulkanik yang tersebar hingga radius 75 kilometer dari pusat letusan.

Gunung api Maninjau yang berkembang di zona Sesar Besar Sumatera itu diperkirakan tiga kali meletus besar. Masing- masing letusan membentuk kaldera yang saling menyambung hingga membentuk Danau Maninjau seperti saat ini.

Jejak letusan dahsyat Maninjau tersingkap jelas di Ngarai Sianok di dekat kawasan wisata Bukittinggi, Sumatera Barat. Lembah besar itu diapit tebing terjal berona cerah hasil aliran awan panas dan endapan material jatuhan letusan Maninjau Purba. Ketebalan material letusan yang terpotong Batang Sianok itu mencapai 220 meter.

Endapan material letusan Maninjau itu diteliti HD Tjia Geolog dari Universitas Kebangsaan Malaysia dan Ros Fatihah, peneliti geologi dari Universitas Malaya yang dituangkan dalam penelitian Blasts from the Past Impacting on Peninsular Malaysia (2008). Tjia yang pernah mengajar di Institut Teknologi Bandung (ITB) ini menemukan tiga teras sungai yang menunjukkan terjadinya tiga periode letusan itu. Teras pertama berada sekitar 16 meter dari dasar sungai. Teras kedua menjulang hingga 200 meter dan tidak ada pelapisan.

”Tuff (material endapan letusan) yang sangat tebal itu menunjukkan pernah terjadi letusan sangat besar yang semburan tepra (fragmen batu apung) tersebar sangat luas, seperti yang terjadi di Toba,” tulis Tjia.

Di Sumatera Utara, kita juga menemukan Danau Toba yang merupakan produk letusan gunung api raksasa (supervolcano) sekitar 74.000 tahun lalu. Letusan ini merupakan letusan gunung api terkuat yang pernah terjadi di dunia dalam dua juta tahun terakhir.

Craig A Chesner, geolog dari Universitas Eastern Illinois menyebutkan, letusan ini telah menciptakan badai vulkanik sehingga menyebabkan dunia diliputi kegelapan total selama sekurangnya enam tahun.

Fotosintesis tak terjadi. Kelaparan mendera. Antropolog Stanley H Ambrose dari University of Illinois (1998) menyebutkan, nenek moyang manusia modern (homo sapiens) nyaris punah akibat letusan ini. Periode ini, menurut Ambrose, dikenal sebagai bottle neck atau kemacetan populasi

Danau tektonik


Danau Singkarak

Selain danau vulkanik, Sumatera juga memiliki danau-danau yang murni terbentuk dari aktivitas tektonik, salah satunya Danau Singkarak di Sumatera Barat. Proses pembentukan Danau Singkarak menjadi obyek penelitian ilmu kebumian yang sangat menarik. Sejumlah peneliti telah menawarkan beberapa teori evolusi Singkarak.

Van Bemmelen dalam karya besarnya Geology of Indonesia (1949) menilai cekungan-cekungan di sepanjang Sumatera sebagian besar terbentuk akibat proses vulkano-tektonik. Berdasarkan teori itu, Singkarak merupakan sisa gunung api raksasa yang meletus dahsyat dan kemudian membentuk danau seiring dengan pertumbuhan sesar yang memotongnya. Teori vulkano-tektonik juga disampaikan Bemmelen untuk menjelaskan terbentuknya lima danau di cekungan Suoh, Lampung.

Namun, teori Bemmelen mengenai pembentukan Singkarak dan Suoh diluruskan oleh sejumlah geolog yang melakukan penyelidikan lebih dalam. Geolog senior dari Institut Teknologi Bandung, MT Zen, menelusuri jejak pembentukan Singkarak pada Februari-Maret 1970. Hasil penelitian profesor yang gemar mendaki gunung itu dituangkan dalam jurnal berjudul ”Origin of Singkarak Lake in the Padang Hinghlands”.

Zen tidak menemukan jejak endapan material letusan gunung api tua di lembah-lembah di sekitar danau. Bukit-bukit yang mengelilingi danau juga tidak mencirikan dinding sisa runtuhan tubuh gunung api akibat letusan kaldera. Dinding kaldera sangat khas karena tegak, seperti di Danau Maninjau.

Singkarak, menurut Zen, terbentuk murni akibat proses tektonik dari sesar-sesar yang ada di sekitarnya. Danau ini merupakan bagian dari cekungan memanjang Singkarak-Solok yang merupakan salah satu segmen Sesar Besar Sumatera. Cekungan besar yang memanjang itu kemudian terbendung material letusan gunung api muda Merapi, Singgalang, dan Tandike di sisi barat laut. Di sisi tenggara terbendung oleh endapan material letusan Gunung Talang.

”Lembah panjang Singkarak- Solok merupakan graben (amblesan). Ini bagian dari sesar Sumatera. Danau Singkarak sendiri terbentuk akibat pembendungan di kedua ujung lembah oleh material letusan gunung api. Lembah panjang itu terbentuk sebelum proses vulkanik begitu aktif memuntahkan materialnya,” tulis Zen.

Kerry Sieh dan Danny Hilman lebih rinci membahas tentang evolusi Danau Singkarak. Dalam hipotesis mereka yang dituangkan dalam Neotectonics of The Sumatran Fault (2000), Danau Singkarak bertambah lebar seiring pergeseran dua sesar yang mengapit danau. Singkarak diapit dua sesar pisah tarik yang merupakan bagian dari segmen Sianok dan segmen Sumani yang terpisah sejauh 7,5 kilometer.

Setiap kali terjadi gempa, terjadi pergeseran sesar yang bervariasi mengikuti kekuatan gempa. Total pergeseran Singkarak diperkirakan 23 kilometer hingga terbentuk danau seperti yang ada sekarang ini. Evolusi luas Danau Singkarak itu berawal dari pergeseran 3 km, kemudian berkembang menjadi 8 km, 13 km, dan sekarang ini 23 km. Danau ini terus tumbuh, menandai pergeseran yang terus terjadi.

Proses tektonik yang membentuk Danau Singkarak ini juga terjadi dalam pembentukan danau tektonik lain di Sumatera, seperti Danau Diatas dan Danau Dibawah (Sumatera Barat) serta Danau Kerinci di Jambi.

Bagi para geolog, paduan antara aktivitas tektonik dan vulkanik ini merupakan obyek penelitian yang menarik dan tiada duanya sebagaimana disebutkan Robert McCaffrey dari Rensselaer Polytechnic Institute dalam tulisannya ”The Tectonic Framework of the Sumatran Subduction Zone” (2008). Namun, gerak geologi Sumatera yang hiperaktif ini juga berarti ancaman besar dan mendorong kita untuk terus bersiaga.

Minggu, 14 Juli 2013

Hukum Air

hukum air

Dan sebagian dari tanda-tanda (kebesaran)-Nya, engkau melihat bumi itu kering dan tandus, tetapi apabila Kami turunkan hujan di atasnya, niscaya ia akan bergerak dan subur. Sesungguhnya (Alloh) yang menghidupkannya pasti dapat menghidupkan yang mati. Sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu [QS 41: 39]”

AIR memang memegang peranan strategis bagi kehidupan alam semesta. Dua pertiga dari bumi kita terdiri dari perairan. Begitu pula dengan komponen penyusun tubuh manusia yang 90% terdiri dari cairan. Tidak ada salhnya jika kita mengenal lebih dekat dengan air.

Air sebagai sumber kehidupan makhluk hidup memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Lalu bagaimana kriteria air yang mensucikan dan tidak mensucikan? Berikut tajuk tentang hukum air. Ada lima jenis hukum air yang berlaku:

1. Air Muthlaq, seperti air hujan, air sungai, air laut, air salju, dan air zam-zam.
Hukum: suci dan mensucikan. Berarti, kalo kasus Si Fulan di atas, boleh, dunk, menggunakan air hujan sebagai sarana berwudhu.

2. Air Musta’mal, yaitu air yang lepas dari anggota tubuh orang yang sedang berwudhu atau mandi, dan tidak mengenai benda najis;
Hukum: suci seperti yang disepakati para ulama, dan tidak mensucikan menurut jumhurul ulama.

Dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu, ia berkata :
Bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam berpapasan dengannya di salah satu jalan Madinah saat ia junub. Lalu ia menyelinap, kemudian pergi mandi. Lalu datang lagi, maka beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Kemana engkau tadi wahai Abu Hurairah ?”. Ia menjawab : “Saya tadi dalam keadaan junub. Saya tidak senang mendampingi Anda dalam keadaan tidak suci”. Lalu beliau bersabda : “Maha Suci Allah. Sesungguhnya orang mukmin itu tidak najis” [HR. Jama’ah; shahih].

Segi pemahaman hadits di atas adalah bahwa karena orang mukmin itu tidak najis, maka tidak ada alasan air yang tersentuh olehnya menjadi hilang sifat kesuciannya. Bertemunya dua barang yang suci (air dan tubuh orang mukmin), tentu tidak menimbulkan pengaruh terhadap kesuciannya.

3. Air yang bercampur benda suci, seperti air teh, air kopi, STMJ, air cuka, dan air sabun, selama percampuran itu sedikit tidak mengubah nama air.
Hukum: tidak mensucikan menurut Imam Syafi’i dan Malik. Kalo tidak mensucikan, berarti ndak boleh dipake buat thaharah/ bersuci.

4. Air yang terkena najis, jika mengubah rasa, warna, atau aromanya, maka hukumnya najis tidak boleh dipakai bersuci, menurut ijma’. Sedang jika tidak mengubah salah satu sifatnya, maka mensucikan, menurut Imam Malik, baik air itu banyak atau sedikit; tidak mensucikan menurut Madzhab Hanafi; mensucikan menurut Madzhab Syafi’i jika telah mencapai dua kulah, yang diperkirakan sebanyak volume tempat yang berukuran 60 cm3.

5. Su’r (sisa) yaitu air yang tersisa di tempat minum setelah diminum:
a.    Sisa anak Adam (manusia) hukumnya suci, meskipun ia seorang kafir, junub, atau haidh.
b.    Sisa kucing dan hewan yang halal dagingnya, hukumnya suci.
c.    Sisa keledai dan binatang buas, juga burung, hukumnya suci menurut madzhab Hanafi.
d.    Sedangkan sisa anjing dan babi, hukumnya najis menurut seluruh ulama

Semoga sedikit uraian tentang hukum air menambah khasanah dan rasa syukur kita terhadap nikmat Sang Pencipta, ya. Air perlu dijaga kelestariannya dan perlu diperhatikan hukum pemanfaatannya secara bijak.

Sabtu, 29 Juni 2013

Mengenal Cuaca dan Apa Penyebabnya

Guys, tahukah apa yang dimaksud dengan cuaca? Seperti apa cuaca itu? Mari kita pelajari disini.

Indonesia memiliki cuaca yang berbeda dengan cuaca yang ada di Amerika atau dengan Australia. Ketiganya merupakan negara besar dengan perbedaan yang memiliki perbedaan cuaca signifikan. Atau bahkan di Bandung dengan di Jakarta cuaca dalam satu waktu bisa berbeda. Lalu apa cuaca itu?
Pengertian Cuaca
Semua cuaca terjadi di atmosfer. Hampir semuanya terjadi di bagian bawah atmosfer tepatnya pada lapisan troposfer. Cuaca mengacu pada kondisi atmosfer pada waktu tertentu dan tempat tertentu. Sedangkan Iklim adalah rata-rata cuaca selama waktu yang lama.

Cuaca pada lokasi tertentu yang tergantung pada:
  • suhu udara. 
  • tekanan udara. 
  • kabut. 
  • kelembaban. 
  • tutupan awan. 
  • presipitasi. 
  • kecepatan dan arah angin.
Semua karakteristik tersebut berkaitan langsung dengan jumlah energi yang ada dalam sistem dan di mana energi berada. Sumber utama energi ini adalah matahari.

Cuaca adalah apa yang kita alami dari hari ke hari, atau menit ke menit seperti panas, dingin, kabut, berawan, angin besar, mendung, cerah dan lainnya. Cuaca memiliki karakteristik dapat berubah dengan cepat.

 
Apa Penyebab Cuaca?

Cuaca terjadi karena pemanasan yang tidak merata di atmosfer. Bersumber dari energi matahari. Berikut proses terjadinya cuaca dalam kehidupn sehari-hari:
  • Matahari memanaskan permukaan bumi secara lebih di beberapa tempat dari pada di tempat lainnya. 
  • Dimana itu membuatnya hangat, panas dari matahari menghangatkan udara dekat dengan permukaan. Jika ada air di permukaan, dapat menyebabkan sebagian air menguap. 
  • Udara hangat tersebut kurang padat, sehingga naik ke atas permukaan. Ketika ini terjadi, udara lebih padat mengalir menuju tempat rendah yang ditinggalkan tersebut. Mengalirnya udara permukaan disebut angin. 
  • Udara naik kemudian menjadi lebih dingin saat berjalan lebih tinggi di atmosfer. Menjadi lebih lembab, hingga uap air dapat terbentuk. Membentuk Awan, dan terjadilah curah hujan dilokasi tersebut.

Rabu, 26 Juni 2013

Dahsyatnya Laut Yang Diluapkan

laut 1

TAHU gunung krakatau di selat sunda? Salah satu gunung api yang tumbuh di tengah-tengah lautan. Dan kini muncul lah anak Krakatau yang terus tumbuh setelah meledakannya Krakatau pertama di tahun 1800-an. Anak gunug Krakatau ini pun berkali-kali meletus, menyemburkan material gunung dan debu vulkanik.

Rincian tentang gunung berapi yang tumbuh dilauatan, beberapa tahun lalu para ilmuwan menemukan letusan gunung berapi yang sangat besar di dasar laut, dan mengatakan bahwa gunung berapi ini mengakibatkan celah panjang terletak pada kedalaman 2500 meter di bawah permukaan laut. Layaknya seperti letusan Dasyat sehingga  cairan lava bertumpuk kemudian naik membentuk awan menyala setinggi 250 meter di permukkan laut dan memanaskan air secara dramatis.

Para ilmuwan memastikan bahwa ledakan tersebut terus berulang hingga pada beberapa waktu tertentu, bahkan bagi siapa yang memantau gunung berapi ini beserta letusan gunungnya terasa seperti terbakar di depan laut  yang tidak akan padam.

Terdapat beberapa retakan yang memyelubungi dasar laut dan samudra, dan di dalam laut terdapat celah-celah kerak bumi dan celah dimana Cairan magma memancar keluar dari perut bumi, Jelas keadaan Laut pada saat itu tampak dibakar oleh panas Lava tersebut !  sangat persis dengan apa yang digambarkan dalam Al-Quran, sewaktu Allah Swt Bersumpah dengan Laut-Nya yang terbakar ( menyala), Firman-Nya:

“Demi laut yang penuh gelomban,” [QS. At-Tuur: 6].

Jika benar Al-Quran adalah produk budaya manusia di Zaman munculnya, sejaka empat belas Abad lalu Ummat manusia hanya menyakini berbagai legenda, mitos-mitos yang jauh dari fakta ketika berbica tentang misteri Laut, tetapai kitab suci Al-Quran dengan segala bukti Ilmiah sama sekali bersih dengan hal-hal demikian, tidak lain karena Al-Quran diturunkan oleh Sang Maha Mengetahui.

Terkadang seorang bertanya tentang misteri keberadaan retak tersebut, mengapa Allah Swt menciptakan bumi dengan begitu banyak retakan? Jawabanya adalah jika seandainya bumi ini hanya sebuah planet tanpa retak-retaka maka reaksi panas Bumi akan tertahan di bawah sehingga akan memicu Ledakan besar yang menghacurka pelanet ini.

Maka dari itu mungkin bisa dikatakan bahwa retakan itu adalah celah pernafasan bagi Bumi kita, darinya keluar beban, derajat panas, dan tekanan jika berlebihan. Atau ibarat katup pengaman yang menjaga stabilitas dan keseimbangan bumi.

Sesungguhnya fakta tentang lautan yang diluapkan atau البحر المسجور  sudah diyakini kepastiananya, kita sekarang bisa melihat Lava di dasar Laut yang terpancar dan mengobarkan air Laut. Hakekat ilmiah ini tidaklah diketahui hingga berlalunya bepuluh-puluh Abad setelah diturunkannya Al-Quran. Bagaimana bisa  pengetahuan tersebut ada dalam Quran dan siapakah yang membawanya pada waktu itu?

Adalah Allah Swt yang Maha mengetahui segala yang tersembunyi dan yang memberitahukan kita tentang nyala Api dalam Lautan dan menjelaskan tentang laut di masa depan ketika kobaran api semakin menyala:

“Dan apabila lautan dijadikan meluap,” (QS. At-Takwir: 6).
Kemudian hari di mana Lautan meledak:

“Dan apabila lautan dijadikan meledak,” (QS. Al-Infihaar: 3).

Di sini kita menemukan sebuah metode baru Al-Quran dalam membuktikan fakta-fakta ilmiah di masa depan, sama seperti laut yang kita lihat saat ini yang mana memicu beberapa persen, Akan datang hari dimana perut bumi mengeluarkan semua beban-bebannya dan kemudian meledak, inilah  bukti ilmiah tentang kebenaran hari kiamat.
“Dan bumi mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya,” (QS. Al-Zilzal: 2).
Bebebrapa Gambar yang membuktikan kekuasaan  Allah Swt Sang Maha Penciptaan: bagaimana mungkin keduanya bercampur tanpa air memadamkan api dan api menguap air, namun dua unsur tersebut tetap seimbang, Maha Besar Allah!

Bertumpuknya sisa-sisa lava di permukaan yang membentuk pulau-pulau Vulkanik.
Para Ilmuwan sepakat bahwa terdapat beberapa retak-retak dibagian dasar laut yang dipenuhi dengan bebatuang Magma yang sangat panas, maka dari itu Allah Swt bersumpah bahwa Siksaan Api Neraka-Nya benar-benar nyata:

“Dan laut yang di dalamnya ada api,  sesungguhnya azab Tuhanmu pasti terjadi……” (QS. At-Thuur:6-7).
Diterjemahkan oleh: Khairul Amri H

Referensi:
- http://ahad-ahad.com/printarts?id=316
- http://www.jameataleman.org/main/articles.aspx?article_no=1684
- Kitab Ijazul Ilmy tentang: Laut, Angain, dan Awan, buku kuriklum tahun ke-4 Eman University -cetakan bahasa Arab.

Lihatlah Pemisah Antara Air Tawar dan Asin Di Lautan

batas-laut-tawar-dan-asin2

PERNAHKAH Anda berenang di pinggir laut? Sungguh indah, bukan? Tapi tahukah rahasia laut dan samudera? Cobalah baca dan renungkan firman Allah berikut ini:
“Dan Dialah yang membiarkan dua laut yang mengalir (berdampingan); yang ini tawar lagi segar dan yang lain asin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi.” (QS Al-Furqan : 53)

Kita sudah ketahui bersama bahwa segala sesuatu di alam jagat raya ini memiliki keistimewaan dan ciri khas, bukan hanya terbatas pada makhluk hidup seperti manusia, hewan, dan tumbuhan. Laut dan samudera luas yang terhampar di depan mata kita juga memiliki ciri khas dan sifat yang berbeda.

Para ahli kelautan mengatakan: sifat lautan yang saling bertemu tetapi tidak bercampur satu sama lain karena adanya gaya fisika yang dinamakan “tegangan permukaan”, yaitu air dari laut-laut yang saling bersebelahan tidak menyatu. Akibat adanya perbedaan masa jenis, tegangan permukaan itulah yang mencegah lautan bercampur satu sama lain, seolah terdapat dinding tipis yang memisahkan mereka. (Davis, Richard A., Jr. 1972, Principles of Oceanography, Don Mills, Ontario, Addison-Wesley Publishing, s. 92-93.)

Para oceanographer telah menemukan bahwa ada perbedaan tertentu antara sampel air yang diambil dari berbagai lautan oleh ekspedisi ilmiah kelautan Inggris.
Dalam pelayaran Voyager tahun 1873 diketahui bahwa massa air laut ternyata berbeda dalam komposisinya. Perbedaan itu terletak pada tingkat keasinan air laut, kepekatan, temperatur, dan jenis organismenya. Data tersebut didapatkan dari 362 stasiun oceanography yang tersebar di seluruh dunia. Laporan dari ekspedisi Voyager tersebut berisi 29.500 halaman, yang terbagi dalam 50 jilid dan dikumpulkan selama 23 tahun.
Ekspedisi ini merupakan salah satu ekspedisi eksplorasi ilmiah terbesar yang pernah dilakukan manusia. Ekspedisi ini juga menunjukkan betapa sedikitnya yang diketahui manusia mengenai lautan.

Ilmu pengetahuan modern telah menemukan bahwa di tempat di mana dua lautan bertemu, ada dinding pemisah antar dua air laut tersebut. Dinding pemisah itu membagi dua lautan sehingga masing masing lautan tetap stabil dengan tingkat keasinan, suhu, dan kepekatannya masing masing. Contohnya, laut Mediterania adalah lautan yang suhunya hangat, asin, dan tingkat kepekatannya lebih rendah dibanding air dari samudera Atlantik. Ketika air dari Laut Mediterania memasuki Samudera Atlantik melalui Selat Gibraltar, air ini masuk hingga ratusan kilometer jauhnya pada kedalaman sekitar 1000 M, namun tetap pada suhu, kepekatan, dan tingkat keasinannya sendiri yang berbeda dari karakteristik yang dimiliki oleh air dari Samudera Atlantik.

Sebuah studi lapangan juga pernah dilakukan di teluk Oman dan di beberapa teluk di Arab. Dari sampel air laut tersebut ditemukan adanya perbedaan yang mengindikasikan kebenaran temuan sebelumnya.

Oceanographer terkenal dari Perancis, J.Costeau menyatakan:
“Kami mempelajari beberapa pernyataan dari para oceanographer sebelumnya mengenai penghalang antara dua lautan, kami melakukan penyelidikan pada Laut Mediterania. Kami menemukan bahwa lautan tersebut memiliki tingkat keasinannya sendiri, dan tingkat kepekatan, serta flora dan fauna yang berbeda dengan air dari lautan Atlantik. Kemudian, kami meneliti Laut Atlantik dan menemukan bahwa lautan ini memiliki tingkat keasinan dan kepekatan serta flora dan faunanya sendiri yang berbeda dari Laut Mediterania. Dan kami kemudian meneliti titik pertemuan kedua lautan tersebut di Selat Gibraltar, kami mengharapkan akan menemukan tingkat keasinan dan kepekatan yang menyatu antara dua air lautan tersebut, tapi kami menemukan bahwa ternyata, masing masing air lautan tersebut masih memiliki tingkat karakteristiknya masing masing, seolah ada dinding yang membatasi mereka. Hal ini mengejutkan kami, penghalang ini mencegah dua lautan bercampur. Hal yang sama juga terjadi pada Teluk Bab El Mandab di Aden yang merupakan pertemuan dengan Laut Merah.

Menurut kesimpulan kami, hasil penelitian para oceanographer terdahulu ternyata benar. Laut yang memilki karakteristik tertentu memiliki dinding pembatas (barrier) yang mencegah bercampurnya air dari dari dua karakteristik yang berbeda tersebut.

Sisi menarik dari hal ini adalah bahwa pada masa ketika manusia tidak memiliki pengetahuan apapun mengenai fisika, tegangan permukaan, atau pun ilmu kelautan, hal ini telah dinyatakan dalam Al-Qur’an sejak 14 abad yang lalu.

Subhanallah…

Sabtu, 15 Juni 2013

Misteri Mengapa Langit Berwarna Biru

Gambar

Warna biru tampak indah dilangit pada siang hari disaat terik matahari menyinari permukaan bumi yang tampak seperti kelereng biru bila dilihat dari luar angkasa.

Saat malam menjelang pun, disaat cahaya bulan menyinari permukaan bumi, warna langit itupun terlihat tampak seperti warna langit di siang hari yaitu warna biru.

Sebuah pertanyaan muncul, mengapa warna langit itu biru? Apakah tercipta dari pantulan warna samudera di seluruh permukaan bumi ataukah warna biru itu merupakan warna yang muncul akibat cahaya matahari?

Gelombang Cahaya



Isaac-Newton-dan-PrismaGelombang cahaya yang tampak merupakan contoh dari salah satu gelombang elektromagnetik.

Cahaya yang tampak dan bersumber dari matahari sejatinya bukanlah gelombang cahaya yang terdiri hanya dari satu gelombang warna saja.

Cahaya matahari terdiri dari banyak gelombang dalam kumpulan cahaya, namun jika cahaya menyatu maka yang tampak hanya berwarna putih terang seperti cahaya matahari tersebut.

Sir Isaac Newton untuk pertama kalinya menguji coba seberkas cahaya tampak yang berasal dari matahari dilewatkan pada sebuah prisma kaca.

Hasilnya seberkas cahaya matahari melewati prisma dan terbias melebar, lalu beberapa warna terlihat akibat hamburan cahaya dari prisma tersebut.

Ternyata cahaya dapat terhambur (spectrum) oleh prisma kaca dan membuktikan bahwa cahaya putih ternyata terdiri dari beberapa macam warna seperti ungu, biru, hijau, kuning, orange dan merah.

Urutan cahaya tergantung dari besar kecilnya gelombang tersebut, biasanya akan berurutan dari merah, oranye (jingga), kuning, hijau, biru, nila (indigo) dan ungu atau dalam pelajaran sekolah dulu, sering disingkat agar mudah diingat, menjadi : MEJIKU-HIBINIU.

 

Dibawah warna merah, warna tersebut mulai tak terlihat oleh mata manusia dan disebut sebagai cahaya yang “lebih rendah dari warna merah” atau Infra Merah (Infra Red).

Dan diatas warna ungu juga demikian, warna tersebut mulai tak terlihat oleh mata manusia dan disebut sebagai cahaya “lebih tinggi dari warna ungu” atau Ultra Ungu (Ultra Violet)

Ketika Cahaya Matahari Bertemu Atmosfir

Mengacu pada langit yang menjadi biru akibat cahaya matahari, maka sebelum cahaya matahari menjangkau permukaan bumi, langkah pertama yang harus dilalui oleh cahaya matahari tersebut adalah melewati lapisan udara tak kasat mata atau yang terkenal dengan istilah Atmosfer.

Diluar angkasa, cahaya matahari yang pada awalnya tidak berinteraksi dengan media apapun saat memasuki atmosfer mulai berinteraksi dengan molekul molekul udara yang dapat menyebabkannya terhambur ke segala arah.


Hamburan ini terkenal dengan istilah hamburan Rayleigh. Hamburan Rayleigh merupakan hamburan elastis gelombang elektromagnetik (termasuk cahaya) yang disebabkan saat seberkas cahaya melewati partikel dimana panjang gelombang cahaya lebih panjang dari pada panjang gelombang partikel yang dilewatinya.

Pada kenyataannya, saat matahari melewati lapisan udara atau atmosfer, panjang molekul-molekul udara seribu kali lebih kecil dari pada panjang gelombang cahaya matahari itu sendiri.

Sehingga hal ini menyebabkan cahaya matahari terhambur menjadi beberapa macam gelombang warna seperti ungu, biru, hijau, kuning, orange dan merah.

Warna Biru Adalah Hamburan Spektrum Warna Terkuat

Hamburan warna biru merupakan hamburan warna terkuat atau setidaknya empat kali lebih kuat daripada hamburan warna-warna lainnya. Langit yang tampak biru tak lain merupakan hasil dari hamburan gelombang cahaya matahari yang didominasi oleh hamburan gelombang cahaya warna biru.

Warna langit biru yang didominasi oleh hamburan warna biru dari cahaya matahari. Sejatinya langit tidaklah memiliki warna, dan warna yang tercipta merupakan warna yang terjadi akibat hamburan dari cahaya matahari.

Saat malam pun juga demikian. Warna biru yang muncul saat bulan purnama atau saat bulan menyinari bumi adalah sebagai akibat dari terhamburnya cahaya matahari oleh molekul udara yang kemudian warna langit didominasi oleh warna biru.

sumber: http://indocropcircles.wordpress.com

Minggu, 05 Mei 2013

Gerhana Matahari Cincin Akan Terjadi pada 9-10 Mei 2013


Pihak BMKG mengatakan akan terjadi gerhana matahari cincin di Indonesia. Melalui situs resminya, BMKG mengumumkan bahwa akan terjadi Gerhana Matahari Cincin (GMC) yang diperkirakan akan terjadi pada 9-10 Mei 2013. Menurut BMKG, Gerhana Matahari Cincin tersebut dapat diamati dari Samudra Pasifik, Australia, Singapura, Indonesia (kecuali Sumatera bagian Utara), dan Filipina bagian Selatan.

Wilayah Australia dan Samudera Pasifik akan mengalami Gerhana Matahari Cincin. Sementara di Indonesia kecuali Sumatera bagian Utara, akan berupa Gerhana Matahari Sebagian (GMS) pada 10 Mei 2013 yang dapat disaksikan pada pagi hari.

BMKG juga menjelaskan bahwa untuk setiap fase di setiap lokasi bisa berbeda dengan waktu-waktu tersebut. Hal tersebut tergantung pada posisi lokasi pengamat di permukaan Bumi dan posisi Bulan dan Matahari nisbi terhadap posisi pengamat.

Di Indonesia sendiri, gerhana mulai dapat terlihat di Kupang, Manado, Ternate, Ambon, Sorong, Manokwari, Merauke dan Jayapura. Selain Kupang dan Manado, masyarakat di enam daerah lainnya beruntung bisa menyaksikan puncak gerhana hingga gerhana berakhir. Puncak gerhana juga bisa di Surabaya, Pontianak, Palangka Raya, Banjarmasin, Samarinda, Denpasar, Mataram, Kupang, Manado, Kendari, Palu, Makassar.

Sedangkan gerhana berakhir bisa dilihat dari Padang, Pekanbaru, Jambi, Bengkulu, Palembang, Bandar Lampung, Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Pontianak, Palangka Raya, Banjarmasin, Samarinda, Denpasar, Mataram, Kupang, Manado, Kendari, Palu, dan Makassar.

Gerhana Matahari adalah peristiwa ketika terhalanginya cahaya matahari oleh bulan, sehingga tidak semuanya sampai ke Bumi. Peristiwa yang merupakan salah satu akibat dinamisnya pergerakan posisi matahari, Bumi dan bulan ini hanya terjadi pada saat fase bulan baru dan dapat diprediksi sebelumnya. Pada 2013 ini, BMKG telah diprediksikan terjadi lima kali gerhana, yaitu dua kali Gerhana Matahari dan tiga kali Gerhana Bulan.

Gerhana Matahari tersebut adalah berupa Gerhana Matahari Cincin (GMC) yang terjadi pada 9-10 Mei 2013 dan Matahari Cincin (GMC) yang terjadi pada tanggal 3 November 2013. Adapun Gerhana Bulan yang terjadi adalah Gerhana Bulan Sebagian yang terjadi pada tanggal 25 April 2013, Gerhana Bulan Panumbra tanggal 25 Mei 2013 dan Gerhana Bulan Penumbra yang terjadi pada tanggal 18-19 Oktober 2013.

Minggu, 13 Januari 2013

10 Keajaiban Alam Paling Populer Di Dunia

10 Keajaiban Alam Paling Populer Di Dunia
 
Berikut ini adalah 10 Keajaiban Alam Paling Populer Di Dunia
 
1. Chocolate Hills (Filipina)
Terdiri dari sekitar 1.268 bukit-bukit berbentuk kerucut yang mempunyai ukuran yang sama, luas lebih dari 50 kilometer persegi (20 mil persegi), formasi geologi ini sangat tidak biasa, yang disebut Chocolate Hills, terletak di Bohol, Filipina. Ada beberapa hipotesis tentang pembentukan perbukitan.

Perbukitan ini termasuk pelapukan kapur sederhana, vulkanisme sub-laut, yang mengangkat dari dasar laut dan sebuah teori yang baru yang menyatakan bahwa merupakan sebuah gunung berapi kuno yang aktif hancur, kemudian memuntahkan batu besar yang kemudian ditutup dengan batu kapur dan kemudian terdorong keluar dari dasar laut.

2. Wave Rock (Australia)
The Rock Wave adalah formasi batuan alam yang terletak di Australia Barat. Seperti namanya batu ini berbentuk seperti gelombang laut melanggar tinggi. Luasnya mencakup beberapa hektar; Wave Rock ini mempunyai tinggi sekitar 15 meter dan panjang sekitar 110 meter. 
Salah satu aspek dari Wave Rock jarang ditampilkan pada foto adalah penahan dinding sekitar setengah batu itu. Ini mengikuti kontur dan memungkinkan air hujan akan dikumpulkan dalam sebuah bendungan. Ini dibangun pada tahun 1951 oleh Departemen Pekerjaan Umum.

3. Hell Gate (Uzbekistan)
Dipanggil oleh penduduk setempat Pintu ke Neraka, tempat ini di Uzbekistan terletak di dekat kota kecil Darvaz. Ketika ahli geologi yang melakukan pengeboran untuk gas, 35 tahun yang lalu, tiba-tiba mereka menemukan sebuah gua bawah tanah yang begitu besar. 
Tak ada yang berani ke sana karena gua itu penuh dengan gas, sehingga mereka menyulutnya sehingga tidak ada gas beracun bisa keluar dari lubang, dan sejak itu, telah terbakar. Tidak ada yang tahu berapa banyak ton gas yang sangat bagus ini terbakar selama bertahun-tahun, namun sepertinya menjadi tak terbatas.

4. Giants Causeway (Irlandia)
Luas sekitar 40.000 kolom saling basal, yang Giants Causeway adalah hasil dari sebuah letusan vulkanis kuno. Terletak di pantai utara-timur Irlandia Utara, sebagian besar kolom berbentuk heksagonal, meskipun ada juga berbentuk segi empat, segi lima, segi tujuh dan segi delapa. 
Yang tertinggi sekitar 12 meter (36 kaki) tinggi, dan lava mengeras di tebing setebal 28 meter di beberapa tempat. Dalam sebuah jajak pendapat 2005 dari pembaca Radio Times, jalan lintas itu bernama sebagai keajaiban alam keempat terbesar di Britania Raya.

5. Blue Lake Cave (Brazil)
Mato Grosso melakukan wilayah Sul di Brasil (dan khususnya kota yang tenang Bonito) menawarkan banyak danau bawah tanah yang mengagumkan: "Gruta do Lago Azul".
Dunia yang terkenal "Gruta do Lago Azul” (Blue Lake Cave) adalah monumen alam yang interior dibentuk oleh stalaktit, stalagmit dan sebuah danau biru besar dan indah dari danau ini. Sesuatu yang mengesankan. The Blue Lake Wave memiliki berbagai formasi geologi dan sangat mengesankan terutama untuk air berwarna biru di dalamnya.

6. Eye of the Sahara (Mauritania)
Bentuklahan ini spektakuler di Mauritania di bagian barat daya dari gurun Sahara yang begitu besar dengan diameter 30 mil yang terlihat dari ruang angkasa. 
Struktur Richat disebut - atau Mata Sahara - formasi ini awalnya dianggap disebabkan oleh tabrakan meteorit tapi sekarang ahli geologi percaya merupakan produk dari pengangkatan dan erosi. Penyebab bentuk lingkaran masih misteri sampai sekarang.

7. Crystal Cave of the Giants (Mexico)
Ditemukan jauh di dalam sebuah tambang di Meksiko Chihuahua selatan, kristal ini terbentuk di dalam sebuah gua alam benar-benar tertutup dalam batuan dasar. Gua yang penuh kristal spektakuler setinggi pohon pinus, dan dalam beberapa kasus yang lebih besar dalam lingkaran, warna mereka seperti emas dan perak yang tembus pandang dan mempunyai bentuk luar biasa. 
Gua Kristal Giants ditemukan dalam tubuh batu gamping yang sama. Bijih perak-seng-timbal tubuh dieksploitasi oleh tambang dan mungkin dibubarkan oleh cairan hidrotermal yang sama yang didepositkan logam dengan gipsum yang sedang mengkristal selama tahap berkurang mineralisasi.

8. Great Blue Hole (Belize)
Bagian dari Lighthouse Reef System, The Great Blue Hole terletak sekitar 60 mil dari luar daratan Belize City. A, lubang besar hampir sempurna melingkar sekitar satu seperempat mil (0,4 km) di, itu salah satu tempat menyelam yang paling mengejutkan yang akan ditemukan di manapun di bumi. 
Di dalam lubang ini, air adalah 480 kaki (145 m) dalam dan itu adalah kedalaman air yang memberikan warna biru tua yang menyebabkan struktur seperti di seluruh dunia dikenal sebagai "lubang biru."

9. Antelope Canyon (Arizona - USA)
Yang paling sering dikunjungi dan difoto ngarai di Southwest Amerika, Antelope Canyon terletak di atas tanah Navajo dekat Page, Arizona. 
Ngarai ini termasuk dua yang terpisah, bagian slot fotogenik ngarai, disebut sebagai Upper individual Antelope Canyon - atau "Crack" - dan Hilir Antelope Canyon - atau "pembuka botol."

Nama Navajo untuk Upper Antelope Canyon adalah bighanilini Tse ', yang berarti "tempat di mana air mengalir melalui batu-batu." Antelope Canyon adalah lebih rendah Hasdestwazi, atau "spiral lengkungan batu." Keduanya terletak dalam Bab LeChee Bangsa Navajo.

10. The Wave (antara Arizona dan Utah - USA)
J-rock cantik merah di perbatasan Arizona dan Utah, The Wave terbuat dari gundukan pasir 190-juta tahun yang telah berubah menjadi batu. 


Formasi ini tidak banyak diketahui hanya dapat diakses dengan berjalan kaki melalui kenaikan tiga mil dan sangat diatur.
 
Nah, itulah 10 Keajaiban Alam Paling Populer Di Dunia semoga menambah wawasan anda tentang artikel 10 Keajaiban Alam Paling Populer Di Dunia

sumber: terselubung

Minggu, 18 November 2012

7 Keajaiban Alam Indonesia Yang Tidak Di Miliki Negara Lain

7 Keajaiban Alam Indonesia Yang Tidak Di Miliki Negara Lain
Alam Indonesia
7 Keajaiban Alam Indonesia Yang Tidak Di Miliki Negara Lain - Alam Indonesia dikenal memiliki keindahan Alam yang sangat luar biasa keindahan alam Indonesia bahkan tidak bisa disaingi oleh keindahan alam yang ada di negara lain di luar Indonesia hal ini lah yang membuat paraa wisatawan asing tertarik untuk berkunjung ke Indonesia nah berikut ini ada 7 Keajaiban Alam Indonesia Yang Tidak Dimiliki Negara Lain yang harus kamu ketahui seperti dikutip dari detik.com.
1. Ubur-ubur yang tidak menyengat, Danau Kakaban, Kaltim
keajaiban dari Danau Kakaban ini adalah adanya ubur-ubur yang tidak menyengat yang tinggal di bawah airnya. Ajaibnya, ubur-ubur seperti ini hanya terdapat di dua tempat di dunia, yaitu di Danau Kakaban dan Jellyfish Lake di Palau, Micronesia di kawasan tenggara Laut Pasifik. Anda bisa berenang dan menyelam ke dasar danaunya untuk bertemu ubur-ubur unik ini.
Pulau Kakaban adalah salah satu dari total 31 pulau yang tergabung dalam Kepulauan Derawan, Kalimantan Timur. Danau Kakaban di pulau ini diklaim sebagai danau ubur-ubur terbesar di dunia. Sebabnya, terdapat 4 jenis ubur-ubur di danau ini, yaitu ubur-ubur bulan, ubur-ubur totol, ubur-ubur kotak, dan ubur-ubur terbalik. Sedangkan Jellyfish Lake di Palau hanya memiliki dua jenis ubur-ubur saja. Wow!
Danau Kakaban sendiri memiliki tekstur yang unik. Danau ini terbentuk akibat karang yang naik di atas permukaan laut dengan ketinggian hingga 50 meter. Kemudian, karang ini membuat sejumlah air terperangkap, dan terbentuklah danau.
2. Garam di atas gunung, Gunung Krayan, Kaltim
Masih di Kaltim, satu lagi keajaiban di sini adalah terdapat garam di atas gunung. Garam tersebut berada dalam sumur di Desa Long Midang, Gunung Krayan yang berjarak 100 km dari laut di ketinggian 2.400 mdpl. Ajaib!
Garam gunung yang dihasilkan di Krayan memiliki penampilan yang sama dengan garam laut, yaitu seperti pasir dan berwarna putih. Tetapi, ternyata garam gunung memiliki kandungan yodium yang lebih tinggi dibanding garam laut lho!
Proses pembuatan garam ini pun berbeda dengan garam laut. Bahan dasar berupa air sumur di Desa Long Midang, direbus satu malam hingga air mengering. Setelah kering, tertinggalkan butiran kristal yang merupakan garam basah lalu garam basah ini dimasukkan ke dalam batang bambu dan dibakar hingga bambu habis terbakar api. Sisa bakaran inilah yang merupakan garam kering yang kemudian dibungkus daun dan siap dijual.
3. Fosil penyu dan batu karang, Gua Batu Cermin, Manggarai Barat, NTT
Selain komodo, Gua Batu Cermin merupakan keajaiban dari NTT. Sebabnya, di dalam gua ini terdapat gugusan batu karang dan fosil penyu di dinding guanya. Gua Batu Cermin berada di Kampung Wae Kesambi, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, Flores Barat, NTT.
Untuk melihat keajaiban ini, Anda harus menelusuri gua sepanjang ratusan meter. Selain itu, kilauan staklatit dan staglagmit di gua ini juga unik. Tak heran, gua ini selalu menjadi agenda wajib saat berkunjung ke Flores.
Fosil penyunya dapat Anda lihat dengan menggunakan senter karena gelapnya suasana di dalam gua. Gugusan batu karang pun terlihat jelas, seperti batu karang yang ada di bawah lautan. Oleh sebab itu, batu-batu karang dan penyu yang seharusnya berada di bawah lautan, mengapa bisa berada di dalam gua di atas daratan? Inilah tanda tanya besar sekaligus menjadi keajaiban alam.
4. Pasir pantai merah muda, Pulau Komodo, NTT
Jika pantai biasanya berpasir putih atau hitam, maka pantai ini mempunyai pasir yang berwarna pink. Datanglah ke Pink Beach di Pulau Komodo. Pantai ini letaknya ada di balik bukit, sehingga sepi dan terpencil. Air laut di sekitar pantainya sangat biru jernih dan menggoda untuk diving atau snorkeling.
Warna pink di pantai ini akan terlihat lebih pekat dibanding pasir yang masih kering. Warna pinknya merupakan komposisi dari koral, pecahan kerang dan kalsium karbonat dari biota laut yang ada di sana.
Anda bisa menuju Pink Beach dari Labuan Bajo. Bersantai di pantai berenang di lautan, atau sekedar berfoto-foto di pantai yang merupakan salah satu keajaiban Indonesia ini akan menjadi pengalaman yang tak terlupakan.
5. Danau tiga warna, Ende, NTT
Satu lagi keajaiban dari Flores, yaitu Danau Kelimutu yang mempunyai tiga warna. Hitam, biru tua, dan biru, adalah tiga warna dari danau ini yang terletak di Kecamatan Kelimutu, Ende, NTT. Tak hanya wisatawan dalam negeri saja, danau ini sudah memesona hingga ke traveler mancanegara.
Keajaiban dari ketiga danau ini adalah dapat berubah warna. Bila beruntung, Anda dapat melihat warna-warna yang berubah warna, seperti warna merah menjadi hijau, dari hijau muda menjadi hijau keputih-putihan, dan lainnya. Hal ini disebabkan oleh faktor kandungan mineral, lumut dan batu-batuan di dalam kawah dan juga pengaruh cahaya Matahari.
Selain itu, masyarakat sekitar percaya bahwa perubahan warna tersebut mengandung ‘pesan’ tersendiri. Meski demikian, perjalanan menuju ke Danau kelimutu tidaklah mudah. Anda harus berjalan sepanjang 3 kilometer dan melewati 236 anak tangga untuk mencapai Puncak Kelimutu. Dari sinilah, ada keindahan dan keajaiban alam yang sangat menawan.
6. Air panas di pinggir pantai, Tidore
Pemandian air panas di kolam atau gunung, sudah biasa. Akan tetapi, di Pantai Akesahu, Tidore, Maluku Utara, terdapat pemandian air panas di pinggir pantai. Benar-benar di pinggir pantai dan di depan Anda adalah lautan. Ajaib!
Air panas Akesahu terletak sekitar 30 menit dari dari Pelabuhan Rum, pelabuhan utama di Tidore. Ajaibnya, walaupun terletak di pinggir pantai, air panas ini rasanya tawar. Ditambah dengan pepohonan rindang dan pasir pantai yang halus, mandi air panas di tempat ini benar-benar berbeda dari biasanya.
Air panas ini berasal dari sumber air panas yang terletak di dekat pantai. Merendamkan diri di air panasnya sambil menikmati suasana pantai sangatlah menyenangkan. Cukup dengan biaya Rp 2.000 saja, Anda dapat menikmati keajaiban alam ini.
7. Pasir putih di bukit Lembah Baliem, Papua
Jika selama ini Anda menggangap pasir putih hanya ada di pantai saja, maka datanglah ke Desa Aikima di Lembah Baliem, Kabupaten Jayawijaya, Papua. Di sana terdapat pasir putih yang berada di atas bukit dan berjarak ratusan kilometer dari pantai. Wow!
Anda harus mendaki bukit untuk melihat pasir putihnya dari dekat. Dari kejauhan saja, hamparan pasir putihnya sudah terlihat jelas. Warnanya mencolok dengan latar gunung hijau dan langit yang biru. Pasir itu seakan mengalir dari atas bukit. Putih dan bersih, memantulkan cahaya matahari hingga tampak bak kristal.
Berdasarkan sains, pasir putih ini ada karena bentukan alam. Dulu, Lembah Baliem adalah sebuah danau raksasa bernama Wio. Sekitar tahun 1813, terjadi gempa yang menyebabkan pergeseran dan perubahan geologi. Dari situ terbentuk pula Sungai Baliem yang meliuk di tengah lembah ini. Konon, pasir putih Desa Aikima adalah salah satu sisi danau purba tersebut.