Tampilkan postingan dengan label agama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label agama. Tampilkan semua postingan

Selasa, 31 Desember 2013

Studi: Berdoa Dapat Tingkatkan Kontrol Diri

Evan Dimas berdoa usai mencetak gol ke gawang Laos [foto ilustrasi]

Sebagian orang percaya, doa memiliki kekuatan untuk membantu kita agar tetap optimistis dan yakin menjalani kehidupan.

Bahkan, studi terbaru dari peneliti psikologi Jerman menemukan bahwa doa bisa membantu orang untuk mempertahankan pengendalian diri.

Dilansir Daily Mail, peneliti dari Saarland University dan University of Mannheim Jerman mengatakan berdoa sangat membantu orang dalam mengendalikan emosi dan perilaku sehari-hari.

Temuan peneliti Jerman itu berbeda dengan studi sebelumnya yang mengatakan orang yang berusaha keras mengendalikan emosi dan pikiran, maka sangat berisiko mengalami ledakan agresif dalam bentuk lain, misalnya meminum minuman keras atau nafsu makan bertambah.

"Waktu singkat seorang untuk berdoa dapat mengurangi dampak pengikisan kontrol diri," tulis tim peneliti dalam jurnal online, Journal of Experimental Social Psychology. Peneliti mengatakan berdoa berdampak positif bagi kinerja.

"Hasil tersebut konsisten dan berkontribusi dengan pertumbuhan kinerja. Itu membuktikan dampak menguntungkan berdoa pada pengendalian diri," kata peneliti.

Dalam studi dampak doa itu, peneliti melibatkan 79 orang, yang mana 41 di antaranya penganut Kristen, 14 atheis, 10 agnostik, dan 14 orang penganut agama lain.

Masing-masing peserta studi itu ditinggalkan sendirian selama lima menit dan diberikan pilihan, berdoa atau berpikir bebas seintens mungkin.

Setelah itu, peserta studi menonton klip film lucu yang mana setengahnya diminta untuk beraksi normal. Sementara setengah lainnya diminta untuk mengendalikan emosi dan reaksi wajah mereka.

Hasil dari itu kemudian diuji dalam tes Stroop, yaitu sebuah tes untuk menilai emosi seseorang.

Dalam penilaian, peserta diminta merespons warna yang ditampilkan bukan merespon kata-kata yang tertulis. Ini merupakan cara untuk mengukur pengendalian diri.

Hasilnya, peserta yang berpikir bebas, tak berdoa ditemukan berjuang keras untuk menyelesaikan tes Stroop.

Namun sebaliknya, peserta yang di awal berdoa, pada akhir uji coba memiliki pengendalian diri yang tinggi. Peneliti juga menambahkan peserta yang berdoa ternyata sama berusaha kerasnya menekan emosi selama pemutaran klip film

Senin, 12 Agustus 2013

Mengungkap Doktrin Mistisisme dan New Age Movement dalam Film Life of Pi

Life of Pi 3D poster

Diadaptasi dari novel karya Yann Martel, penulis berkebangsaan Kanada. Life of Pi diproduksi dengan estimasi budget sebesar seratus dua puluh juta dollar AS berhasil menyabet empat piala Oscar dari sebelas nominasi. Film ini banyak dipuji bukan hanya karena visual effect nya yang memukau, tapi juga karena alur cerita yang unik dan menyentuh.

Plot
Life Of Pi bertutur mengenai seorang penulis atheis yang karena kebingunan setelah merasa gagal dalam karya tulisnya dipertemukan dengan seseorang bernama Piscine Molitor Patel atau biasa dipanggil “Pi”. Demi membantu sang penulis dari kehilangan ide untuk menulis, Pi menuturkan kisah hidupnya yang unik sekaligus dipercaya dapat membuat sang penulis merubah opininya tentang keberadaan tuhan.

Lahir dari orang tua dengan pola fikir renaissance a la India (ayahnya penderita polio yang berhasil sembuh karena ilmu kedokteran barat dan bukan berdo’a di kuil, sedangkan ibunya seorang botanist yang dikucilkan keluarga karena pemikiran “revolusioner”nya), Pi kecil pertama kali mengenal tuhan lewat agama Hindu dengan Wisnu sebagai sosok sentralnya, dan ketika menginjak remaja ia mengenal welas asih dalam Kristen dan persaudaraan serta ketaatan dalam Islam.

Pi Patel            : Faith is a house with many rooms
Penulis            : But no room for doubt?
Pi Patel           : Oh plenty, on every floor. Doubt is useful, it keeps faith a living thing. After all,  you cannot know the strength of your faith until it is tested.

Ketika usianya menginjak enam belas tahun, Ayah Pi memutuskan untuk pindah ke Kanada dan menjual hewan-hewan yang ada di kebun binatang miliknya disana. Naas, badai menerpa dan menenggelamkan kapal kargo yang ditumpangi Pi sekeluarga beserta hewan-hewan yang ayahnya bawa. Pi dan beberapa hewan selamat menggunakan sekoci, melewati moment bertahan hidup selama 227 hari ditengah lautan yang kemudian hanya berteman dengan seekor harimau Bengal, hingga kemudian terdampar di lepas pantai Meksiko dan diselamatkan penduduk lokal.

Dalam sesi pemulihan di rumah sakit setempat, Pi, sebagai satu-satunya korban selamat menjalani interview dengan dua orang perwakilan dari perusahaan asuransi terkait tenggelamnya kapal kargo yang ditumpangi Pi sekeluarga. Pi menceritakan semua hal yang ia lalui termasuk perjuangan hidupnya selama 227 hari ditengah lautan bersama seekor harimau. Merasa tidak percaya dengan tutur cerita Pi,  para investigator meminta cerita yang “lebih masuk akal”. Pi pun menuturkan cerita yang lebih sederhana dengan memetaforkan hewan-hewan yang selamat naik ke sekoci dengan personifikasi manusia.

Pi Patel           : Can I ask you something? I’ve told you two stories about what happened out on the ocean. Neither explains what caused the sinking of the ship, and no one can  prove which story is true and which is not. In both stories, the ship sink, my family dies, and I suffer

Penulis            : True
Pi Patel           : So which story do you prefer?
Penulis           : The one with the tiger. That’s the better story
Pi Patel           : Thank you, and so it goes with God

New Age Movement, Mistisisme dan Tuhan
Baik novel maupun adaptasi filmnya, Life Of Pi adalah metaphor sederhana dari pengalaman barat dalam pencariannya akan tuhan. Kedua orang tua Pi betul-betul menunjukkan personifikasi dari barat renaissance yang kecewa terhadap agama dan tuhan yang kemudian menggantinya dengan ilmu pengetahuan dan sains, tapi kemudian gagal secara utuh mewariskan nilai-nilai renaissance tersebut kepada penerusnya.

Ayah Pi           : I much rather have you believe in something I don’t agree with than to accept everything blindly, and that begin with thinking rationally

Tidak ada penjelasan yang paling gamblang mengenai ketertarikan Pi di usianya yang masih sangat muda (empat belas tahun) terhadap agama dan tuhan kecuali bahwa ia adalah personifikasi dari kegelisahan barat yang kehilangan tuhan lewat gerakan new age movement nya. Ini dapat dilihat dari citra perenialisme yang kuat dibawakan oleh Pi lewat caranya mengasimilasi tiga agama (Hindu, Kristen, dan Islam) dengan berasaskan “kecintaan pada tuhan”. Dan sebagaimana gerakan New Age, Pi mencari tuhan lewat sumber-sumber “alternative” seperti pengalaman-pengalaman mistik-spiritual sebagaimana yang digambarkan lewat perjuangan hidupnya selama di lautan lepas bersama seekor harimau buas.

Sejenak kisah Pi memang sangat menggugah, penuh inspirasi dan romantisme yang memungkinkan pemirsanya untuk menitikkan air mata, tapi apakah kemudian pencarian “tuhan” selesai lewat sekedar ketergugahan hati dan tangis haru?.

Alih-alih menemukan tuhan lewat jalan-jalan mistik spiritual, baik Pi maupun New Age movement terjebak
dalam kabut kerancuan bernama “penafsiran bebas” yang tidak terikat pada apapun. Ini dapat kita lihat pada penghujung film dimana Pi menuturkan dua buah kisah berbeda mengenai bagaimana ia bertahan hidup, dan sang penulis memilih cerita yang lebih “menakjubkan” walau sulit dipercaya daripada cerita yang lebih masuk akal akan tetapi suram dan menyedihkan. “And so it goes with God” timpal Pi dengan entengnya.

“It was my first clue that atheists are my brothers and sisters of a different faith. Like me, they go as far as the legs of reason will carry them – and then they leap. I’ll be honest about it. It is not atheists who get stuck in my craw, but agnostics. Doubt is useful for awhile. We must all pass through the garden of Gethsemane. If Christ played with doubt, so must we. If Christ spent an anguished night in prayer, if He burst out from the Cross, “My God, my God, why have you forsaken me?” then surely we are also permitted doubt. But we must move on. To choose doubt as a philosophy of life is akin to choosing immobility as a means of transportation.”

- Life Of Pi (Novel) 

Jika kita merujuk langsung ke novel Life Of Pi, kontradiksinya menjadi semakin terasa ketika Pi secara terbuka mengkritik kaum agnostic dikarenakan besarnya keragu-raguan mereka, yang tanpa disadari sebenarnya pola fikir seperti Pi lah yang melahirkan keragu-raguan agnostic tersebut.

Alhamdulillah, kita sebagai seorang muslim diberikan ajaran yang lengkap dan sempurna sehingga tidak perlu untuk meraba-raba dalam spekulasi liar akan makna dan arti Tuhan. Seringkali orang tergoda untuk mengusik sisi-sisi ghaib ketuhanan, tanpa sadar bahwa ia hanyalah sekedar hamba dengan sejuta keterbatasan.
Wallahu ‘a’lamu bisshowwab

Sabtu, 20 Juli 2013

Agama bukan lah sebuah mitos untuk di dongengkan


Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada? Apakah kejahatan itu ada? Apakah Tuhan menciptakan kejahatan? Seorang Profesor dari sebuah universitas terkenal menantang mahasiswa-mahasiswa nya dengan pertanyaan ini.

"Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada?".

Seorang mahasiswa dengan berani menjawab, "Betul, Dia yang menciptakan semuanya".

"Tuhan menciptakan semuanya?" Tanya professor sekali lagi.

"Ya, Pak, semuanya" kata mahasiswa tersebut.

Profesor itu menjawab,
"Jika Tuhan menciptakan segalanya, berarti Tuhan menciptakan kejahatan. Karena kejahatan itu ada, dan menurut prinsip kita bahwa pekerjaan kita menjelaskan siapa kita, jadi kita bisa berasumsi bahwa Tuhan itu adalah kejahatan."

Mahasiswa itu terdiam dan tidak bisa menjawab hipotesis professor tersebut.

Profesor itu merasa menang dan menyombongkan diri bahwa sekali lagi dia telah membuktikan kalau agama itu adalah sebuah mitos.

Mahasiswa lain mengangkat tangan dan berkata, "Profesor, boleh saya bertanya sesuatu?"

"Tentu saja," jawab si Profesor

Mahasiswa itu berdiri dan bertanya, "Profesor, apakah dingin itu ada?"

"Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja dingin itu ada. Apakah kamu tidak pernah sakit flu?" Tanya si professor diiringi tawa mahasiswa lainnya.

Mahasiswa itu menjawab,
"Kenyataannya, Pak, dingin itu tidak ada. Menurut hukum fisika, yang kita anggap dingin itu adalah ketiadaan panas. Suhu -460F adalah ketiadaan panas sama sekali. Dan semua partikel menjadi diam dan tidak bisa bereaksi pada suhu tersebut. Kita menciptakan kata dingin untuk mendeskripsikan ketiadaan panas."

Mahasiswa itu melanjutkan, "Profesor, apakah gelap itu ada?"
Profesor itu menjawab, "Tentu saja gelap itu ada."

Mahasiswa itu menjawab,
"Sekali lagi anda salah, Pak.Gelap itu juga tidak ada. Gelap adalah keadaan dimana tidak ada cahaya. Cahaya bisa kita pelajari, gelap tidak."

"Kita bisa menggunakan prisma Newton untuk memecahkan cahaya menjadi beberapa warna dan mempelajari berbagai panjang gelombang setiap warna."

"Tapi Anda tidak bisa mengukur gelap. Seberapa gelap suatu ruangan diukur dengan berapa intensitas cahaya di ruangan tersebut. Kata gelap dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan cahaya."

Akhirnya mahasiswa itu bertanya, "Profesor, apakah kejahatan itu ada?"

Dengan bimbang professor itu menjawab,
"Tentu saja, seperti yang telah kukatakan sebelumnya. Kita melihat setiap hari di Koran dan TV. Banyak perkara kriminal dan kekerasan di antara manusia. Perkara-perkara tersebut adalah manifestasi dari kejahatan."

Terhadap pernyataan ini mahasiswa itu menjawab,

"Sekali lagi Anda salah, Pak. kejahatan itu tidak ada. kejahatan adalah ketiadaan Tuhan. Seperti dingin atau gelap, kajahatan adalah kata yang dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan Tuhan."

"Tuhan tidak menciptakan kejahatan. kejahatan adalah hasil dari tidak hadirnya Tuhan di hati manusia. Seperti dingin yang timbul dari ketiadaan panas dan gelap yang timbul dari ketiadaan cahaya."

Profesor itu terdiam.

Dan mahasiswa itu adalah,ALBERT EINSTEIN.

Selasa, 02 Juli 2013

Kerudung Dalam Tradisi Yahudi Dan Kristen

islampos_kerudung_yahudi

Oleh: Hj Irena Handono, Pakar Kristologi, Pendiri Irena Center
MENARIK sekali statemen Menteri Dalam Negeri Italia Giulliano Amato, beberapa waktu lalu menjawab tuntutan dari kelompok ekstrim sekuler di Italia yang menginginkan agar dikeluarkannya larangan berkerudung bagi Muslimah di Italia. Ia mengatakan demikian, “Ketika Bunda Maria senantiasa memakai kerudung, lalu bagaimana bisa kalian berharap dari saya untuk menentang kerudung kaum Muslimah?”
Dan Amato menambahkan, “Bunda Maria adalah ibu dari nabi kita Isa al-Masih dan senantiasa memakai kerudung. Bila demikian kenyataannya, bagaimana mungkin saya menyetujui pelarangan kerudung di negara ini.”

Wanita memakai busana longgar panjang dari leher hingga kaki dan memakai kerudung penutup kepala adalah suatu keumuman dari zaman ke zaman sebelum Rasulullah.  Ini terbukti dalam Bibel pun ada anjuran tegas mengenai kerudung. Dan kali ini kita akan bahas satu-persatu bagaimana pandangan kedua agama tersebut (Yahudi & Kristen) memandang kerudung (penutup kepala).

Kerudung dalam Tradisi Yahudi
Seorang pemuka agama Yahudi, Rabbi Dr. Menachem M. Brayer, Professor Literatur Injil pada Universitas Yeshiva dalam bukunya, The Jewish woman in Rabbinic Literature, menulis bahwa baju bagi wanita Yahudi saat bepergian keluar rumah yaitu mengenakan penutup kepala yang terkadang bahkan harus menutup hampir seluruh muka dan hanya meninggalkan sebelah mata saja. Dalam bukunya tersebut ia mengutip pernyataan beberapa Rabbi (pendeta Yahudi) kuno yang terkenal: “Bukanlah layaknya anak-anak perempuan Israel yang berjalan keluar tanpa penutup kepala” dan “Terkutuklah laki-laki yang membiarkan rambut istrinya terlihat,” dan “Wanita yang membiarkan rambutnya terbuka untuk berdandan membawa kemelaratan.”

Hukum Yahudi melarang seorang Rabbi untuk memberikan berkat dan doa kepada wanita menikah yang tidak menutup kepalanya karena rambut yang tidak tertutup dianggap “telanjang.” Dr Brayer juga mengatakan bahwa “Selama masa Tannaitic, wanita Yahudi yang tidak menggunakan penutup kepala dianggap penghinaan terhadap kesopanannya. Jika kepalanya tidak tertutup dia bisa dikenai denda sebanyak empat ratus zuzim untuk pelanggaran tersebut.”

Kerudung juga menyimbolkan kondisi yang membedakan status dan kemewahan yang dimiliki wanita yang mengenakannya. Kerudung kepala menandakan martabat dan keagungan seorang wanita bangsawan Yahudi.

Oleh karena itu di masyarakat Yahudi kuno, pelacur-pelacur tidak diperbolehkan menutup kepalanya. Tetapi pelacur-pelacur sering memakai penutup kepala agar mereka lebih dihormati (S. W. Schneider, 1984, hal 237).

Wanita-wanita Yahudi di Eropa menggunakan kerudung sampai abad ke 19 hingga mereka bercampur baur dengan budaya sekuler. Dewasa ini, wanita-wanita Yahudi yang shalih tidak pernah memakai penutup kepala kecuali bila mereka mengunjungi sinagog (gereja Yahudi) (S.W.Schneider, 1984, hal. 238-239).

Kerudung dalam Tradisi Kristen
Hingga saat ini para Biarawati Katolik menutup kepalanya secara keseluruhan. Di Indonesia sebelum tahun 80-an pakaian biarawati adalah jilbab, pakaian panjang longgar dari leher hingga menutup kaki serta berkerudung yang menutup leher dan dada (masih ingat telenovela Brazil, Dolcemaria). Namun era 80-an ke atas, jubah biarawati berubah menjadi pakaian panjang hanya sampai betis. Kerudung panjang menutup dada berubah menjadi kerudung hanya penutup rambut dan leher terbuka.

Padahal menutup kepala atau berkerudung, adalah sebuah tuntunan dalam Bibel yang sudah ada sejak zaman sebelum Nabi Muhammad Saw.

I Korintus 11:5 Tetapi tiap-tiap perempuan yang berdoa atau bernubuat dengan kepala yang tidak bertudung, menghina kepalanya, sebab ia sama dengan perempuan yang dicukur rambutnya.
I Korintus  11:13 Pertimbangkanlah sendiri: Patutkah perempuan berdoa kepada Allah dengan kepala yang tidak bertudung?

Bukan hanya itu, pernyataan St. Paul (atau Paulus) yang lain tentang kerudung adalah pada I Korintus 11:3-10. St Tertulian di dalam risalahnya “On The Veiling Of Virgins” menulis: “Wanita muda hendaklah engkau mengenakan kerudung saat berada di jalan, demikian pula hendaknya engkau mengenakan di dalam gereja, mengenakannya saat berada di antara orang asing dan mengenakannya juga saat berada di antara saudara laki-lakimu.”

Di antara hukum-hukum Canon pada Gereja Katolik dewasa ini, ada hukum yang memerintahkan wanita menutup kepalanya di dalam gereja (Clara M Henning, 1974, hal 272).

Sabtu, 08 Juni 2013

Manusia di Bawah Satu Agama, Akankah Dunia Lebih Damai?


Diasumsikan suatu agama berhasil menguasai dan menghancurkan agama lainnya, yang pasti dengan cara kekerasan dan peperangan, karena begitulah cara satu-satunya agar tidak ada agama lainnya.

Hingga yang tersisa adalah salah satu agama yang ada saat ini, bisa Islam, bisa Kristen, Buddha,
Katolik atau yang lainnya.
Apakah dunia akan tentram?

Jawabannya tidak, sebab diantara agama-agama yang satu agama tersebut pasti akan terpecah dengan begitu banyak versi Tafsiran ayat, berapa banyak tafsiran kata-kata yang tidak bisa dihitung jumlahnya.

Hingga mengakibatkan satu agama tersebut akan berperang lagi, pertumpahan darah lagi, hingga akan menyisakan satu versi saja, tetapi apakah satu versi tersebut akan bisa membuat damai?.

Tidak, sebab juga akan membelah lagi keberbagai banyak tafsiran lagi seperti semula, dan akhirnya perang lagi, tanpa henti, hingga semua manusia akan musnah karena hal ghaib ini.

Jadi solusinya bukanlah satu agama yang ada dibumi, tetapi justru hilangkan agama, sebab agama adalah hal ghaib yang cepat atau lambat akan menghancurkan manusia.

Bukankah perang tidak hanya disebabkan oleh agama?.

Benar sekali, tetapi minimal kita telah menghilangkan, salah satu sebab utama peperangan yang telah membuat banyak pertumpahan darah disejarah manusia di masa lalu maupun masa depan jika diteruskan!.

Dengan kita menghilangkan agama, kita hanya punya satu tujuan mulia, yaitu hak asasi manusia, semakin banyak yang sadar akan hak asasi manusia, maka akan semakin baik hak asasi manusia tersebut dan bila muncul pola fikir baru, maka akan semakin baik juga hak asasi manusia itu jadinya.

Hak asasi manusia berbanding lurus dengan kecerdasan manusia, berbanding lurus dengan kebijaksanaan manusia, berbanding lurus dengan teknologi yang ramah lingkungan, berbanding lurus dengan teknologi yang saling menguntungkan manusia lainnya.

Berbeda bila teknologi larinya ke pola fikir agamis, maka teknologi itu cepat atau lambat digunakan untuk menghancurkan agama lain, lalu setelah agama lain hancur, maka gilirannya menghancurkan umat-umat yang berbeda pendapat di agamanya sendiri, lalu akhirnya akan menghancurkan diri sendiri.

sumber: http://filsafat.kompasiana.com

Selasa, 28 Mei 2013

10 Hal Yang Terkadang Keliru Soal Agama Islam


Sebagai salah satu agama dengan jumlah pemeluk terbesar di dunia, agama Islam memang mengalami perubahan yang begitu besar dalam satu abad terakhir.

Dengan Al-Qur'an sebagai kitab suci mereka, umat Muslim sudah tersebar milyaran totalnya di seluruh dunia ini dan berhasil berdampingan dengan pemeluk Kristen, Katolik, Buddha, Hindhu, dan kepercayaan lainnya. Bahkan Indonesia menjadi negara demokrasi dengan jumlah Muslim terbesar di dunia.

Namun dalam satu dekade terakhir, seringkali beberapa orang menganggap keliru soal agama Islam seperti tudingan banyaknya pelaku teroris dunia yang beragama Islam. Sebagai pembelajaran bersama, berikut 10 hal yang terkadang keliru mengenai Islam. Baik atau buruk seseorang tergantung pada pribadinya dan kembali ke penilaian kamu.


1. Muslim Adalah Arab

Kesalahpahaman: Semua muslim adalah Arab, semua Arab adalah Muslim

Imej umum yang dianggap seringkali Muslim adalah orang Arab kulit gelap dengan surban dan jenggot yang panjang. Namun itu hanyalah bagian minoritas dari Muslim. Hanya 15% dari total pemeluk agama Islam di dunia adalah kaum Arab. Secara mengejutkan populasi Islam di dunia adalah kawasan Asia Timur (69%) dan Afrika (27%). Di Arab sendiri, populasi Muslim sebesar 75% dengan sisanya agama lain seperti Kristen dan Yahudi.

2. Poligami Dalam Islam

Kesalahpahaman: Islam membolehkan pria memiliki banyak istri

Dalam Surat An Nisa disebutkan bahwa Islam membolehkan seorang pria beristri hingga empat orang istri dengan syarat sang suami dapat berbuat adil terhadap seluruh istrinya. Namun jika tak bisa berlaku adil, maka kamu hanya bisa memiliki satu orang istri. Lagipula Nabi Muhammad s.a.w memilih istri-istri dengan harapan meningkatkan derajat sang wanita, bukan sebagai nafsu belaka.

3. Hak Anak-Anak

Kesalahpahaman: Anak-anak tidak memiliki hak

Menurut hukum Islam, anak-anak memiliki beberapa hak. Salah satunya adalah hak untuk dibesarkan, diangkat, dan diberi pendidikan. Islam dan seperti halnya agama lain di dunia, mendorong anak-anak selalu hidup dalam kebajikan dan menjadi tanggung jawab orang dewasa dan harus diperlakukan sama. Bahkan Islam juga mengatur mengenai hak warisan dari harta kekayaan orangtuanya.

4. Intoleransi Agama

Kesalahpahaman: Islam tidak menghormati agama lain.

'Bunuh Kafir' (orang yang beragama non Islam) adalah ungkapan 'mengerikan' yang dipercaya itu menjadi pegangan Muslim oleh mereka yang non Muslim. Namun dalam Al-Qur'an ada ayat yang menjelaskan bahwa Allah SWT tidak melarang Muslim untuk berinteraksi dengan pemeluk agama lain. Karena memang sebuah kepercayaan agama adalah pilihan orang itu sendiri dengan segala konsekuensinya. Kamu setuju?

5. Jihad Dalam Islam

Kesalahpahaman: Jihad selalu digambarkan dengan perang

Dalam bahasa Arab, Jihad memang berarti berjuang. Namun dalam Islam penjelasan Jihad begitu luas dan dipersempit berjuang di jalan Allah SWT. Seperti Jihad melawan hawa nafsu, jihad melalui ucapan, jihad melalui tindakan, dan jihad yang memakai pedang. Bahkan seorang Muslim yang berjihad melawan dirinya sendiri seperti saat puasa itu lebih besar daripada jihad saat perang. Termasuk seorang perempuan yang meninggal saat melahirkan, dia sudah berjihad.

6. Pernikahan Dini

Kesalahpahaman: Nabi Muhammad s.a.w adalah seorang pedofil

Disebutkan bahwa sang Nabi Besar Muhammad menikahi Aisyah ketika gadis itu masih di bawah umur. Ada yang bilang saat berusia 9 tahun atau 12 tahun meski bukti sah soal umur Aisyah saat menikah masih dipertanyakan sampai saat ini. Yang jelas dalam kehidupan modern, seseorang yang sudah pubertas (menstruasi untuk cewek, mimpi basah untuk pria) dianggap sudah dewasa dan memiliki kebebasan untuk menentukan pilihan. Tergantung kepada pemikiranmu masing-masing ya.

7. Muslim Itu Keji

Kesalahpahaman: Muslim sangat biadab dan keji ketika perang

Justru sebaliknya, jika kamu mempelajari hukum Islam yang berdasar Al-Qur'an maka disebutkan bahwa seorang prajurit Muslim harus mematuhi 10 hal saat perang seperti: tak ada pengkhianatan, tak menyimpang dari jalan yang benar, tidak memutilasi mayat, tidak membunuh anak-anak/wanita/kaum lansia, tidak merusak pepohonan/bangunan, tidak menghancurkan sekelompok musuh dan membiarkan orang-orang yang mengabdikan diri untuk kegiatan rohani.

8. Hak Perempuan

Kesalahpahaman: Perempuan tidak memiliki hak

Muslim selalu menggambarkan seorang perempuan adalah mereka yang menutupi aurat dengan kerudung dari atas kepala sampai kaki. Namun faktanya di dunia ada negara-negara modern yang membiarkan perempuan Muslim mereka bisa menjadi pemimpin dan melakukan beberapa hal yang sudah menjadi konsekuensi mereka sendiri. Bahkan kini banyak perempuan Muslim yang mencari pengetahuan sampai tinggi namun tetap seimbang dalam kehidupan rohaninya. Dan ketika menutup aurat menjadi kewajiban bagi perempuan Muslim, itu semua tergantung pada pilihan mereka yang sudah dianggap dewasa dengan segala konsekuensi yang ada.

9. Disebar Melalui Perang

Kesalahpahaman: Agama Islam disebarkan melalui pedang

Banyak sejarah mencatat bahwa Muslim jaman dulu sering melakukan perang dan menyebarkan agama melalui itu. Namun tidak ada satupun bukti sejarah yang memaksa bahwa Islam memaksa orang-orang masuk dalam kelompok mereka dengan pedang sebagai ancaman. Bahkan bangsa Mongol yang menyerang dan menaklukan sebagian besar kerajaan Islam di masa lalu justru mencoba mempelajari Islam dan beberapa orang ada yang menjadi Muslim. Jadi? Semua tergantung pada kepribadian dan pilihan setiap orang.

10. Muslim Adalah Teroris

Kesalahpahaman: Muslim adalah teroris

Mungkin ini adalah kesalahpahaman terbesar dari agama Islam. Suatu hal yang tidak adil jika kamu menuding seluruh Muslim adalah teroris hanya dengan melihat sekelompok teroris gila adalah pemeluk Islam? Yang salah bukanlah dengan Islam atau ayat-ayat yang ada dalam kitab-nya. Yang keliru hanyalah pemahaman seseorang dan pilihannya untuk menjadi pribadi yang baik atau buruk dan itu bisa terjadi kepada semua orang.

Sabtu, 25 Mei 2013

Pacaran Beda Agama, Ya atau Tidak?


PERBEDAAN keyakinan kerap menjadi batu sandungan dalam hubungan percintaan. Lantas, bagaimana seharusnya menyikapi hal ini?

Setiap orang berhak jatuh cinta. Sayangnya, kita seringkali tak bisa memilih kepada siapa jatuh cinta. Ketika cinta sedang bersemi, perbedaan pun seperti tak penting lagi. Salah satu perbedaan yang disepelekan ialah agama.

"Pada awal hubungan, kita hanya menonjolkan persamaan. Perbedaan justru dilihat sebagai sesuatu yang positif," tutur psikolog muda Fredrick Dermawan Purba pada Okezone, belum lama ini.

Demikian halnya pada perbedaan agama, yang seiring dengan berjalannya waktu jadi mulai mengganjal.

"Kita mungkin bisa bilang tidak akan serius menjalani hubungan ini, tapi ke depannya tentu tidak ada yang tahu," sambung pria yang akrab disapa Bang Jeki ini.

Masyarakat Indonesia umumnya masih menilai segala sesuatunya dari agama. Untuk itu, dosen di Universitas Padjajaran Bandung ini punya saran tersendiri.

"Ibaratnya, kalau tidak mau tenggelam jangan bermain di sungai deras. Begitu pula dengan pacaran beda agama. Sebisa mungkin lebih baik putus di awal, daripada menjalani hubungan yang kita tahu tidak akan punya akhir yang baik," tutupnya.